Oh My Boss.

Oh My Boss.
Bag.11



Sebelum Aim berhasil mengejar Taxi sudah melaju meninggalkan area Gedung, Aim gagal menghentikan Kinan, tanpa pikir panjang Aim langsung mengejar mobil yang membawa Kinan, Aim penasaran mau pergi kemana perempuan itu melihat dari koper yang dibawanya sepertinya dia akan berpergian dengan waktu yang cukup lama.


Didalam Taxi Kinan tak berhenti menangis, saat ini hanya air mata yang sanggup menjadi temannya, dunia terasa runtuh dan hancur berantakan hidup sebatang kara tidak ada tempat berlindung saat ini pun Kinan bingung harus pergi kemana.


Kinan menoleh kearah kaca menatap dunia yang luas tapi terasa menghimpit dirinya entah kenapa cobaan terus menerpa dirinya.


"Krrriinnngg... Kriiingggg" hadphone berbunyi, Aim yang sedang fokus mengemudi terlonjak kaget.


Aim merogoh handphone dari saku jasnya, lalu menepi.


"Halo Ayah, ada apa?" Tanya Aim tak sabar ingin mengakhiri. Mata pemburu mengikuti taxi tak ingin kehilangan jejaknya.


"Sekarang juga kamu datang kekantor!" Titah Sang Ayah tak ingin di bantah.


"Tidak bisa ayah, Aim sedang ada urusan" kilahnya menolak, dalam hati Aim berdoa agar sang Ayah segera mengakhiri panggilannya jika lebih lama lagi Aim cemas akan ketinggalan mobil Taxi yang dikendarai Kinan, Taxi telah terhalang beberapa mobil dan Aim kesulitan melihatnya.


"Sekarang juga kamu datang kekantor, ini perintah!" Ucap sang Ayah tak ingin di bantah, ia lalu memutus telponnya secara sepihak, Aim mendengus kesal rencananya mengikuti Kinan harus gagal.


"Hiisss..." Desisnya kesal, "Nasib jadi karyawan.." kesal Aim. Lalu dia memarkir mobilnya, putar arah.


Aim menjatuhkan pantatnya duduk dengan kesal didepan Sang Ayah.


"Apa begini sikapmu didepan atasan mu Im?" Sindir Ayah Arman, Ayah Aiman. Aiman yang malas segera mengubah duduknya menjadi lebih sopan dan tertib.


"Bapak Atasan yang terhormat, kiranya apa yang perlu dibahas sehingga memanggil hamba dan mengganggu waktu pribadi hamba" ucap Aiman lemah lembut yang dibuat buat.


Arman menyungging karena dibuat geli oleh ucapan Aim "Kelihatannya kau senggang hari ini, untuk itu aku memanggilmu agar kau tidak jenuh duduk duduk tidak berguna" Arman lalu mengambil map dari laci meja kerjannya.


"Siapa bilang aku senggang?, Aku sibuk.... tadi...." Aiman mau mengatakan kalau dia sedang berada dipesta.


Ayah Arman menilmpal, "Tadi aku menelpon Guna dan bilang Ananda kesayangan sudah pergi dari pesta,"


"Aduhhhh" Aim melengos kesal karena ketahuan, "Dasar teman nggak ada ahlak kenapa nggak bisa diajak kompromi sih, bilang kek aku lagi di pesta, jadi repot gini'kan" Aim membisik kesamping.


"Kau berbisik dengan siapa Im?" Ayah Arman meneliti putranya dia terlihat bicara dengan temannya yang Goib, "Sejak kapan kamu berteman dengan jin Im?" Aim langsung mengatupkan mulutnya, menegakkan badannya lalu diam seketika.


"Dasar teman tidak berguna 10% bonus yang aku janjikan saat ini juga aku batalkan" kesal Aim menggerutu dalam hati.


Ayah Arman beranjak dari kursi kebesarannya membawa map berisarat kepada Aim untuk mengikutinya duduk dikursi yang lebih santai.


Aim yang sedang menatap photo Kinan pada layar handphonenya segera beranjak walau malas.


Ayah Arman melempar map kehadapan Aim, "Tugasmu selidiki dia" ucapan Ayah Arman brubah serius, begitu juga dengan Aim mengabil map tersebut lalu menelaahnya baik baik.


