
Pukul 01:50.
"Bagai mana apa demamnya sudah turun?" Tanya Guna, Kinan menunjukkan tes suhu tubuh Aim kepada Guna.
38°.
"Belum, apa kita perlu membawanya ke Dokter?"
"Kamu tau Nan, laki yang tampangnya garang itu" Guna menunjuk Aim, "Dia demam rumah sakit, bukannya sembuh membawanya ke rumah sakit takutnyan akan semakin memperparah penyakitnya."
Kinan mengernyit, "Benar nggak sih?"
"Kamu nggak percaya? Tanya aja dia langsung" titah Guna.
Kinan melirik Aim, bagai mana bisa menanyainya sementara Aim terbaring tak berdaya.
"Bisa nggak sih nggak usah becanda, Bos kamu sakit Nih"
"Kamu tenang saja, dia cuma pura pura sakit aja kok, Aim seperti ini supaya kamu perhatian sama dia" Guna menepuk pelan kening Aim, lalu beranjak meninggalkannya, "Mm, dasar bucin. Oo ia Nan, aku pergi tidur sebentar ya" Kinan mengangguk mengiakan.
"Kamu juga tidur, jangan sampai dia bangun dan melihat kamu terjaga, bisa habis aku dipukuli nanti,"
"Ya, kamu tenang saja Gun"
...
Pagi harinya.
"Nan, kamu jaga Aim disini ya, aku ada rapat penting," Stelan rapi telah membalut tubuh Guna.
"Apa aku bisa mendapat izin cuti? Ibu Alya (Atasan) pasti akan marah besar kalau tau aku bolos".
Kinan tidak ingin meninggalkan Aim, namun saat ingat sikap pemarah Alya Kinan jadi ngeri sendiri.
"Nan, yang kau jaga sekarang adalah pemilik perusahaan, apa ada yang lebih berkuasa selain dia?" Guna menunjuk Aim dengan ekor matanya.
Kinan menghela, bagai mana bisa melupakan hal sebesar ini, "Maaf, fikiran ku kacau jadi tidak bisa berfikir jernih"
"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu, jaga Aim baik baik. Oh ia Nan, aku sudah menelpon Surya, sebentar lagi seharusnya dia sudah datang"
Kinan mengangguk paham.
"Dan.. didalam kulkas ada beberapa macam makanan jadi, kamu bisa menghangatkannya untuk sarapan, dan tolong buatkan juga untuk Aim"
"Siap, terimakasih Sekertaris Guna"
"Kamu tidak usah sungkan Nan, aku pergi dulu"
Selepas kepergian Guna, Kinan beranjak lali duduk disamping Aim berbaring.
"Ahh panasnya masih sama" Kinan membandingkan suhu badan Aim dengan suhu tubuhnya.
"Bos, kapan kamu akan bangun?" Tanya Kinan sambil menatap mata Aim yang masih tertutup teduh, "Cepatlah buka mata kamu dan berhenti membuatku takut," tangan Kinan merayap menyentuh pucuk kepala Aim, mengusapnya dengan penuh perasaan, "Aku sungguh tidak bisa melihatmu seperti ini. Cepatlah pulih, bukankah kamu ingin tinggal denganku?.
Bos, kamu harus tau, sebenarnya aku sangat mencintai kamu, tapi rasa cinta yang aku punya membuatku takut untuk memilikimu, aku takut kamu pergi disaat aku tidak bisa merelakan kamu menjauh, aku takut jika suatu saat kamu mulai mengajarkan aku caranya merelakan. Aku takut, waktu akan mempertemukan kita sebagai dua orang yang tidak saling mengenal, aku takut ketika dunia tak mengenaliku sebagai istrimu, tapi.. rasa cintaku padamu sangat besar, lebih besar daripada kekhawatiran yang ada. Aku percaya, takdir bisa mengubah segalanya, namun suatu saat ketika takdir berkata lain aku hanya ingin kamu tau bahwa aku sangat mencintai kamu"
Setitik air mata jatuh dari sudut mata Aim.
Kinan tidak mengetahui bahwa saat itu Aim sudah bangun dari tidurnya.
"Aku juga mencintai mu Nan, aku bersumpah, apa pun yang terjadi aku akan selalu bersamamu, meski dunia melarang, aku pantang melepaskan mu, aku bersumpah kepadamu diatas nama tuhan mu" Dalam batin Aim.
