
"Bos," Suara Amor terdengar panik, ia juga terdengar ingin menangis membuat Aim panik juga dibuatnya.
Amor terdengar berlari tergesa gesa.
"Mor tunggu dulu, kamu tidak bisa bicara sambil lari seperti ini, aku tidak bisa mendengar dengan jelas" Suara Amor terputus putus yang Aim dengar sekarang hanya suara plakplek sandal Amor.
Amor lalu berhenti tapi ia masih menangis.
"Bos, cari Kinan!" Kata Amor panik.
"Cari kemana, ada apa dengan dia?" Mendengar nama Kinan disebut Aim pun tak bisa mengendalikan diri. Amin berfikir sesuatu yang buruk terjadi kepadanya.
"Kinan mau menggugurkan kandungannya" teriak Amor, semakin tidak jelas oleh tangisnya sendiri.
Aim benar benar merasa seperti tersambar petir, Kinan telah hilang tanpa kabar yang jelas, dan kini datang dengan kabar mengejutkan.
"Apa?" Bentak Aim, Dia terkejut bukan main,..
Aim lalu bergegas terburu buru menuju parkiran.
"Kinan tak boleh melakukan ini, Kinan tidak boleh menggugurkan kandungannya" ucap Aim.
"Dimana dia sekarang Mor?" Tanya Aim.
"Aku tidak tau, aku juga tidak tau dia dimana" Amor ikut berteriak panik.
"Dari mana kamu tau Kinan akan menggugurkan kandungannya?"
Tanya Aim tak sabar.
Selepas keluar dari parkiran Aim tancap gas lalu melesat membelah jalan yang mulai sepi.
"Tadi dia menelpon dan mengatakan ingin menggugurkan kandungannya"
"Tapi kenapa dia mau melakukan itu?"
"Aku tidak tau," Amor terisak dan berteriak, "Dia tidak menjelaskan apa apa, dia hanya menelpon, menangis lalu mengatakan ingin menggugurkan kandungan dan menutup telponnya" kata Amor.
"Mor, aku tidak tau harus mencari Kinan kemana aku juga tidak mengetahui jejak dia dimana. O ia Mor, kamu kirimkan no telpon yang masuk tadi aku suruh seseorang melacak, barangkali Kinan belum jauh dari lokasi itu" Amor mangangguk.
Lalu mengirimkan no yang Aim minta.
"Halo Gun," terdengar Guna menyahuti dengan malas.
"Jemput Amor sekarang, bantu aku cari Kinan. Oh ia aku akan mengirimkan satu nomor, cari seseorang yang bisa melacak nomor, sekarang!"
"Baik"
Sambungan telpon terputus.
Ditengah Kota Aim terus menyisir satu persatu wartel yang, yang Amor katakan Kinan tidak menelpon lewat nomor pribadi.
Keluar dari wartel Kinan berjalan hampa dengan air mata berjatuhan, berjalan menuju sebuah mini market yang terletak tak jauh dari wartel tempatnya menelpon.
Ternyata selama Kinan menghilang dia telah disekap oleh Mina didalam rumahnya,
kabar kehamilan yang dibawa Amira menjadi sebuah pintu besar untuk kembali menjadikan Kinan sebagai menantu keluarga Hadiwijaya, keluarga konglomerat menengah yang lama diidam idamkannya.
Kehamilan Kinan dijadikan alat untuk menaiki puncak kekayaan Hadiwijaya, Mina berniat melaporkan kehamilan itu dan meminta pertanggung jawaban Dirga dengan menikahi Kinan.
Sebenarnya saat Mina menemui Dirga di tahanan, Dirga sudah mengatakan kalau kehamilan Kinan bukan karenanya, Dirga bahkan bersumpah tidak pernah menyentuh Kinan barang sejengkal pun. Dirga sendiri malah sempat terkejut saat mendengar kehamilan Kinan dari Mina.
Dirga juga menolak untuk bertanggung jawab karena menurutnya anak yang dikandung itu bukan anak biologisnya, Dirga sangat meyakini itu.
Pernikahan dadakan akan digelar besok, sore tadi Mina baru memberitahu kabar pernikahan itu kepada Kinan.
Sempat terjadi percekcokan antara Mina dan Kinan.
Kinan bersikeras menolak pernikahan dia juga mengatakan kalau anak yang dikandungnya ini bukan anak Dirga.
