
"Jangan ganggu gue" balas Aim sambil menyandarkan pundaknya pada sandaran kursi.
"Loe kenapa sih? gue pergatiin kayaknya lesu banget lagi galau galau ya? Kayak anak ABG aja. " Ledek Guna. "Udah bukan saatnya Im" Guna menepuk lutut Aim seakan mengingatkan kalau usia Aim sudah tidak remaja lagi.
Aim mengusap wajahnya dengan sedikit kasar, apa yang Guna bilang memang benar entah kenapa beberapa hari ini dia begitu hilang semangat pikiranya juga kacau dan berantakan raganya disini tapi hati ditempat lain, seperti mengambang.
"Kenapa muka loe keliatan resah? nggak ada kabar dari Doi ya?" Tambah Guna.
Aim beranjak dari duduknya menuju kamar untuk bersiap, "Doi dari mana?" Ucapnya seraya berlalu.
"Yang potonya loe tatap terus?" Teriak Guna sedikit nyaring karena Aim sudah cukup jauh darinya.
"Doi doi, doi tak kasat mata maksud lo?" jawab Aim, tapi sepertinya Guna tidak mendengar.
Sambil melilitkan dasi dilehernya Aim menatap pantulan wajahnya dicermin, wajah yang sedang hilang semangat ini, lalu Aim berfikir benarkah yang dikatakan Guna? Aim dalam fikirannya bertanya 'Apa mungkin seseorang bisa mempengaruhi semangatku? Tidak .' Aim mencoba menyangkal walau sebenarnya perasaan tak bisa berbohong.
"Bos, ini beberapa yang harus diperhatikan" Guna memberikan map berisi sedikit kisi kisi projek yang akan dibahas pagi ini Aim mengangguk paham, membuka dan menelaahnya sebentar, bagi seorang Aiman hal seperti ini sangat mudah masuk kedalam otaknya.
"Apa setelah ini kita bisa langsung pulang?" Tanya Aim, menyerahkan map lalu menyambar jas berwarna abu miliknya mengambil langkah cepat menuju tempat rapat yang sudah ditentukan kebetulannya tempat rapat kali ini searah dengan jalan pulang.
Guna membuntuti langkah Aim "Ya, setelah semuanya selesai kita bisa langsung kembali,"
Aim memencet tombol lift menunggu sebentar lalu masuk dan kembali menekannya hingga pintu pun tertutup
"Ooh baiklah, kebetulan aku sangat lelah, hari ini aku mau istirahat lebih lama" suara Aim terdengar lesu tak bersemangat.
"Kita masih ada satu acara bos"
"Acara apalagi? bukankah kerjaan udah selesai ya?"
"Undangan pernikahan Bos" jelas Guna.
"Oh undangan keluarga Harimaja itu?"
Guna mengangguk.
Aim baru ingat kalau dia diundang menghadiri resepsi pernikahan pukul 11:00, sebenarnya hari ini badan Aim terasa sangat lelah dan sedikit malas untuk beraktivitas lebih namun dia tidak bisa menolak undangan keluarga yang terikat cukup dekat dengan keluarganya (keluarga Harimaja).
"Baiklah, pesta seperti ini aku selalu penasaran sama pengantin wanitanya"
Aim dan Guna melesat dengan kecepatan diatas rata-rata demi mengejar waktu.
Tok tok tok... pintu kamar diketuk berulang, Kinan segera berjalan menuju daun pintu.
Penuh semangat, pagi ini Mina bangun lebih awal merias diri dengan pakaian terbaik dan make up yang sedikit tebal, sebelum Kinan Mina malah sudah siap lebih awal, bersemangat seolah pesta ini miliknya.
Lebih dulu Mina mengecek pakaiannya sambil menunggu Kinan keluar Mina terus memuji diri dan pakaiannya yang rapi dengan riasan yang eleghant tampil berbeda dari biasanya ini hari yang akan bersejarah tentu saja Mina ingin tampil lebih mencolok, "Kinan," panggil Mina sambil mengetuk pintu kamar Kinan "Apa kamu sudah siap? Mama menunggu mu" Teriaknya lagi "Jangan membuat ku menunggu lebih lama Kinan" imbuh Mina tak sabar.
Sebelum pergi Mina sengaja mendatangi Kinan untuk melihat kesiapannya ia berniat mengajak Kinan untuk berangkat sama sama agar terlihat akrab.
"Apa apaan ini Kinan?" Teriak Mina kala melihat Kinan tak memakai gaun pengantinnya, Teriakan Mina menarik perhatian Amira. Dia langsung mendatangi sumber suara dengan sedikit panik, ketika melihat Kinan dia pun sama terkejutnya dengan Mina , "Kak! apa yang kakak lakukan? Apa kau sudah gila?" Pekik Amira, Amira tidak percaya Kinan lebih memilih keluar dari rumah dibanding menikahi Dirga.
