
Si ibu dengan antusias pergi sebentar untuk menanyakan nama pemilik perusahaan kepada menantunya.
Tapi si menantu tampak kurang begitu tau nama pemilik perusahaan.
Si ibu kembali dengan wajah penuh sesal.
"Dia sepertinya kurang tau, siapa nama Bos di perusahaannya. Biasalah, orang kaya memang selalu menjaga jarak dengan kami. Meskipun kami adalah kaki tangan yang membuatnya meroket tapi sama saja, rasa terima kasih mereka tidak sebesar pengorbanan kami sebagai pekerja"
Kinan tak terima dengan pernyataan tersebut, menyangkal dengan halus, "Ah sayang sekali. Padahal, dia sangat baik pada karyawannya, dia juga sesekali menyapa kami di tempat kerja. Dia ramah dan...
"Memangnya kau pernah bertemu dengannya?" Potong si ibu dengan wajah tak percaya,
"Ya. Tentu saja,"
"Kudengar dia sangat kejam dalam memperkerjakan pegawainya, dia seringkali melakukan segala hal sesuka hatinya. Kata menantu ku dia juga seringkali bersikap arogan. Bos macam itu sangat menakutkan, tak akan banyak pekerja mau betah bekerja dengan mereka" kata si ibu, penuh cerca.
Kinan kembali diam meraut hatinya yang kalang kabut karena kesal.
Mudah sekali ibu itu berkata buruk, padahal yang dia katakan dia sendiri tak tau kebenarannya.
.
Di luar Aim kelimpungan mencari ruang tunggu pengecekan kandungan, lamanya Aim mencari sampai sampai Aim berfikir bahwa orang yang bersamanya tadi telah menipunya.
Gila sekali, dalam suasana resah begini handphonenya malah hilang jaringan hingga menyusahkannya untuk melakukan panggilan dengan Kinan.
Waktu telah menunjukkan pukul 15:16 menit. Aim semakin resah, karena mungkin akan melewatkan kontrol pertama jabang bayi yang sangat di sayangi nya.
Tapi untungnya beberapa menit kemudian Aim melihat bapak yang di srempetnya tadi, tapi bapak itu kini telah berganti kostum, memakai mantel putih khas kedokteran, berjalan disampingnya seorang Suster sebagai asistennya.
Bapak tersebut tampak terkejut saat melihat Aim, "Kau sudah menemukan istrimu?" Tanyanya tampak keheranan.
"Belum, apa mungkin istri saya tidak melakukan pengecekan kandungannya si sini? Atau mungkin dia sudah pulang?" Tanya Aim menerka-nerka.
Bapak itu tersenyum sambil menggeleng, "Dia terdaftar sebagai klien saya, dan saya rasa dia juga masih di sini." Aim mengernyit setengah tidak percaya, "Mari ikuti saya" ajak si bapak dengan ramah.
Tanpa basa basi Aim gegas mengikuti langkah Si bapak yang ternyata adalah seorang Obgyn.
Berkat petunjuk si bapak, Aim akhirnya bisa bernafas lega tatkala melihat Kinan masih duduk di bangku, ruang tunggu.
Sementara Obgyn masuk ke ruang praktik, Aim langsung mendatangi Kinan yang terlihat hanya dia sendiri duduk tanpa pasangan, Aim sungguh merasa bersalah.
Di samping Kinan duduk seorang ibu yang tampak berbicara akrab dengannya.
Kinan menggerak-gerakkan bajunya, menghilangkan gerah.
Percakapan si Ibu membuat Kinan ingin membungkamnya saat itu juga, terlebih si Ibu tampak tidak berniat menghentikan celotehannya mengenai Bos LK dan menanatunya yang bekerja dalam perusahaan itu.
Kinan hanya diam, menahan betapa jengahnya dia, tetapi si ibu belum berhenti dengan ucapannya.
"Sayang"
Tiba tiba Kinan mendengar sebuah suara familiar memanggil.
Kinan menyambutnya dengan senyum senang tiada terkira, Kinan berdiri dan Aim langsung datang memeluknya lalu minta maaf karena telah datang terlambat.
"Tidak apa apa, Mas. Bahkan aku fikir kamu benar benar tidak akan datang" semua prasangkanya tentang kemungkinan dekatnya Aim dengan Shina kini sirna sudah dengan datangnya Aim.
