Oh My Boss.

Oh My Boss.
49



"Kamu sedang bercanda?" Dila tertawa samar, "Nak Heru ini bukan panggung teater, Nak Heru tau ini bukan saatnya untuk berakting apalagi bercanda"


"Ibu Dila memang benar, menurut Ibu Dila kira kira apa yang sedang saya bercandakan?" Aim merogoh kertas dari balik jas yang dipakainya, "Ini'kan yang ibu maksud?" Aim/Heru mempersilahkan Dila untuk membacanya, "Silahkan!"


Dila sekilas menatap Heru lalu beralih membaca kertas tersebut dengan seksama.


"Apa disitu tercantum nama Kinan? Bukankah disitu hanya tercantum nama sang pelapor? Aim Kraditaputra. Jadi sudah bisa dipastikan bukan Kinan yang menjebloskan putra ibu kedalam penjara"


Dila menghela lega, "Harusnya sejak awal saya yakin kalau Kinan tidak mungkin melakukan itu, sebesar apapun kesalahan Dirga Kinan tidak akan berhenti peduli padanya," Aim mendelik.


Mendengar itu Aim jadi geram.


"Tapi dalam hal ini Kinan juga tidak akan bisa membantu Dirga keputusan akhir tetap ada di tangan Aim, Bos kami. Memperpanjang masa tahanan atau menguranginya dia pasti mampu melakukan ini"


"Sebenarnya siapa Aim ini? Dan apa hubungannya dengan Kinan dan Dirga?"


"Dengan Dirga mungkin tidak ada, tapi dengan Kinan mungkin saja,"


Dila terdiam sejenak, memikirkan Kinan yang bisa dengan cepat mendekati seorang lelaki setelah putusnya dengan Dirga.


"Nak Heru bisakah Nak Heru membujuk Kinan?"


Aim mengernyit, "Membujuk?"


"Saya yakin Kinan memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Aim. Nak, Kinan pasti bisa membantu membujuk Aim untuk mengeluarkan Dirga dari penjara,"


Aim membuang wajah, mengendalikan diri dari emosi yang menggebu di jiwanya, lagi lagi mendengar Kinan akan dimanfaatkan.


Dila ternyata egois, dia terus memikirkan Dirga tanpa sedikitpun memikirkan perasaan Kinan, setelah semua yang Dirga lakukan kepada Kinan Dila masih bisa datang membawa permohonan untuk kebebasan Dirga.


"Tapi sayang Bos saya sangat tidak toleran kepada orang yang memanfaatkan orang disekitar dia, baik itu keluarga dekat atau teman sekalipun hanya karyawan. Dia sangat anti membantu orang orang tidak tau diri seperti itu, bagi dia memperlakukan baik orang tidak tau diri hanya akan membuang buang waktunya saja, contohnya Anda!" Heru menekan dua kata terakhir. Membuat Dila menarik tinggi kedua alisnya dan menunjukan ekspresi tidak senang.


Dila berdiri dengan menggebrak meja "Kalau kau tidak mau membantu saya jangan buang buang waktu"


Aim ikut berdiri, Merapihkan kemejanya dari sempat ia buka karena duduk.


"Jadi apa yang perlu saya bantu?" Heru berkata dengan datar diakhiri senyum puas.


"Bawakan Bos mu sekarang juga!" teriak Dila sambil menunjuk kewajah Aim. Dila mungkin merasa kesal telah dipermainkan oleh Haru.


"Aim?"


Aim tersenyum datar. Dila tak mengangguk ia melengos memalingkan wajahnya.


"Ya. Dia fikir siapa? berani mempermainkan saya?" Dila menunjuk dirinya dengan angkuh dan sombong.


Sifat asli seseorang akan terlihat saat marah/meluahkan emosinya, dan saat inilah Dila sedang menunjukkan wajah dan sifat aslinya, Dila berani menggebrak, Dila berteriak, dan menunjuk-nunjuk. Dia mungkin tidak sadar sedang berbicara dengan siapa.


Tetapi Aim tetap tenang dan berwajah sangat datar menghadapi sikap Dila.


"Tergantung orang menilai. Dia mungkin bukan siapa siapa bagi Ibu Dila, tetapi bagi keluarga, juga orang orang disekelilingnya Aim cukup disegani"


"Panggil dia cepat!" Tiba-tiba Dila berteriak geram.


Keadaan emosi Dila saat ini sangat terpengaruh oleh tekanan demi tekanan yang dia terima, baik dari Dirga yang tak tahan mendekam di penjara, dan Hanna, dia setiap hari menangis dihadapan Sila tak sabar menunggu Dila mengeluarkan Dirga dari sel. Selain itu perusahaan juga ikut terpengaruh, saat ini perusahaan yang dirintis keluarganya sedang berada dititik terendah tergoncang oleh isu penangkapan Dirga.