Hampir sama dengan Arman Aim juga suka bercanda. Saat sudah bertemu Ayah dan anak ini akan akan saling berguyon selayaknya teman namun mengenai pekerjaan mereka berdua akan berubah serius.


Aim mengernyit, "Harimaja? pemilik 25% saham perusahaan? Aim baru tau"


"Harimaja adalah sabat ayah sekaligus pemilik 25% saham perusahaan (Lk) sebelum wafat dia mewasiatkan harta itu untuk putrinya yang bernama Amira, ayah harus memberikan itu saat putrinya berusia 23tahun atau pabila sudah menikah" Jelas Arman.


Aiman menilik kembali biodata dengan teliti tiba tiba Aiman merasa pernah melihat nama seseorang yang memiliki nama Ayah serupa (Harimaja).


Aiman merogoh secarik undangan yang dirobeknya, benar saja Kinan dan Amira memiliki ayah yang sama, namun Aim sedikit terheran karena saham hanya diwariskan kepada putri yang bernama Amira saja, mungkinkah nama Harimaja itu nama yang berbeda.


"Ayah, apa Om Hari mempunyai putri lain?" Tanya Aiman penasaran.


Arman menghela lalu merengkuh duduk membungkuk menyematkan jarinya, "Kamu benar Im Harimaja memamang mempunyai dua putri, satu anak kandung dan satu anak tiri, 25% saham ini sebagiannya milik Alm istri Harimaja, itu sebabnya Hari menyembunyikannya dia tidak ingin orang lain menerima saham ini selain putri kandungnya"


Aim melamun penuh fikir "Apa anak Om Hari yang lain bernama Kinan?" Tanya Aim lagi semakin penasaran.


"Ia.." sahut Arman, "Dia gadis yang hari ini menikah," tambahnya.


"Lalu apa hubungannya dengan ku?" Aim melempar map kehadapan Ayahnya, Aim merasa tidak perlu ikut campur pada masalah keluarga orang lain, "Tinggal kasih aja apa susahnya" kata Aim.


"Im... Ayah tidak mau melakukan kesalahan, ini wasiat besar Im ini bukan hal sepele, harta ini harus sampai kepada pemiliknya."


"Kesalahan? Dimana letak kesalahannya, jelas² disitu sudah tertera Amira Binti Harimaja" sambung Aim tak ingin memperpanjang


"Apa kamu yakin tidak ada kesalahan Im?"


Aim menggaruk tengkuknya tak paham 'dimana letak kesalahannya' Aim berfikir ayahnya terlalu membuat² dan merumitkan situasi.


Arman mendorong map yang sempat dilempar Aim, "Ini tugasmu Im," ucapnya tak ingin dibantah.


"Aku lagi ya," desah Aim kesal tapi Aim tidak bisa berbuat apa² selain menurutinya, "Males akh, Aim lelah Yah, 3 hari ayah kirim aku keluar kota dan sekarang belum juga istirahat sudah disuruh kerja lagi rumit pula" Aim menaruh map menyandarkan pundaknya, malas.


"Selidiki itu sampai tuntas Im, kalau kamu berhasil Ayah kabulkan satu permintaan"


"Waaahh satu permintaan kayak jin aja, kasih Aim 3 permintaan kek" permintaan? wahh ide yang brilian Aim langsung bersemangat. "Kalo sudah begini asik nih" Aim lalu mengambil kembali map yang dilemparnya dengan senyum girang.


"Sama orang tua aja kamu perhitungan Im" Arman menggeleng sebentar tidak mengerti pada sikap Aim yang perhitungan.


Arman lalu beranjak dari hadapan Aim, menepuk pundak putranya sambil berkata, "Semoga berhasil" Arman kembali duduk dikursi kejayaannya kemudian membuka file lain yang perlu mendapat tinjauannya.


Kinan turun dari Taxi, setelah berputar putar mencari kontrakan yang cocok Kinan akhirnya berhenti disebuah koskosan perempuan yang dibilang sangat sederhana.


Sang Pemilik menunjukan kamar yang akan disewa Kinan, sebuah petak kecil berukuran 3x4. Tak ada ruang kamar tak ada ruang tamu hanya sebuah ruangan lepas, diluar terdapat dua kamar mandi bersama dan satu dapur yang disediakan pemilik tempat semua penyewa memasak, sudah dipastikan mandi dan masak harus mengantri.