
"Lihat apa yang kamu lakukan Im" kata Arman lirih tapi penuh dengan nada kecewa tanpa menoleh kepada Aim yang berdiri dibelakangnya. Saat ini Arman sedang membawa Aim kesebuah ruangan untuk berbicara. Arman marah karena Aim terburu buru mengambil tindakan (Perceraian).
"Apa yang Aim lakukan Yah?"
Aim menolak untuk dipersalahkan, tapi Arman terus menganggap semua ini Aim lah penyebabnya.
"Liza bilang sebelum Dheo pingsan, Liza mendengar Dheo bertengkar dengan Shina. Pertengkaran yang terjadi kamu kan penyebabnya Im" Arman sekilas melayangkan tatapan elang penuh amarah kepada Aim.
"Kenapa aku Yah? Kenapa setiap kali ada masalah aku yang jadi sasaran?, aku yang disalahkan? Padahal Ayah sudah tau siapa penyebab semua ini tapi Ayah menutup mata, telinga, menganggap yang orang lain lakukan benar!" Kata Aim sedikit meninggikan suara dari biasanya.
"Karena kamu telah memutuskan untuk bercerai, maka lihat! Lihat apa yang terjadi Im, Dheo masuk rumah sakit, apa semua ini mudah bagimu Im? Sehingga kamu merasa leluasa melakukan segala hal?" teriak Arman.
"Lalu sekarang aku harus bagai mana?" Suara Aim melemah "Menjadi kucing piaraan? Menjadi seekor koi didalam tabung kaca? Diam, menurut, dan hanya menjadi hiasan! Apa dengan begini Ayah bisa tenang? Ayah Dheo bisa sembuh? Dan Shina bisa menjadi yang kita mau? Tidak Yah tidak. Lihat di dua tahuh terakhir, apa ada perubahan?. Aku muak saat harus mengakui ini, aku seperti lelaki tak berguna, lelaki pengemis, lelaki hina, tidak dihargai, tapi aku harus terus bertahan seolah aku menginginkan ini semua!"
"Didepan kamera, didepan dunia aku harus selalu mengembangkan senyum, menggandeng Shina dengan bangga menunjukkan pada dunia betapa harmonisnya hubungan kami. Mereka sangat kagum, mereka iri, tapi mereka tidak tau apa yang aku rasakan, dihina dicaci dan diinjak injak itu yang paling membuat aku muak. Dan sekarang ketika Ayah Dheo masuk rumah sakit aku juga yang disalahkan apa aku harus menanggung semua beban pernikahan ini?. Lagi pula ayah salah paham, aku tidak melakukan hal seperti yang ayah fikirkan"
Arman menoleh cukup lama kepada Aim.
"Setelah terjadi begini? Apa lagi yang harus aku tunggu?, Bicara dengan baik baik, mungkin ayah Dheo akan lebih mengerti dari pada Ayah ku sendiri" kata Aim, dia lalu melengos pergi meninggalkan Arman.
"Im. Apa yang akan kamu lakukan Im, Im" Arman terus memanggil tapi Aim tak perduli, ia terlanjur kecewa dengan sikap Arman.
...
"Apa aku penyebab ayah masuk rumah sakit?" Gumam Aim.
Aim berdiri dengan tangan mengusap kaca ruang Dheo dengan perasaan hampa,
"Andai kemarin Aim tidak mengatakan itu mungkin Ayah saat ini akan baik baik saja" Aim tak bisa berhenti menyalahkan dirinya, sedikit banyaknya ucapan Arman menyadarkan Aim akan kata katanya kemarin kepada Dheo.
..
"Naaannn" Amor terburu mendatangi Kinan, Amor sudah cukup lama mencari, setelah berputar putar Amor akhirnya menemukan ruangan Kinan.
Kinan yang baru sadar beringsut mundur lalu menyandarkan punggungnya. Meringis merasakan pusing yang menjalar dikepalanya.
"Aku kenapa Mor?" Kinan menatap sekeliling, ruangan beraroma obat yang cukup menyengat "Kenapa aku disini?"
"Kamu pingsan nan" Jelas Amor, Kinan sedikut ingat saat terakhir sebelum dia ada disini.
"Aku pingsan?" Kinan mengurut dahinya yang terasa pening. Amor mengangguk kecil.
"Nan, apa kamu sudah merasa baikan?" Tanya Amor, raut khawatir masih belum luntur diwajah Amor meski saat ini kesadaran Kinan sudah kembali.
Kinan mengangguk.
"Apa kata Dokter? Aku sakit apa? Aku boleh pulang'kan?" Tanya Kinan berturut turut.
Kinan beringsut hendak turun dari blankar.
"Mau kemana?" Amor menahan Kinan.
"Aku mau pulang aja, Mor" -Kinan.
"Tunggu dulu," pinta Amor.
"Aku nggak bisa Mor, aku malas berlama lama disini" tolak Kinan.