Kinan kemudian menjauhkan tubuh Aim darinya, setelah melihat beberapa orang tampak geli melihat tingkah mereka berdua, begitu pula dengan ibu yang sejak tadi duduk di samping Kinan.
Wajah keduanya Kini telah bersemu ceria.
Untuk menunggu antrean Aim telahh menarik kusi dan duduk berhadapan dengan Kinan di dekat ibu yang bersama Kinan tadi.
"Ooh jadi ini suami kamu?" Tunjuk si ibu dengan wajah sedikit mencela, "Suami yang tidak pengertian" ucapnya kemudian.
"Halo ibu" sapa Aim dengan sopan, "Terima kasih sudah menemani istri saya" menatap Kinan dengan perasaan lega.
"Ya, harusnya kamu datang lebih awal, kamu kan pengangguran otomatis tidak sibuk bukan?"
Celaan si ibu spontan membuat Aim heran dan bertanya, siapa yang ibu ini maksud, dirinya atau orang lain?.
Dengan wajah kebingungan Aim menunjuk dirinya, "Saya?" Tanyanya. Kemudian menoleh ke arah Kinan, barangkali istrinya mengatakan hal yang tidak tidak, tetapi Kinan menggeleng sambil menunjukkan wajah tidak enak.
"Ya kalau bukan kamu siapa lagi" seloroh si ibu, "Berilah sedikit perhatian kepada istrimu, kau fikir jadi ibu itu gampang apa!?" Si ibu berkata dengan sedikit lantang membuat orang orang yang duduk dekat menatap penuh tanya.
"Bu saya minta maaf," Kinan coba menjelaskan dengan bahasa santun, "Pertama suami saya bukan pengangguran, beliau adalah pemilik perusahaan tempat menantu ibu bekerja, kedua beliau itu sangat memperhatikan saya, dia rela membuang waktu mahalnya, demi datang kemari hanya untuk menemani saya pergi mengecek kandungan. Jadi saya mohon, jangan bicara sembarangan lagi ya. Sekalian saya perkenalkan, beliau adalah Aiman KraditaPutra, barangkali dengan menyebutkan nama ini menantu ibu bisa langsung ingat siapa nama Bosnya di kantor." si ibu menganga terkejut, namun masih menampilkan wajah tidak percaya.
"Benarkah?." masih menganga, menilik tubuh Aim dari atas hingga bawah, tampak seperti orang penting, tak ada sedikit pun bayangan pengangguran dari detile nya.
"Kalau begitu akan saya pergi tanyakan kepada menantu saya" antusiasnya. Si ibu kemudian bergegas pergi ke tempat menantunya, berbincang dengan mata menunjuk ke arah Aim duduk.
"Nak, apa benar nama Bos kamu adalah Aiman Kraditaputra?" tanya Si ibu penasaran.
"Aiman?" sang menantu tampak mengingat ingat, setelah beberapa saat ia pun mulai dapat mengingatnya, dan mengia'kan perkataan si ibu.
"Emangnya kenapa bu?" tanyanya heran.
"Apa kamu pernah bertemu dengannya?" -Ibu.
"Sampai saat ini aku belum pernah bertatap langsung dengan dia" -Menantu.
"Kalau begitu, kamu sekarang samperin dia!" Menantu mengernyit bingung dengan permintaan tersebut, pasalnya ini bukan kantor, jadi mustahil dapat bertemu dengan Aim.
"Ibu ngwur, mana ada dia di tempat seperti ini" bantah menantu, dengan tawa kecilnya.
"Lihat ke sana!" si Ibu menunjuk tempat Aim duduk, "Apakah kau tidak mengenali dia?"
Sang menantu menganga tak percaya saat melihat Aim, spontan berdiri untuk menyapanya, "Benar dia adalah Bos ku, aku yakin sekali, dia adalah Bos tempat aku bekerja. Gambarnya kulihat berkali kali di kantor" Sang menantu terlihat kegirangan.
Merapihkan baju dan tataan rambutnya, saat akan mendatangi Aim.
Tak lupa si ibu juga berpesan, "Mintalah jabatan yang tinggi kepadanya"
Lelaki itu bergegas, namun Aim telah lebih dulu beranjak untuk segera mengantar Kinan, karena Kinan kini sudah mendapatkan panggilan.