"Maafkan Kinan Mah, Mira, ini pilihan Kinan, sesuai yang Mamah minta Kinan akan pergi dari rumah ini" ucap Kinan sedikit tak rela, tanpa basa basi lagi Kinan langsung beranjak menderet koper melangkah keluar dari rumah yang sempat ingin ia pertahankan ini.
"Kinan berhenti!" Teriak Mina. Kinan pun berhenti tanpa berbalik.
"Kau sendiri yang memutuskan keluar, jangan harap bisa kembali lagi!" Teriak Mina Marah semarah marahnya, impiannya menjadi besan yang disegani sepertinya telah dihancurkan Kinan, entah apa yang difikirkan Kinan saat ini sehingga dia lebih memilih kehilangan segalanya daripada menikahi Dirga.
"Kakak yakin mau keluar? hubungan kita putus sampai disini!" Tambah Amira, "Apapun yang terjadi sama kakak kami tidak akan menerima kakak kembali, dan ingat! walau bersimpuh pun kami tidak akan menerima kakak lagi!" Imbuhnya ikut geram.
"Pergilah Kinan, selangkah lagi kau maju hubungan kita putus sekarang juga!" Teriak Mina memperingatkan.
Kinan menoleh dengan sudut matanya yang sayu.
Seolah sudah puas dengan semua sikap yang diberikan Mina, rasa tidak dihormati rasa diinjak injak diperbudak semuanya dirasa sudah cukup, 22 tahun dalam hidupnya Kinan tidak pernah merasakan kebebasan, terkekang oleh Mina yang menjadikannya hewan piaraan yang setiap saat bisa diperas tenaga dan diperas air susunya, Kinan bukan sapi atau kuda yang bisa dengan sabar menerima perlakuan itu, 22 tahun cukup lelah untuk menghidupi mereka yang terlalu banyak menuntut dan tidak tau terima kasih.
Sepanjang hari Kinan akan bekerja keras banting tulang mencari uang dan merapihkan rumah sementara Mina dan Amira hanya duduk menunggu didalam kamar kadangkala dengan tidak sabar, seringkali mereka marah besar jika Kinan pulang telat atau terlambat membawakan makan malam.
Tanpa menoleh lagi Kinan menderek kopernya meninggalkan rumah yang sempat ingin dipertahankannya.
...
Ditempat lain
Di gedung pernikahan orang orang Dirga tampak sibuk dengan handphonenya, berulangkali mencoba menghubungi Kinan dan keluarganya, Dirga sangat panik waktu telah menunjukan pukul 9:35 tapi Kinan masih belum terlihat hanphonenya pun tidak aktip begitu juga dengan nomor milik Mina, sementara itu Hanna dia sudah duduk dengan senyum kemenangan pakaian dan riasan terlihat sempurna dan rapi dibantu keterampilan tangan Mua rupa Hanna naik 100% lebih cantik dari sebelumnya.
Hari ini seharusnya Dirga memiliki dua calon pengantin rencananya Dirga akan menikahi Hanna juga Kinan sekaligus.
Tapi saat ini Dirga sedang mondar mandir gelusah, setiap sudut gedung sudah didatanginya untuk mencari keberadaan Kinan, Dirga juga sudah mencoba menunggu di depan gerbang langsung tapi Kinan masih belum kelihatan melewati pintu, satu dari orang orang Dirga pun juga belum melihat keberadaan Kinan.
"Mah sekarang kita akan bagai mana?"
Amira yang kesal terus mondar mandir tak jelas sambil menghentak-entakan kakinya didepan Mina, dia terus mengutuki Kinan karena telah memutuskan lari dari pernikahan dan menggagalkan mimpinya menjadi keluarga orang kaya.
"Kau!" pekik Mina "Pergilah ke kamar, Mama pusing melihat mu mondar mandir terus,"
"Tapi Mah, dari tadi Mama diam apa udah bisa nemuin jalan keluar? Kita nggak bisa ngelepas kak Dirga begitu aja'kan?, entar siapa yang bayarin belanja online Mira Mah, dan siapa yang beliin Mama perhiasan baru, mobil baru, rumah baru, Villa?"
"Mira ke kamar!" potong Mina bernada tak ingin di bantah.
"Tapi Mah" bantah Amira.
"Atau kamu mau mamah kirim untuk menggantikan kakak kamu menikah dengan Dirga?"
"Issshhhh" Amira menghentak kesal lalu pergi dengan tak terima ke dalam kamarnya.