
Meraih tangan Kinan dengan lembut dan mulai mengobatinya penuh perasaan.
"Bos biar aku sendiri yang obatin" Kinan menaruh garpu pada kotak buah dipangkuannya.
Beralih meraih salep yang sedang di pengang Aim.
Aim bantu menyuapkan buah ke mulut Kinan "Kau diamlah! aku bisa melakukan ini" kata Aim setelah berhasil membuat Kinan terpaku oleh buah yang tiba tiba masuk kedalam mulutnya.
Saat Kinan kembali bergerak untuk mengobati lukanya saat itu juga Aim akan menyuapkan buah ke mulut Kinan, kemudian Kinan secara spontan akan terpaku.
Sambil mengoleskan salep luka, Aim bergumam dalam hati.
"Nan, Aku tidak bisa terima kamu diperlakukan seperti ini.
Aku tidak bisa berhenti saat melihat kamu terluka.
Setiap kali kamu terluka, setiap kali kamu menangis, aku adalah orang pertama yang merasa gagal, aku gagal membuatmu tetap tersenyum, dan hal yang paling tidak bisa aku terima adalah aku tidak mampu menjaga dan melindungi mu.
Aku seperti pecundang yang tak berbuat apa apa untuk kamu, membiarkan kamu menanggung dunia yang tidak bisa adil untuk kita."
Kinan berkata dalam hati,.
"Malam ini aku selamat dari tanteu Mina, tapi bagai mana besok? semoga malam ini tanteu Mina tidak menyadari kalau aku keluar dari rumah, dan semoga tanteu Mina tidak menemukan aku sampai hari besok berlalu."
Kinan terus menatap Aim yang sedang fokus mengobati lukanya. Sangat mempesona, Kinan tidak pernah membayangkan bisa bersentuhan secara langsung dengan Bos muda yang telah lama dikaguminya.
Waktu melihat photo Aim, Kinan hanya bisa mengagumi dan berdoa dalam diam.
Wajah Aim dahulu sering masuk kedalam mimpinya, bahkan Kinan sampai berangan memilikinya, Walau Kinan tau angan memiliki Aim adalah hal terkonyol yang pernah ada dalam benaknya.
Dikediaman Mina.
Pukul 04:15.
Suasana tiba tiba menjadi riuh, Mina berteriak teriak layaknya orang kesurupan.
"Amira, Amira, Amira" Mina menuruni Anak tangga dengan tidak sabarnya, mencari Amira kesetiap penjuru ruangan.
Amira nongol dari ruang keluarga, mata masih tertutup dengan rambut berantakan tak beraturan, Amira lesu malas untuk menyahuti Mina.
"Apaan sih Mah, kenapa teriak teriak? udah mulai kesurupan lagi ya? aku disini!" Berteriak diakhir karena Mina tidak melihat keberadaan dirinya.
"Amira, mana Kakak kamu? dimana dia?" Mina berteriak didepan Amira.
Amira mengusap wajahnya dengan santai, "Muncrat," katanya tanpa berniat melek lebih lama.
"Jangan bilang dia hilang" Mina menunjuk kening Amira dengan bodohnya.
"Hilang bagai mana? emang dia bisa membuka tali dan kabur gitu? jangan mengada-nagada deh Mah" Amira menghentak-hentakkan kakinya karena kesal atas tuduhan Mina, "Lagi pula semua pintu dikunci, Kinan mau kabur lewat mana Mah?"
"Lalu dimana Anak itu? kemana dia?" teriak Mina.
Mina menjadi kalap saat pulang dari kediaman Dirga, tapi mendapati Kinan tidak berada dalam ruang sekapan.
"Mama kan mengunci dia di gudang, ya sudah pasti dia di gudanglah Mah" Amora malas menjawab.
Mina menggusur tangan Amira,
"Kamu lihat sana!"
Amira terjerembab.
"Aahhh.. Kemana Kak Kinan?" Amira balik bertanya. Mina sontak menjitak kepala Amira.
"Kalau aku tau, nggak akan nyari atau bertanya sama anak nggak guna kayak kamu!" Bentak Mina.
Mina mondar mandir kesal emosi dan segala hal.
Mina mengerat."Harusnya aku tidak mempercayakan ini sama anak bloon kayak kamu"
Amira melongo penuh tanya, "Tapi kemana Kak Kinan."
"Dasar anak bodoh!" pekik Mina. Bergegas kembali mencari Kinan.