"Ia, tapi setidaknya tunggu sampe Dokter memberi saran, aku takut sakit kamu parah dan harus dirawat inap, tunggu saran dari Dokter Ok" Amor masih coba membujuk.
"Baiklah" pungkas Kinan pasrah, setelah perdebatan itu Kinan akhirnya mau duduk menunggu sebentar lagi.
Amor mondar mandir resah menunggu panggilan dari Dokter untuk menjelaskan penyakit Kinan ini.
"Mor kira kira aku sakit apa?" Pertanyaan Kinan manambah kegelisahan di diri Amor.
"Keluarga Nona Kinan" seorang suster membuka pintu sambil memanggil. Amor bergegas memenuhi panggilan "Dokter meminta satu orang keluarga datang ke ruangan" jelasnya.
Amor lantas mengikuti perintah Suster.
Ini saat yang ditunggu tunggu saat saat menegangkan, Amor gugup saat Dokter menyerahkan selembar kertas berisi data kesehatan Kinan serta riwayat penyakit yang dialaminya saat ini.
Dokter tak banyak bicara hanya memberikan selembar kertas sambil tersenyum dan menjabat tangannya, mengatakan "Selamat"
Kalimat ini Amor tidak bisa mengartikannya dengan jelas, apa kalimat itu berarti ucapan selamat atau ucapan lain untuk menutupi kekhawatiran Amor. Entahlah. dengan wajah bingung Amor pamit keluar.
Setelah keluar dari ruangan Amor dengan perasaan tak sabar seger membuka dan membaca hasil rekaman medis milik Kinan.
Seketika tubuh terasa kaku ada kesedihan dan tidak percaya, Amor masih mencoba menyangkal pernyataan yang keluar.
Air mata Amor terkumpul dipelupuk mata, masih membaca dan mengulanginya secara teliti barangkali dia salah melihat.
Amor lalu mengangkat handphonenya, dengan berat harus menelpon Aim. Seperti yang Aim minta.
Dadanya terasa sesak ingin menangis namum masih coba ditahannya,"Bos, hasilnya sudah keluar" setelah ada sahutan Amor kemudian mematikannya.
Dengan berat Amor kembali ke ruangan Kinan, fikiran Amor terasa kebas sesaat setelah membaca kertas dari dokter hingga kini.
"Mor, kamu sudah mendapatkan hasilnya?"
Kinan masih tersenyum.
Amor berjalan dengan lunglai.. sebagian raganya telah hilang saat membaca hasil itu.
Kini Amor dibuat bingung harus bagaimana menyampaikan kabar ini kepada Kinan.
"Kenapa wajahmu ditekuk begitu?" Tanya Kinan dengan terkikik.
Amor tidak menjawab, malah semakin mengeratkan pegangannya pada kertas putih ditangannya.
Mata Kinan terarah pada kertas yang digenggam Amor, melihat mata Amor tampaknya ada sesuatu yang buruk telah terjadi.
Kinan merebut kertas itu dari tangan Amor, Kinan merasa tak sabar ingin membukanya. Reaksi Amor mendorong Kinan untuk segera tau hasilnya.
Amor menatap Kinan yang sedang membaca dengan hancur, Amor menyiapkan hatinya untuk melihat reaksi Kinan selanjutnya. Air mata Amor telah jatuh saat melihat Kinan membaca hasil dengan tersengal-sengal. Amor tau ini bukan yang Kinan harapkan saat ini.
Wajah Kinan masih bersemu riang sehabis menggoda Amor kini lenyap, mata mulai layu bibir mengecut sedih.
Saat semakin jauh membaca, Kinan tiba tiba menjatuhkan tubuhnya keblankar dengan keras menangis tergugu dengan kertas dipeluknya.
"Kenapa aku terlambat menyadari, kenapa harus terjadi hal seperti ini," Kinan terus menangis sambil memukul mukul blankar, "Harusnya dari awal aku sudah tau ini akan terjadi, kenapa aku terus membiarkannya"
Amor yang melihat Kinan menangis juga melakukan hal yang sama, "Nan" merangkul dan memeluknya.
"Aku ada disini, kamu jangan sedih ya, kita hadapi ini sama sama"
"Tapi aku harus bagai mana Mor? Kamu pasti berfikir aku wanita murahan'kan? Wanita nggak punya harga diri, wanita liar"
"Enggak Nan enggak,"
Kinan masih menangis dipelukan Amor.
"Kamu perempuan baik baik Nan, aku tau itu ini hanya sebuah kecelakaan, kamu harus bisa menerima ini Ok" Amor membelai lembut rambut Kinan.
Amor melepaskan pelukannya, Kinan bangun dari terbaringnya "Aku bantu kamu bicara sama Dirga ya, kamu harus tenang"
Kinan menggeleng, Air matanya malah semakin deras. "Semuanya akan baik baik aja" imbuh Amor.
Amor tidak tau yang telah terjadi sebenarnya.