Oh My Boss.

Oh My Boss.
117



Setelah Aim berjalan mendekati Kinan, Amor langsung membalikkan badannya untuk menghindar diri melihat pemandangan mengerikan yang mungkin akan dilakukan sepasang suami istri ini.


Jiwa jomlo Amor meronta ketika tidak sengaja melihat kemesraan Aim dengan Kinan dari pantulan kaca didepannya, padahal Amor sangat tidak berharap akan melihatnya.


Saat melihat Kinan Aim langsung merentangkan tangannya dan mengatakan aku rindu, memanggil Kinan untuk datang ke pelukannya.


Tanpa bantahan, Kinan langsung menurut, mereka berdua berpelukan mesra cukup lama, tak lupa Aim juga membubuhkan kecupan kecupan di area yang disukainya.


"Aku sangat merindukan mu Nan. Kamu harus tau kalau seharian aku tidak bisa berhenti memikirkan mu," ucap Aim ditengah itu.


Di luar, Kinan melihat Amor mondar mandir sendirian.


Kinan melepaskan pelukannya dan memberitahukan hal ini kepada Aim.


Amor sedang berjuang mencari driver di sebuah aplikasi taxi online, namun sampai saat ini belum ada yang menerima permintaanya.


Padahal Amor sangat buru buru, karena sang Mama terus menelponinya.


Melihat hal itu Kinan lalu meminta permintaan kecil kepada Aim, agar ada yang mengantar Amor dan memastikannya sampai ke tempat tujuan.


Hal itu sangat mudah untuk Aim. Dalam sekali panggilan masalah terselesaikan.


Amor menoleh ketempat Kinan duduk bersama Aim, Amor pun memastikan kalau driver ini Aim dan Kinan yang bantu aturkan.


"Hei sayang" sebut Aim, menyeret kursinya ke dekat Kinan memeluk dan bermanja kepadanya.


"Ada apa Mas?" Tanya Kinan tanpa beralih fokus dari layar monitor di hadapannya.


"Kamu rindu aku nggak?" Tanyanya manja. Kinan hanya menjawab dengan senyuman.


"Kamu tersenyum itu tandanya kamu juga kangen aku 'kan?" Aim terkekeh senang, terus memepet Kinan dan memeluknya erat, "Kamu kenapa tidak memberi aku kabar, kamu tau? Sepanjang hari aku terus memeriksa layar handphone ku, setiap layar menyala aku fikir itu kamu, nyatanya notif yang masuk hanya dari orang orang tidak penting" ucapan Aim terdengar kecewa, "Kamu rindu aku nggak sih?" Aim kembali bertanya untuk memastikan.


Kinan menoleh kepada lelaki yang sedang memeluknya erat "Aku tidak rindu sebaliknya aku marah sama kamu Mas" Aim terkejut, spontan melepaskan pelukannya.


" Kamu marah? Apa aku membuat kesalahan?" Tanya Aim, mengernyit dalam.


"Kesalahan yang sangat fatal" marah Kinan.


Aim semakin mengernyit tak mengerti.


"Tolong jelaskan apa kesalahanku!" Pinta Aim serius.


"Apa tujuan kamu memberikan aku dress ini?" Tunjuk Kinan pada Dress yang saat ini di pakainya.


Aim cengengesan, "Ya supaya istriku terlihat cantik. Apa kamu tidak merasa demikian?"


"Mas kamu tolong jawab! Kamu pasti tau 'kan kalau dress ini tidak sesederhana itu?".


Aim hendak pergi untuk menghindari pertanyaan Kinan, namun Kinan dengan cekatan menahan Aim. Menatapnya penuh tuntutan.


"Mas jawab!" Menatap mata Aim dengan Intens, membuat Aim spontan menjawab.


"Aku hanya ingin memamerkan kamu" jawabnya enteng.


"Maksud kamu?"


"Aku, aku hanya ingin dunia mengenali kamu" Aim memperjelas maksudnya.


"Apa kamu tau betapa sulitnya hari ku karena buju ini? Gara gara baju ini, aku di intimidasi banyak orang Mas. Tapi dengan entengnya kamu menjawab kalau kamu ingin pemperkenal kan aku kepada dunia? Kenapa ini terdengar mudah bagi kamu?" Kesal Kinan merajuk emosi, namun menggemaskan di mata Aim.


