Oh My Boss.

Oh My Boss.
71



Mengikutinya diam diam dibelakang.


Tanpa curiga Aim mengikutinya sampai Anton masuk kedalam kamarnya.


Aim curiga Shina berada didalam kamar yang sama, Aim memutuskan untuk menunggununya diluar.


Sebenarnya Aim tidak benar benar percaya Shina akan setega itu terhadapnya.


Tapi...


Tiga Jam kemudian.


Benar saja Shina keluar dari kamar yang sama, diikuti Anton dibelakang.


Anton dan Shina bercengkrama mesra layaknya pasangan yang saling suka rela.


Berjalan bergandengan seperti pasangan suami istri yang hangat.


Ada rasa cemburu ketika melihat Shina bergandengan dengan Anton, cemburu bukan karena mencintai Shina, tapi cemburu terhadap sikap Shina yang membencinya secara berlebihan, dan tak lagi manis seperti sebelum menikah tepatnya saat Aim menjadi kakak dan Shina menjadi adik.


Bila Shina tidak bisa mencintai dirinya, Aim bisa terima, tetapi membawa lelaki lain kedalam ruang impiannya, Aim sungguh merasa direndahkan yang tidak ada bandingannya.


Ini lebih sakit dari penghianatan yang dilakukan Shina selama ini.


Aim mematung dibelakang Shina yang terus berjalan menjauhinya.


.


"Permisi" Setelah Shina tak lagi kelihatan Aim memutuskan untuk mendatangi resepsionis.


"Ya. Ada yang bisa saya bantu" ucapnya sopan.


"Kamar suite no 37. Saya ingin memesan kamar tersebut" -Aim.


Resepsionis kemudian mengecek dapat dalam komputer yang ia miliki.


"Mohon maaf. Kamar Suite no 37 masih berada dalam pesanan" -Jelas Resrpsionis, "Dengan pesaan atas nama Shina Altae." Imbuh Resepsionis, berikut menyebutkan nomor pesanan hingga sampai kapan Shina menyewa kamar tersebut.


"Sangat disayangkan," Keluh Aim berpura pura, "Padahal saya sudah berjanji kepada istri akan menyewa kamar Suite yang paling dekat ke bibir pantai"


"Ooh. Kami minta maaf yang sebesar besarnya. Mungkin Bapak bisa memesan kamar lain yang tak kalah menariknya dengan kamar Suite 37 ini. Berikut beberapa kamar Suite yang banyak diminati selain kamar no 37" Resepsionis coba membujuk, tapi Aim langsung mengatakan tidak.


Karena memang bukan itu tujuannya, Aim hanya ingin tau berapa lama Shina akan tinggal sana.


"Baiklah, saya rasa istri saya tidak akan cocok dengan kamar manapun. Terimakasih atas informasinya" Aim gegas keluar.


Aim duduk ditemani udara sejuk pantai yang menampilkan semburat jingga pertanda petang menjelang.


Belitung, Indonesia.


Adalah mimpi yang lama ia nanti, membawa pasangan menikmati indahnya matahari tenggelam menyambut malam indah yang akan dilewati bersama. Bercerita tentang hari yang telah dijejaki, merencanakan hari esok yang telah dinanti. Merancang mimpi, meraih dan menikmati pahit manisnya bersama.


Disinilah Aim ingin mengawali hidup itu bersama pasangannya dan melanjutkannya dengan sumpah setia ombak dan pantai.


Berkali kali menghirup dan mengeluarkan udara berharap di hitungan ketiga Aim bisa melupakan perlakuan buruk Shina, mencoba menelan pil pahit yang dipaksa masuk kedalam mulutnya.


*Shina, selama ini aku terus berusaha menerimamu dalam hidupku, walau semua itu sangat bertentangan dengan yang diinginkan perasaanku, warasku mencoba memaafkan semua yang kamu lakukan, membiarkan kamu melakukan apa yang kau mau. Namun, detik ini aku ucapkan selamat tinggal. Tak ingin lagi berharap, tak ingin lagi mencoba menerima, tak akan ada lagi usaha cinta yang tak pernah menjadi cinta.


Shina, aku mulai pergi dari kehidupanmu. Aku pamit mundur seketika.


Jangan cari aku.


Hhaa.. seharusnya aku tidak perlu mengatakan ini untukmu, karena kamu tidak akan pernah merasa kehilangan lalu mencari ku.


Shina, aku rasa, kamu telah menemukan cintamu. Dari awal hingga akhir dialah yang kamu inginkan*.


Sekarang aku pun akan mendatangi cintaku.