"Ibu tidak perlu berteriak teriak memanggilnya, karena dia (Aim) sangat peka, lagi pula tanpa ibu berteriak pun Aim bisa mendengarnya, karena dia tidak tuli" kata Heru.


"Mana Aim, panggil dia sekarang!" Dila kembali berteriak.


"Dia harus bertanggung jawab atas kekacauan yang dia buat, dia harus selesaikan masalah ini, aku perlu bicara sama dia!" Dila menoleh kiri kanan bermaksd mencari keberadaan Aim menilik dari penuturan Heru harusnya Aim berada disekitar, "Dimana Aim? Dimana dia? Kamu bilang Aim akan dengar berarti dia disekitar sini'kan? Aim! Aim!" Dila terus berteriak.


"Saya disini" Aim berkata dengan datar, sontak Dila menatap terkejut kearahnya, matanya menunjukan ketidak percayaan yang besar.


"Ka.. ka" Dila menunjuk dan dibuat gelagapan.


"Ya, saya adalah Aim Kraditaputra orang yang ibu cari, saya yang memenjarakan putra kesayangan ibu, yang ibu minta pertanggung jawaban atas kekacauan yang saya buat. Saya membuat perusahaan keluarga ibu menjadi down, yang membuat penanam saham lari kocar kacir dan hilang kepercayaan, dan satu lagi saya yang membuat cucu ibu akan lahir tanpa didampingi sang ayah. Kenapa? Ibu terkejut?"


Dila mengerat emosi karena ucapan Aim.


"Saya sudah mendengar semuanya. Tapi saya..Tidak akan bersedia menarik gugatan yang telah saya buat, karena saya telah bersunpah atas nama Kinan, sebelum Dirga bersujud meminta maaf, selama itu juga dia akan mendekam dipenjara,"


Seorang pelayan tiba mengantarkan makanan.


Mata Dila mulai berkaca-kaca saat mendengar kesumpahan Aim diatas nama Kinan.


"Kenapa, kenapa kamu lakukan ini kepada keluarga kami, apa salah kami?" Diakhir Dila berteriak dalam tangis.


"Heru tadi sudah menjelaskan bukan? Ooh ia, Heru juga sudah bilang kalau Bosnya ini tidak pernah mau bertoleran kepada orang yang memanfaatkan orang lain, harusnya ibu mulai dengarkan sejak tadi poin demi poin ini" Aim kembali duduk disuguhi makanan lezat.


Dila tak bisa menhan emosi, dia mengerang mengangkat tangannya akan menggebrak meja lagi, tetapi saat tangan masih melayang di udara Aim menghentikan dengan kalimat, "Sudah jangan emosi lagi, jangan gebrak lagi sayang makanannya nanti beterbangan, sebelum marah saya saranin minum dulu atau makan dulu jangan sampe ibu kekurangan tenaga untuk membelah meja dalam sekali gebrakan" berucaap tanpa dosa, wajah Aim sangat datar hampir tanpa ekspresi sama sekali, sementara Dila wajahnya telah terbakar emosi "Silahkan!" Aim mendorong pelan makanan dihadapannya ke dekat Dila.


"Kamu benar benar keterlaluan!" Teriak Dila.


Aim hanya tersenyum dingin tapi sinis.


"Karena kau sudah ada di sini, saya minta bebaskan anak saya!" Dila membentak, "Kamu mau uang? berapa uang yang kamu inginkan? Asal kamu bebaskan Dirga akan aku berikan saat ini juga"


Dila semakin keteraluan, membuat Aim tersinggung.


Aim berhenti mengunyah meletakkan sendok dan garpu yang dipegangnya, kemudian mengelap sisi bibirnya dengan tisu.


Mendongak menatap Dila "Berapa yang ibu sediakan untuk membayar saya? 100 juta, 200, 500? 1M? Jika saya bersedia membebaskan Dirga dan saya menentukan harga apa ibu Dila sanggup memberikan itu kepada saya?"


"Kalau itu yang kamu mau akan saya berikan saat ini juga" kata Dila kemudian merogoh handphone yang ada didalam tasnya.


Dila hampir menelpon tapi Aim mengangkat tangan untuk menghentikannya, "Tunggu dulu, jangan terburu buru karena saya belum selesai bicara. Saya menginginkan uang 500 juta saat ini juga, tapi tunggu apa nominal ini akan setara dengan harga diri ibu?"


Dila tercengang.