
Penyerahan saham tinggal beberapa minggu lagi dan hal ini telah di putuskan bulat oleh Arman.
Aim hendak menentang namun Aim tidak mempunyai banyak bukti jelas mengenai putri Harimaja adalah dia yang saat ini bernama Kinan.
.
Setelah Mina keluar, Aim masih didalam ruangan Arman. Mencoba menyampaikan kejanggalan yang dirasakan Aim.
Tetapi Arman sangat menyangkal, bahkan Arman sampai mengatakan hal hal yang cukup tidak pantas.
"Kau terus membela perempuan itu, seolah dia benar benar anak Harimaja. Padahal dia hanyalah piaraan mu, dalam masalah ini harusnya kau tidak perlu ikut campur Im!" pekik Arman, perkataan itu sungguh melukai Aim.
Aim terdiam sesaat untuk meredam emosinya.
"Ayah, Aim minta berhenti memandang Kinan rendah, itu sama saja dengan merendahkan Aim" timpal Aim tak kalah tinggi dari suara Arman.
"Keluar Im! Selama kau masih menjalin hubungan dengan perempuan itu, kamu jangan pernah mendatangi Ayah, Ayah muak!"
"Ayah" nada suara Aim terdengar penuh kecewa, bagi Aim Arman benar benar kelewatan, tak habis fikir, Aim bingung mencari alasan kenapa Arman begitu membenci Kinan.
"Demi Kinan, seumur hidup pun Aim rela tidak berhadapan dengan lelaki egois seperti Ayah,"
"Apa yang kau katakan ini Im?" Berang Arman, "Kau bilang kau bisa hidup tanpa ku? Baiklah, mulai sekarang lepaskan semua yang kau beli dengan uang ku, apartemen, mobil dan pakaian mu. Fikirkan! Mana yang akan kau pilih perempuan itu atau tunduk kepadaku?" Bentak Arman mengancam.
"Silahkan, ambil semua yang ingin ayah ambil Aim tidak perduli" memerintah penuh kekecewaan.
Aim lantas pergi meninggalkan ruangan Arman dengan perasaan terluka. Aim tau Arman tidak pernah main main, tetapi Aim pun tidak main main dengan keputusannya.
Aim berjalan mengambil langkah lebar,.
.
"Mir" sebut Mina.
Mina tiba tiba masuk kedalam ruangan Amira, Mina sangat senang ketika melihat Amira baik baik saja, Amira tidak terkejut dengan kehadiran Mina, Amira menanggapinya dengan datr
"Kita pulang ya sayang!" Bujuk Mina.
"Dimana Dirga, kenapa selama tiga hari ini dia tidak mencari ku?. Apa aku benar benar tidak perlu kembali ke rumah itu lagi?" Tanya Amira dengan suara dingin dan penuh kecewa.
"Nak, jika kamu menginginkan dia ibu bersedia membujuknya untukmu, tetapi lelaki itu juga tidak akan baik untukmu, dia sudah beristri dan kamu hanya di jadikan istri kedua" -Mina.
Amira melayangkan tatapan emosi kepada Mina, dalam tatapan itu tertuang kemarahan besar.
"Kenapa Mama baru mengatakan ini sekarang? Lalu saat Mama menyeret aku ke pangkuan lelaki itu, apa Mama tidak pernah memikirkan apa apa?" Teriak Amira berapi api.
"Mah, berhenti menyalahkan orang lain, karena yang terjadi sekarang, semuanya salah Mama, Mama yang menyebabkan kekacauan ini!" Bentak Amira dengan mata berkaca kaca.
"Sekali lagi Mama minta maaf sayang, Mama janji setelah penyerahan saham ini selesai Mama akan membayar semua perlakuan buruk yang kamu terima"
"Penyerahan saham?" Amira tampak tidak mengerti dengan maksud Mina.
Pagi berganti siang.
Aim terduduk dengan tatapan kosong, sebuah pena berputar putar di jarinya.
Aim kalang kabut dengan nasib pernikahan yang di alaminya, Aim sungguh mencintai Kinan tetapi orang tua menentang pernikahan tersebut, di sisi lain Aim juga memikirkan kehidupan Kinan apabila nantinya Aim benar benar di depak oleh Arman.
Sementara di tempat Kinan.
Kinan termenggu dengan tatapan berarah ke lembaran kertas yang berisi data data pribadi Harimaja (Ayahnya). Kinan bertanya tanya kenapa nama itu ada didalam data perusahaan LK.
Kinan tau sang Ayah tidak mungkin memiliki koneksi untuk bersejajar dengan pemilik perusahan LK.
Kinan termenung lama, akhirnya memutuskan untuk menanyakan hal tersebut kepada Aim.
Kinan telah melakukan beberapa panggilan tetapi no Aim masih sibuk.
Kinan sungguh penasaran dengan data sang Ayah yang tiba tiba muncul didalam perusahaan sebergengsi LK.
.
Karena terus merasa penasaran Kinan kemudian mencoba menelpon Guna untuk menanyakan Aim, tetapi Guna mengatakan kalau Aim keluar sejak setengah jam yang lalu.
Sekilas Kinan menoleh ke pergelangan tangannya, waktu sudah menunjukan pukul dua, itu artinya Aim sudah pergi untuk bertemu Shina seperti janjinya, Kinan merasa lemah ketika memikirkan mereka akan berjalan berdua dan memilih souvenir sama sama.
dan akhirnya Kinan pun berhenti untuk menghubungi Aim, dan mulai mengalihkan fikirannya dengan pekerjaan.
Setengah tiga, waktunya Kinan untuk berhenti, Kinan akan pergi mengecek kandungannya.
Kinan berjalan sambil bermain handphone, berniat untuk menghubungi Aim, mengajaknya untuk pergi ke klinik bersama sama. Namun tiba tiba Kinan ingat kalau hari ini Aim sedang bersama Shina, dengan hati yang lumayan terluka Kinan mengurungkan panggilannya kepada Aim.
Saat ini Kinan telah di jemput oleh taxi online yang di pesannya. Kinan melaju, tidak di sengaja di tengah perjalanan Kinan melihat Aim di sebuah toko bersama Shina, dari kejauhan mereka terlihat begitu akrab.
Tak ingin berlarut dalam prasangka dan kecemburuan, Kinan mengalihkan perhatiannya ke hal hal yang lain.
Walau pun sebenarnya ada rasa yang sulit di terima di hatinya, tetapi Kinan mencoba kuat dan yakin kepada Aim.
Akan tetapi yang membuat Kinan bersedih adalah, ini adalah pemeriksaan pertama untuknya dan di paksa harus pergi sendiri tanpa Suami, saat ini Suami sedang melayani perempuan lain