*Maaf karena telah mengganggumu dengan menerima pernikahan yang tidak pernah kau inginkan ini.


Aku akan jalan maju kepada cintaku, dan kamu hiduplah dengan cintamu*.


Aim berkata pada ombak yang menepuk pantai.


Aim tidak pernah merasa sefrustasi ini dalam berhubungan.


Kriiiiiiinggggggg..


Lamunan Aim terpatahkan oleh suara dering telpon.


Aim merogohnya kedalam.


"Halo, Guna. Ada apa?"


Suara Aim tak bersemangat.


"Bos, kita kalah tender" ucap guna penuh sesal.


Sebelum memutuskan mengikuti Shina, Aim harusnya berada diruang rapat. Memimpin perusahaan yang Aim rintis sendiri, namun Guna ikut serta dalam pengembangan bisnis ini.


Guna merasa gagal dan itu membuatnya sedih.


"Ada yang lain Gun?"


Tanya Aim memastikan kalau tidak ada lagi yang akan Guna sampaikan. Perasaan hancur membuat Aim tak ingin banyak bicara.


"O ia, tadi Kinan menitip pesan"


"Apa yang dia bilang?"


"Dia bilang malam ini akan kembali ke kos kosannya" jelas Guna.


"Oh. Apa yang kamu bilang padanya Gun?" -Aim.


"Aku hanya bilang ada baiknya menunggu telpon dari Bos" -Guna.


"Mm. Telponlah lagi! bilang untuk menungguku sebentar"


Aim masih malas untuk berkata kata.


"Baik Bos"


Guna lalu memutus sambungan.


Malam kemudian.


Kinan mulai bosan hanya berguling-guling. Tinggal ditempat luas dan mewah sendirian ternyata sangat membosankan.


Membaca, menonton tak cukup untuk mengusir jenuh.


Waktu menunjukkan pukul 21:5, tapi Kinan masih belum mengantuk, seharian tidur membuat matanya tetap melek meski sudah waktunya beristirahat.


Kinan menoleh kearah pintu beberapa kali, berharap Aim datang dan dirinya bisa segera pulang.


Tapi Aim tak juga muncul.


Disela itu perut Kinan mulai tidak bisa dikondisikan, lapar mengganggu.


Rasa lapar mendorong Kinan menggeleda dapur.


Karena tidak ada makanan jadi terpaksa Kinan berkreasi sendiri.


Kebetulan tadi Guna datang memasukkan berbagai macam bahan makanan kedalam kulkas, jadi Kinan bisa membuat ini itu semaunya.


Asal menghindari bawang putih tampaknya semua akan baik baik saja.


Kinan pun mulai berkutat. Selain menyenangkan setidaknya waktu Kinan banyak terpakai untuk urusan itu, dan jenuh pun perlahan hilang.


Karena terlalu asyik dengan banyaknya bahan yang disediakan, Kinan sampai lupa telah memasak beberapa macam menu ikan dan sayuran.


Dari mulai udang, ikan goreng, ayam dan sapi tak luput dari itu sayur dan tumisan.


Saat satu persatu menghidangkannya ke atas meja makan Kinan sampai tertawa sendiri melihat banyaknya menu yang ia buat.


"Ahhh.." Kinan menepuk dahinya bodoh.


"Bagai mana aku menghabiskan makanan ini?"


Makanan yang terhidang sangat banyak, bahkan perut tiga orang sekalipun tidak akan mampu menampungnya.


Melirik waktu menunjukkan pukul 23:15.


Kinan memasak sampai lupa waktu.


Setelah lelah memasak, menikmatinya menjadi bagian terpenting untuk dilakukan.


Setelah mencicipnya sedikit, Kinan bergegas mengambil piring.


Ah terserah saja kalau aku dibilang lancang, lagi pula Asisten Guna menyuruhku tadi.


Fikir Kinan.


Ting tung, ting tung.


Bel dipencet berkali-kali, Kinan yang hampir menyendok nasi mengurungkan niatnya, terlebih dahulu melihat siapa yang datang.


"Sepertinya bukan Guna atau pun Aim, kalau itu mereka harusnya tidak perlu memencet bel malam malam begini, tapi siapa?" fikir Kinan bertanya-tanya.


Berjalan gontai meraih gagang pintu.


Kinan terkejut saat membuka pintu, tiba tiba seseorang meloncat kepelukan dan langsung memeluknya erat.


Kinan tak bisa berbuat banyak, tenaganya cukup kuat, Kinan pun tidak sempat melepaskan diri dari dekapan lelaki yang tiba tiba merangkulnya begitu saja.