
"Apa Aim pernah mengatakan ini kepada keluarganya?" -Kinan.
"Aim pernah mengatakan ini kepada Om Arman, tetapi Om Arman tidak mempercayai pernyataan semacam ini, tidak sedikit pun. Dan kamu pasti berfikir untuk memberitahu hal ini kepada keluarga Shina, ini semakin tidak mungkin." -Guna.
"Apa ada alasan tidak memberi tahunya?"
Guna tersenyum kecil, "Sulit untuk menjelaskannya. Tapi satu hal yang perlu kamu tau," Guna menggeser layar yang dipegang Kinan, "Aim telah mengabulkan permintaan Shina untuk berpisah, pengadilan sedang mengurusnya,"
Kinan tertegun untuk berfikir.
"Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan," setelah menunduk beberapa saat Kinan mendongak kepada Guna, mata itu bingung untuk memutuskan.
"Pergilah Nan, Aim menunggumu" -Guna.
"Aku rasa pernikahan ini terlalu terburu buru, Aim tidak mengenaliku dengan jelas, aku tidak mau menikah dengan seseorang yang tidak bisa menerimaku dengan baik, aku terlalu banyak kekurangan, dan kehamilan ku, aku rasa Aim tidak perlu bertanggung jawab..." Kinan kembali menunduk.
"Aim, di mengenalimu lebih kamu mengenali dirimu sendiri"
Kinan kembali mendongak.
"Kamu hanya perlu mengatakan ia atau tidak. Fikirkan bayi mu Nan," imbuh Guna.
Kinan mengusap perutmu yang rata.
"Dia membutuhkan sosok pelindung dan sosok yang akan menanggung kehidupannya,"
"Tapi... Apa aku akan menjadi pelakor?" -Kinan.
"Tidak akan ada pelakor pada pernikahan yang tidak diinginkan. Aim telah lama tersiksa dalam pernikahan ini, ini waktu yang tepat untuk Aim mengakhiri itu semua. Andai aku menjadi Aim, sudah ku akhiri kegilaan ini sejak dulu, tanpa mempertimbangkan apapun. Nan, Aim sudah lama mempertimbangkan ini, kamu harusnya tau dia tidak mungkin asal memutuskan, percayalah semuanya akan baik baik saja"
Kinan masih bingung harus bagai mana.
"Aku akan memberi tahu Aim jika kamu bersedia Nan,"
Kinan tidak menjawab.
"Lakukan sekarang"
Guna menelpon Aim, terdengar hembusan lega dari sebrang telpon, sejak tadi Aim cemas karena Kinan sempat menolak pernikahan. Aim lalu bergegas menuju aula pernikahan yang dirancang sederhana.
"Apa ini keputusan yang baik?" Tanya Kinan ragu ragu. Menatap Guna.
"Kamu yang akan merasakannya sendiri, Nan. Percayalah Aim akan menjagamu dengan baik. Aku antar kamu ke Aula, silahkan" Guna mempersilahkan Kinan Berjalan terlebih dahulu.
"Gun, apa Bos mu mempunyai misi tertentu? Kenapa dia tiba tiba menikahi ku? Aku masih tidak percaya ini"
Guna kembali tersenyum menanggapi pertanyaan Kinan.
Saat Kinan memasuki Aula pernikahan, seorang Aiman Kradita Putra sedang duduk fokus dihadapan penghulu, duduk menghadap kearah kedatangannya.
Wajahnya serius tetapi terlihat tegang, Aim bahkan mengabaikan Kinan yang berdiri dihadapannya, cukup jauh.
Seperdetik kemudian, Aim terlihat menggenggam tangan wali yang diwakilkan.
Tiba tiba suasana menjadi tegang.
Saat melihat seorang lelaki fokus seperti ini daya ketampanannya meningkat 100%, kekaguman itu yang saat ini dirasakan Kinan.
Suasana tegang belum berakhir, sampai saksi mengatakan sah pada pernikahan ini.
Ada haru bahagia yang tercipta, saat Aim tersenyum mengikuti kalimat sah yang dilontarkan para saksi.
Setelah mengucapkan kalimat sakral itu, kini wajah Aim kembali berseri, tatapannya pun mulai terlempar kepada Kinan, dan senyum hangatnya menyambut.
"Keputusanmu menikah dengan Aim adalah keputusan tepat, Nan" Guna menepuk bahu Kinan.
Kebahagiaan yang membuncah tengah dirasakan Aim, keputusan yang membuat dirinya lega. Setelah sekian lama menahan perasaan akhirnya semua itu tercipta sudah, memiliki Kinan dan akan menjaga bayi yang dikandungnya.