Tapi Mina tidak perduli Mina yang sudah kalap oleh harta tidak mau perduli mengenai apapun yang terjadi yang dia pikirkan hanya memenuhi mimpinya menjadi besan orang kaya.
Disitulah Kinan mengancam akan mengugurkan kandungannya, Kinan bilang, "Tidak akan ada siapapun yang memiliki anak ini, jika bukan ayah kandung yang mengakuinya maka aku akan mengugurkan kandungan ini! Supaya Dirga atau pun Mamah tidak mengambil keuntungan dari anak yang akan aku lahirkan" teriak Kinan.
Mendengar ancaman yang dilontarkan Kinan Mina tak mau ambil resiko. Mina lalu bergegas mengambil tali dan dan mengikat Kinan, Mina tidak peduli apa yang akan terjadi selanjutnya Mina hanya menginginkan pernikahan, setelah Kinan resmi menjadi menantu Hadiwijaya Mina tidak perduli mau diapakan kandungan Kinan itu.
Malam kemudian dengan usaha yang keras Kinan berhasil melepaskan tali yang mengikatnya Kinan lalu diam diam keluar dari rumah Mina setelah menggeledah dan mendapatkan uang yang dia inginkan untuk membeli obat aborsi.
Kinan mulai masuk kedalam mini market mengambil beberapa minuman berlogo 'Ki...ti' minuman yang diketahui pelancar haid.
Kinan tidak pernah tau seberapa ampuh minuman ini, namun jika meneguknya dalam dosis besar Kinan yakin akan ada efek samping yang diinginkannya.
Karena keegoisan Mina, Kinan jadi buta dan ingin membunuh anaknya sendiri.
Kinan meraih botol dari pajangan dengan didorong emosi dan tak bisa berhenti menangis.
Lima botol yang dibeli Kinan. Setelah membayarnya Kinan lalu keluar dan duduk dikursi pelataran yang disediakan pihak minimarket.
Kinan berdiri ditemopat sepi untuk bersiap meminum obat yang tadi dibelinya. tetapi Kinan sempat ragu ragu untuk melakukan itu, Kinan sangat menyayangi kandungan ini tapi Kinan tidak ingin menjebak siapapun, Kinan juga tidak ingin dinikahkan dengan Dirga, terlebih dari itu Kinan juga tidak tau siapa ayah dari anak yang sedang dia kandung kini.
Kinan masih menangis tak rela, Kinan juga berulangkali mengucapkan maaf.
'Maafkan ibu Nak, maafkan Ibu.
Pertemuan kita terlalu singkat, semoga kita nanti bisa bertemu lagi.
Ibu terpaksa melakukan ini.
Kamu harus tau kalau ibu sangat mencintai kamu melebihi apapun.'
Ucap Kinan sambil membelai perutnya.
Tak ada pilihan lain selain menggugurkan kandungannya. Saat membuka tutup botol Kinan terus menangis tidak rela, selain itu Kinan juga tau mengugurkan kandungan sama berdosanya dengan membunuh satu jiwa manusia, Kinan sangat tidak ingin melakukan itu, tapi apa boleh buat Kinan tidak mau dipaksa menikahi Dirga.
Dengan air mata yang terus berderai Kinan mengangkat botol lalu siap menenggaknya. Kinan tidak bisa berhenti menangisi keputusannya ini.
Kinan hampir menenggak, tapi sebelum itu seseorang merampas dan melemparkan botol yang dipegangnya.
Kinan terbelalak.
Kinan terkejut lebih terkejut lagi saat melihat Aim telah berdiri dihadapannya, merampas botol yang akan diminumnya lalu melemparnya kesembarang arah.
Aim berhambur memeluk Kina sambil menangis, "Kamu tidak boleh melakukan itu Nan, kamu tidak boleh melakukan itu,"
Keduanya saling memeluk sambil menangis tergugu.
"Kamu tidak boleh melakukan itu oke" Aim menangkup kedua belah pipi Kinan. Kinan hanya mengangguk kecil, Aim lalu kembali memeluknya, membelainya dan menciumi pucuk kepala Kinan.
"Tapi aku tidak mau me....
Aim memotong "Aku akan menikahi kamu, aku akan bertanggung jawab, kamu harus dengar itu, kamu tidak perlu takut"
Kinan balas merangkul Aim.
Tapi Kinan tidak mendengarkan dengan jelas kalimat yang diucapkan Aim barusan.