
"Ini molor atau mati?"
Kinan frustasi melihat itu, Aim benar benar si tukang molor yang gila, apa yang harus dia lakukan? Sementara petugas sudah berkerumun dan menunggu masuk kedalam kamarnya, parahnya Kinan belum sempat mempersiapkan keadaan dan Aim malah tidak bisa diajak kompromi.
Jika petugas berhasil masuk dan mendapati Kinan bersama seorang lelaki, itu berarti mau tak mau Kinan harus rela diseret ke kantor polisi, diintimidasi dan berakhir pada dikeluarkan dari tempatnya berteduh sekarang, nama baik dirinya dan Aim akan tercoreng, dan buruknya lagi dia dan Aim bisa dipaksa mengaku dan dipaksa menikah saat itu juga.
Kinan menjerit dalam diam saat pintu kamarnya mulai terdengar ada hentakan (dobrakan) keras.
"Bos," Kinan merintih, "Bos"
"Kinan, Kinan, Kina," ibu kost terdengar memanggil-manggilnya.
"Nan," teriaknya lagi.
Ibu kost pasti akan sangat kecewa pada dirinya jika tau dirinya memasukkan lelaki kedalam kamar.
"Kenapa segala sesuatu harus berjalan tidak tepat sih?" Kinan mulai berfikir kesal.
"Kenapa pemeriksaannya nggak besok aja? Kenapa harus sekarang? Kenapa harus saat ada Aim? Ya tuhan.. ini harus bagai mana?"
Kinan benar benar takut. Kalau bisa saat ini Kinan ingin menghilang saja dari muka bumi, atau lari saja tapi kemana? Satu satunya pintu yang bisa digunakan untuk keluar dan masuk adalah pintu yang saat ini sedang mereka dobrak. Kinan harus pasrah dan menyerahkan semuanya pada takdir.
Menoleh ke arah pintu yang pengaitnya hampir terlepas oleh petugas, membuat Kinan benar benar ingin menangis sambil meneriaki Aim.
Braggghhh.. pintu terbuka, Kinan yang sedang duduk terkesiap menatap kedatangan para petugas yang siap mengintimidasinya.
Tapi beruntung saat Kinan hampir diintrogasi hujan turun masuk melalui celah kedalam kamar kostnya, Kinan terheran dan terbelalak saat tiba tiba hujan yang deras turun diantara mereka membasahi wajah dan menghalangi penglihatan para petugas, Kinan sangat bersyukur berkat hujan petugas mundur dari meng-introgasinya.
Meski sekujur tubuh telah basah tapi Kinan bisa tertawa lega.
"Kinaaaaaan" seseorang berteriak lagi. Tapi Kinan tidak perduli, saat ini dia hanya ingin bersyukur karena tuhan telah mengirimnya hujan.
"Kinaaaaannn, woiii" Kinan mendengar ada teriakan lagi.
"Hebat banget ini orang, udah aku guyur pun masih ketawa aja, apa sih yang ada di mimpinya?" Heran Amor.
Tak tahan melihat kelakuan Kinan Amor lantas berteriak kembali kali ini lebih dekat ditelinganya "Kinaaaaaan!"
Kinan mengerejab dan bangun terkejut karena teriakan Amor.
"Bos, Petugas petugas, sembunyi."
Kinan tampak linglung, menoleh kiri kanan seperti ada sesuatu yang hilang darinya.
"Apa yang kamu cari Nan? Petugas? petugas apaan? " Tanya Amor, Amor mengikuti gerak kepala Kinan menoleh kiri kanan.
Beberapa saat kemudian Kinan mendesah lega.
Amor terus kebingungan melihat perilaku aneh Kinan.
"Ada yang hilang?" Tanya Amor masih berkerut dahi.
"Lelaki itu sudah pergi?"
Kinan tersenyum kecil dan kembali mendesah senang,
"Itu tadi berarti hanya mimpi" Kinan tersenyum lega, membuat Amor semakin bingung saja, Amor mencium sesuatu yang janggal terjadi pada temannya ini.
Penasaran akan keadaan Kinan Amora lantas menempelkan punggung tangannya ke dahi Kinan, mengecek barangkali dahinya bermasalah.
"Kamu nggak lagi sakit 'kan Nan?" Tanya Amor, setelah memastikan dahi Kinan baik baik saja. Amor benar benar khawatir karena Kinan saat ini terlihat begitu mempertanyakan.
Kinan menggeleng penuh yakin.
Kinan kembali menoleh kiri kanan, kembali memastikan bahwa yang terjadi padanya adalah mimpi.