Aim tidak bisa mengungkapkan kebahagiaannya.
Aim pun berdiri menyambut Kinan.
Aim mengasongkan sebuah kotak berisi maskawin berupa cincin emas bermahkota berlian. Aim bantu memakaikannya di jari Kinan.
"Maaf, aku hanya bisa memberikanmu pernikahan sederhana. Aku berjanji, setelah ini akan menyiapkan resepsi besar untuk kamu" ucap Aim sambil menggenggam jemari Kinan, lalu kemudian mencium tangannya dengan lembut.
Orang orang yang sejak tadi berbaur di acara pernikahan sederhana ini bertepuk tangan.
Sementara Kinan masih bingung dan gugup, merasa seperti sebuah mimpi aneh yang tidak pernah Kinan duga sebelumnya.
Apalagi saat Aim hendak mencium keningnya, Kinan sampai terkesiap dan mundur beberapa mili.
"Ma, maaf" Kinan tau itu adalah sebuah kesalahan, tapi Kinan tidak berniat menolak, itu hanya sebuah reaksi gugup yang sedang ditunjukannya, Kinan reflek menyentuh bekas bibir Aim di keningnya.
Aim pun tersenyum gemas, "Nanti kamu akan terbiasa" ucap Aim menggoda, wajah Kinan nyaris terbakar oleh kalimat sederhana itu.
Amor yang berdiri tak jauh dari Kinan terlihat berbunga bunga.
"Sekarang kalian berdua telah sah menjadi suami istri," ucap Penghulu yang telah menikahkan mereka berdua.
Wajah Kinan kembali merah padam, dia bahkan tidak sanggup menegakkan batang kepalanya karena merasa malu.
"Kalian harus tetap bersama sampai maut memisahkan" -Penghulu.
"Saya, Aim Kradita putra bersumpah akan terus disamping istri saya yang bernama Kinan sampai maut memisahkan" sumpah Aim sambil menatap Kinan dalam dalam, mengucapkan sumpah itu penuh keyakinan.
Penghulu mengangguk setuju dengan pernyataan lugas tersebut.
"Sekarang kalian sah melakukan apapun" Timpal penghulu, Kinan semakin menunduk malu dibuatnya.
Tiba tiba Amor berteriak "Horee udah bisa malam pertama" sambil tepuk tangan. Mengundang gelak tawa seisi ruangan.
Kinan menoleh dengan ekor matanya, "Isssh Mor, malu-maluin aja" bisiknya.
Amor menutup mulut lancangnya, "Uppss maaf, kebiasaan" ucapnya tanpa dosa.
Tawa kembali menggema.
"Iss, kalian tidak boleh menggoda pengantin, lihat wajahnya!" kata penghulu ikut gemas dengan tingkah malu malu Kinan.
Kinan sesekali menoleh lelaki yang saat ini telah menyandang status suami dikehidupannya.
Melihat Kinan duduk disampingnya, menyaksikan Amor dan penghulu menggoda Kinan, tersenyum malu, tersenyum canggung. Aim berkata didalam hati.
*Ini adalah akhir dari pernikahan ku yang tidak waras, Shina.
Maaf aku melakukan ini, walau sebenarnya kamu juga tidak akan peduli.
Kamu pasti berterima kasih atas ini, kamu pasti akan menganggap ku kalah karena tidak mampu bertahan dengan kegilaanmu.
Sebelumnya aku terus berfikir untuk terus bertahan hingga waktu yang tidak bisa aku tentukan, tetapi setelah mengenal Kinan perasaan ingin bertahan dalam hubungan yang tidak bisa aku pahami itu hilang.
Ketika melihat Kinan tersenyum, aku berrencana untuk terus melihat senyum itu.
Dan saat melihat ia bersedih aku ingin terus berada disampingnya, membuat ia tersenyum kembali.
Senyumnya adalah kebahagiaan besar untukku.
Sejak bertemu dengan Kinan, aku bisa memahami arti ingin memiliki yang sebenarnya .
Setiap hari melihat dia tidak pernah cukup untuk mengobati kerinduan yang datang di malam hari.
Aku terus gelisah memikirkan dia, gelisah menunggu malam berganti siang, dimana aku bisa melihat senyumnya kembali.
Kinan, kamu adalah kebahagiaan untukku. Aku yakin, kau adalah matahari dibalik hujan, begitu hatiku meyakini kamu di setiap kali kita berpapasan.
Kinan aku tidak akan melepaskan kamu, tidak untuk sedetik pun*.