"Harusnya dia belum jauh"
"Kinan, Kinan, Kinan" Mina terus bergerak mencari Kinan kesetiap penjuru rumah, Amira mengekor dibelakang.
"Kalau sampai Kakak mu hilang, kamu yang harus menikah dengan Dirga!" Ancam Mina. Ia lalu melengos untuk mencari Kinan lagi.
Ketika sampai di dapur Mina mendapati tali yang ia gunakan untuk mengikat Kinan, tali tersebut sudah terputus.
"Amiiraaaaaaaaa!" Mina kembali berteriak.
"Apaan sih Maa" Amira menghentakkan kakinya kesal.
"Lihat ini!" menunjukkan tali yang baru diambilnya dari lantai.
Amira mengucek-ucek matanya yang kabur karena kantuk.
"Apa Kak Kinan berusaha kabur?"
Pertanyaan datar yang keluar dari mulut Amira menarik pukulan dari tangan Mina.
"Berusaha kamu bilang?" Mina memolototi Amira, "Dia kabur Mira dia kabur" Mina bereteriak lagi.
"Kabur? kabur lewat mana?" Tanya Amira datar. Berulangkali menguap.
"Lewat mana lewat mana, cari Kinan sekarang atau kamu yang mamah kawinkan dengan Dirga!" Mina kembali mengancam. Amira langsung melotot tak terima.
"Cari dia" Mina gegas keluar rumah, "Pantas saja tadi pintu tidak dikunci, bisa apa anak bodoh itu?. Semoga dia baru pergi dan belum jauh" disepanjang mencari Kinan Mina terus melayangkan sumpah serapahnya.
Jam 04:30.
Aim mendongak dari layar laptop dipangkuannya, tepat diujung kaki Kinan ia duduk saat ini.
Perempuan itu sedang terlelap sekarang. Aim sengaja membiarkan Kinan tidur di kursi, didekatnya.
Mengerjakan file perusahaan terasa lebih ringan saat Kinan berada disisinya.
Selain mengerjakan file, Aim sedang mencoba mencocokkan genetika Kinan dengan Harimaja jga dengan mendiang istrinya.
Tetapi saat ini Aim sudah sangat mengantuk, untuk itu ia memutuskan tidur disofa seberang Kinan. Sebelum memejamkan matanya, Aim akan terlebih dahulu menatap Kinan dengan lekat.
...
Ditempat yang berbeda,
Anton duduk disebelah Shina yang sedang duduk malas-malas diatas tempat tidur.
Shina tidur dilangkuan Anton, merangkul tangannya dan bermanja.
"Ayo bangun sayang" pinta Anton manja.
"Ummmhh" Shina hanya bergumam malas.
Selepas perpaduan huru hara semalam tampaknya Shina masih malas dan enggan berbergerak.
Sementara Anton, dia sudah mandi dan rapi.
"Ayolah sayang, kita harus berangakat pagi, aku tidak mau kalau kamu harus terjebak macet" bujuk Anton tapi Shina belum mendengarkan.
Rencananya hari ini mereka berdua (Shian dan Anton) akan melakukan perjalanan berdua ke puncak, untuk melakukan liburan berdua dalam beberapa hari kedepan. Sebagai perayaan kecil atas keberhasilan Shina.
Setelah malam panas yang mereka berdua lewati Shina dan Anton rupanya masih memikirkan perjalanan yang jauh gila.
"Kinan!" Aim berteriak, dan terlonjak kaget dari mimpinya.
Mimpi buruk.
Saat melihat tempat Kinan saat terakhir ia lihat kosong, Aim terkejut hebat, fikirannya pun langsung kemana-mana.
Aim langsung beranjak untuk mencari Kinan dengan panik.
Saat ekor matanya melihat seseorang berdiri dibalkon Aim langsung lega. Karena itu adalah Kinan, dia sedang berjemur dan menikmati kebebasan.
Kemudian Aim memutuskan untuk berjemur bersama.
"Bos" Kinan menoleh.
"Pagi Kinan" sapa Aim.
"Pa pagi Bos" balas Kinan.
"Apa tidurmu nyenyak Nan?"
Aim hanya ingin memastikan.
"Aku tidur sangat nyenyak malam ini," jawab Kinan.
"Apa karena tiga hari yang lalu aku tidak bisa tidur dengan nyenyak?"
Kinan tersenyum menyembunyikan isi hatinya.