Pada Akhirnya Aim hanya tertawa kecil, "Akhirnya setelah menunggu lama, hari ini terjadi juga" ucapnua di selang tertawa.


"Apa yang lucu sehingga kamu tertawa garing begitu?" Tanya Kinan saat melihat Aim tertawa tanpa sebab.


"Kemarilah!" Aim menepuk pahanya, meminta agar Kinan berpindah duduk.


Kinan menoleh pangkuan Aim dengan ekor matanya, siapa yang tidak tergiur dengan permintaan manja tersebut. Tetapi Kinan sedang marah, tidak mungkin bisa luluh hanya dengan permintaan kecil seperti ini.


Namun kenyataanya Kinan tetap tidak bisa menolak saat Aim menariknya kedalam pangkuan dan kemudian dirangkul dengan hangat.


"Dulu aku sering membayangkan bagai mana rasanya di omeli istri, aku sering membayangkan wajah gemasnya ketika memarahiku, dia marah besar lalu saat aku tertawa dia akan ikut tertawa hingga akhirnya kemarahannya hilang. Dan hari ini" mencolek pucuk hidung Kinan, "Adalah hari pertama kamu memarahiku, aku tidak akan melupakannya"


"Jangan terus mengalihkan pertanyaan ku Mas, aku menunggu alasanmu" Raut wajah Kinan masih terlihat menuntut.


"Baiklah sayangku," sekilas meraih bibir istrinya. Kinan termenggu sesaat ketika bibirnya di kecap sekilas, "Alasannya, yang pertma karena Ayah" ketika mendengar alsana itu Kinan langsung paham maksud Aim, "Dan alsan kedua karena kamu adalah istriku,"


"Tapi istri (Shina) kamu Mas?. Jujur aku tidak nyaman kamu melakukan ini kepadaku, karena saat ini banyak orang bertanya-tanya siapa aku, bahkan tak sedikit dari mereka yang berfikir kalau aku adalah selingkuhan mu,".


Aim tersenyum kecil sambil menggeleng untuk meyakinkan Kinan bahwa yang mereka katakan itu salah,


"Selingkuhan?" Aim tertawa lucu "Tidak ada selingkuhan yang di perkenalkan secara terang terangan, aku memang sengaja memberimu dress ini karena orang orang tau berapa berartinya Magoy Amba untukku, seperti pentingnya kamu dalam hidupku. Dan kamu juga harus tau, aku tidak pernah melakukan ini kepada Shina, selama dia menjadi istriku. Aku tidak pernah memperkenalkan dia kepada siapapun, kepada kerabat kepada sahabat apalagi kepada Dunia, karena bagiku dia bukan orang spesial yang kurasa penting untuk diketahui banyak orang. Jadi Mas minta kamu sadari dimana posisi kamu dan bedakan dimana posisi untuk Shina. Pernikahan kami adalah ikatan kerja yang bisa berakhir kapan saja"


"Tapi Mas, bagai mana dengan ayah kamu"


"Ssssttttt" Aim memotong ucapan Kinan, "Dia adalah ayah kamu juga, sekarang dia adalah ayah kita"


"Bagi mana dengan ayah?" Kinan mengulangi ucapannya, "Apa dia akan marah besar?" Tanya Kinan khawatir.


"Mm mungkin Ia, tapi tidak apa apa. Lagi pula pernikahan mana yang tidak dihinggapi cobaan, anggap ini cobaan untuk pernikahan kita, kita pasti bisa melewatinya" tutur Aim penuh keyakinan,. "Jadi sekarang kamu sudah mengerti 'kan alasan aku memberikan dress ini kepada kamu?" Kinan mengangguk "Aku tau pernikahan kita di tentang Ayah, tetapi aku tidak ingin meyembunyi kan kamu seperti yang ayah minta. Magoy Amba adalah satu satunya cara untuk memperkenalkan kamu. Mas minta maaf kalau dress ini sempat membuat mu tidak nyaman"


"Aku paham maksud kamu, tapi...


"Tidak ada pertanyaan lagi untuk hari ini," potong Aim "Aku lelah dan ingin istirahat sambil memelukmu, apa boleh?"


"Tidak didalam kantor Mas" bantah Kinan.


"Tidak apa apa, ruangan ku luas, disana juga ada tempat tidur yang nyaman. Kita ke sana sekarang yuk!" ajak Aim penuh semangat.