"Kamu disini Mor," Kinan baru sadar akan kehadiran Amor, "Udah lama?" tanyanya datar, sepertinya Kinan tidak menyadari sesuatu yang telah dilakukan Amor padanya.
Mata Kinan lalu beralih menilik dirinya, "Ekh kenapa aku basah begini? kenapa rambutku basah?" mencubit dan menyisirnya heran.
Apa tadi benar benar hujan?"
"Hujan apanya?" Amor semakin mengernyit saja.
"Gayung itu buat nampung air hujan kan? Dan lihat aku aku basah Mor" -Kinan.
"Nggak ada hujan Nan, cepat bangun dan pergi mandi!"
"Nggak ada hujan?" Kinan berfikir, "Apa kamu menyiram ku Mor?"
"Sedikit" kata Amor tanpa menoleh kepada Kinan.
Mendengarnya Kinan sontak berteriak geram, "Amoooorrr!"
Amor membalas dengan senyum jahat "Aku tunggu diluar, cepat!" -Amor.
"Emang kita mau pergi kemana?" -Kinan berteriak.
"Kemana aja, cepat aku buru buru" -Amor berteriak.
Sebelum mendatangi Kinan, Amora sempat mendapat notif m.banking.
Setelah notif masuk, seseorang dengan id tersembunyi menelponnya, meminta Amora membelanjakan uang yang ia transfer hingga habis.
Tapi sang penelpon meminta uang itu sepenuhnya digunakan bersama Kinan, seberapa nominal yang Kinan pakai untuk membeli sesuatu Amor juga berhak mengambil dengan nominal yang sama.
Amor sempat melongo saat mendengar telpon itu, tidak percaya juga sempat mengatainya sedang bercanda. Tetapi notif M.banking yang ia terima menguatkan bahwa orang itu tidak sedang mencandainya.
..
Pukul 10:00.
Mila telah stay ditempat yang Kinan tentukan, Mila sengaja datang lebih awal, demi menunjukan keseriusan dalam pertemuannya ini. Perasaan tidak ingin membuat Kinan kecewa jika harus menunggu dirinya.
Mila telah menunggu sekitar 30 menit dengan resah dan khawatir, khawatir Kinan akan mengingkari janji pertemuannya.
Mila terus menoleh kiri kanan berulang kali mengecek handphonenya dan berniat melakukan panggilan kepada Kinan.
Tepat pukul sepuluh datang seorang lelaki tampan cukup muda stelan pakaiannya cukup elegan aura kehormatan terpancar dari wajahnya.
Saat mulai menghampiri Mila tak bisa mengalihkan perhatiannya dari wajah lelaki tersebut.
Mila cukup lama memerhati langkah lelaki yang tampaknya mendekat ke mejanya, Mila juga bertanya dalam hati 'Siapa lelaki ini, kenapa berjalan ke sini?'
Mila benar benar terheran, dia merasa tidak melakukan perjanjian dengan lelaki manapun.
"Dengan Ibu Mila?" Tanya lelaki yang kini telah duduk didepannya ini.
Mila mengangguk dengan wajah penuh tanya, Mila juga sempat bingung bagai mana bisa lelaki ini mengenalnya.
Lelaki yang ternyata adalah Aim itu mengasong'kan tangan untuk berjabat, "Heru" kata Aim, sengaja menyamarkan namanya agar Mila tidak terkejut nantinya.
"Heru?" Mila benar benar tidak bisa memahami situasi saat ini.
"Ee. Maaf, sebelumnya mungkin ibu bertanya kenapa saya datang kesini"
Mila memberi anggukan.
"Saya datang kemari untuk mewakili klien saya yang bernama Kinan, hari ini beliau berkenaan hadir untuk itu beliau mengutus saya dan menugaskan untuk menjawab dan menyampaikan apapun yang ingin ibu sampaikan kepada beliau".
"Tunggu.. Ini bukan pertemuan casual kenapa Kinan harus mengutus orang lain. Dengar! aku hanya ingin bertemu Kinan aku hanya ingin berbicara empat mata dengan dia" Mila mulai ngotot, "Lagi pula ini masalah pribadi orang lain mana boleh ikut campur"
"Baik, kalau ibu tidak bisa mempercayai saya itu tidak masalah, tapi ibu Mila harus ingat satu hal, sekarang ini Kinan akan sangat sulit ditemui. Lagi pula beliau telah mengutus saya itu berarti beliu telah mempercayai saya untuk segala hal yang menyangkut beliau, beliau memberikan hak sepenuhnya kepada saya untuk ikut ambil dalam segala masalah terhitung pribadi sekalipun"