
"Tampaknya kalian sangat akur"
Tiba tiba Shina datang dan langsung mengubah suasana.
Aim mendelik tak suka pada kedatangan Shina.
"Silahkan tea nya," Kinan menyuguhkannya dengan ramah.
"Aku perlu bicara dengan mu Im" ucap Shina tanpa memperdulikan Kinan atau pun tea yang baru di suguhkan kepadanya, "Ikutlah denga ku" pinta Shina dingin tapi penuh tekanan.
Kinan muai merasa tidak nyaman dengan situasi ini, "Kalau begitu kalian bicara saja dulu, aku akan pergi mandi" menghindar dengan hormat, walau pun membiarkan Aim berdua dengan Shina juga bukan hal yang mudah untuknya.
Tetapi Aim mencekal Kinan, menahannya agar tidak pergi.
"Apa yang ingin kamu sampai kan, sampaikan di sini. Jangan membuang-buang waktu ku" perintah Aim tak ingin di bantah.
Shina memutar malas bola matanya, apalagi ketika melihat ekspresi yang di tunjukkan kepadanya berbeda dengan yang di tunjuk kannya kepada Kinan, sangat lain.
"Mas, tidak nyaman ngobrol sambil berdiri, kita duduk yuk." ajak Kinan, dengan sedikit hati hati, pasalnya berbicara dengan dua orang berkepala api itu sangat menyeramkan, "Kak Shina kita ngobrolnya di depan ya" ajak Kinan dengan baik baik, Shina membalasnya dengan mata angkuh.
Tanpa memberikan ajakan kepada Shina Aim lantas berjalan mengikuti Kinan ke ruang keluarga.
"Sayang, kamu jangan ke mana mana ya! Kamu duduk di sini temani aku" pinta Aim, menuntut.
Kinan mengangguk setuju, walau sebenarnya saat melihat seringai Shina Kinan ingin langsung menolak permintaan itu, tetapi Aim tampak akan menghindari Shina jika tanpa dirinya.
Mereka bertiga duduk berhadapan.
"Apa yang ingin kau bicarakan?, Hal penting apa yang membuatmu datang ke rumahku?" Tanya Aim dingin, sungguh tanpa perasaan.
"Aku tau kau tak lagi menganggap ku sebagai istri mu"
"Ya, aku telah menceraikan mu" potong Aim.
"Dalam agama, seorang suami memiliki 3 talak untuk ia ucapkan kepada istrinya, yang pertama dan kedua itu masih di perbolehkan/sah untuk rujuk (kembali), tetapi jika talak yang ke tiga sudah aku ucapkan maka tidak ada lagi hak ku untuk rujuk dengan mu, atau kau meminta rujuk dengan ku" jelas Aim. Sebagai seorang istri Shina juga dibekali dengan ilmu ini, dan Shina pun paham dengan maksud Aim.
"Sampai saat ini, berapa kali kau mengucapkan itu untukku?" Tanya Shina dengan mata berkaca, entah itu benar atau hanya bersandiwara untuk membuat Kinan agar merasa bersalah terhadapnya.
"Hatiku ku telah mengucapkannya ribuan kali, dan satu di antara seribunya aku ucapkan dengan mulutku" jawab Aim
Shina tampak menoleh ke sisi lain untuk sedikit menetralkan perasaannya..
"Mas" Kinan mengusap lengan Aim, untuk menenangkannya karena Kinan melihat kemarahan besar di mata Aim kepada Shina.
"Baiklah, itu adalah keputusan kamu. Tapi kalau boleh aku minta satu hal kepada mu Im,"
"Katakan!" Perintah Aim datar.
"Aku minta kamu tetap menyembunyikan perceraian kita dihadapan orang tua kita" pinta Shina membujuk.
"Tidak!" Bantah Aim spontan.
"Atau setidaknya dihadapan Ayah ku, kau juga tahu bukan kondisi Ayah?"
"Tidak! Jangan jadikan orang lain sebagai alasan Shin. Lagi pula aku tidak yakin kalau ayahmu tidak tau hubungan kita (Hancur)" Aim sangat tidak setuju dengan hal hal yang di usulkan Shina.
"Kalau begitu, ini adalah permintaan yang paling mudah, aku tidak ingin kamu menolak permintaan ku kali ini, setidaknya ini akan membantuku menghindari pertanyaan Ayah selama setahun"
Aim mendelik, memberikan isyarat untuk Shina mengatakan permintaannya.
"Beberapa hari lagi, Ayah ulang tahun. Aku mohon agar kamu mau menemaniku untuk yang terakhir kalinya," Aim berniat untuk menolak tetapi Shina terlebih dulu berkata dengan wajah memohon kasihan, "Aku tau selama ini aku banyak melakukan kesalahan kepadamu, tapi Ayah telah memperlakukan mu seperti anak kandungnya, kamu jangan mengecewakannya ya" pinta Shina, manipulatif.
Aim diam sesaat.
Kinan yang sejak tadi duduk di samping Aim mencoba membujuknya, tetapi Aim belum luluh.