"Bos,"
"Mau pergi kemana?" Menarik Kinan hingga jatuh ke pelukannya, kemudian Aim langsung mendekapnya erat, "Tetaplah disini"
Kinan terkejut, saat tiba tiba tangan hangat meraihnya.
Kinan jadi gugup.
"Ka, kamu, Bos, sejak kapan bangun?"
"Kapan? Mmm aku memang tidak bisa tidur, kepalaku sakit" jawab Aim, semakin mengeratkan pelukannya, menempelkan dahinya ke punggung Kinan, seolah memberi tau bahwa sakitnya cukup parah.
"Jadi,..."
Aim tertawa kecil, "Aku mendengar semuanya," Kinan terperanjat hendak bangun tetapi Aim kembali menahannya, "Tetaplah begini, aku membutuhkan kamu Sayang"
"Aku akan menyiapkan sarapan untuk kamu," memberi alasan agar bisa menghindar.
"Kamu tidak usah membuatkan sarapan, lagi pula selera makanku hilang, tetaplah begini, aku ingin memelukmu lebih lama"
Di atas sofa yang tidak terlalu luas itu sepasang pengantin saling berdempetan, disini Aimlah yang paling mendominasi.
"Tapi aku lapar" Kinan kembali memberi alasan.
"Aku bisa pesankan makanan untuk kamu, jadi diamlah jangan banyak bergerak. Saat ini aku hanya ingin memelukmu, aku sangat merindukan kamu Nan, bolehkah meminta waktumu sebentar?"
Kinan mengangguk meng-iakan.
Hembusan nafas yang keluar dari mulut Aim masih terasa panas di punggung Kinan, itu berarti demamnya masih belum turun, bahkan Kinan merasa gerah berada dipelukan Aim, saking panasnya suhu tubuh itu.
"Nan,"
"Mm"
"Apa kamu mau mendengar sesuatu?"
"Apa? Apa kamu mau bercerita, Bos"
Aim mengangguk.
"Apa yang ingin kamu ceritakan? Aku akan mendengarkan mu" -Kinan.
"Ini bukan sebuah cerita, hanya sebuah pengakuan, Nan. Dan aku ingin agar kamu mendengar dan mengingatnya sa.. mpai kapan pun. Apapun yang terjadi, yang harus kamu ingat yang harus kamu pegang dan yang harus kamu dengar, Aku mencintai kamu Nan, aku mencintai kamu sampai kapan pun, aku ingin agar kita terus seperti ini sampai tua kita nanti. Aku minta agar kamu terus mencintai aku dalam kondisi apapun, kita mungkin akan bertengkar, ribut, saling marah, dan saling membenci, tapi apapun yang terjadi nanti aku ingin kamu tetap bersabar, aku ingin kamu tetap di sisiku, lalu kita akan berbaikan lagi kita bisa tersenyum lagi saling memaafkan dan kita jalani kehidupan kita selanjutnya, kita mengurus rumah tangga membesarkan anak anak dan melihat mereka tumbuh dewasa, apa kamu bersedia, Nan?"
"Aku mau, asal dengan satu syarat"
"Kamu mengajukan sarat? Kalau begitu silahkan ucapkan syarat mu"
"Jika suatu saat kamu menemukan perempuan yang lebih baik daripada aku dan kamu berniat berpaling dari hubungan kita, aku minta tolong cari'kan aku lelaki yang lebih baik dari pada kamu," -Kinan.
"Kenapa permintaannya aneh begini? Itu tidak mungkin Nan, aku tidak mungkin melakukan itu," ucap Aim sambil terkikik geli.
"Ya, kita 'kan tidak tau apa yang akan terjadi kedepannya, aku hanya ingin agar kamu terus ingat permintaan aku ini, jika kamu sayang dan cinta aku, maka kamu tidak akan pernah mencarikan aku pengganti mu apalagi berniat mencari pengganti aku, kamu mengerti maksud ku 'kan?" -Kinan.
Aim mengangguk paham, setelah sempat beberapa detik mencerna permintaan Kinan.
"Baiklah aku setuju, dan akan aku buktikan bahwa tidak akan ada perempuan lain selain kamu, dan tidak akan ada lelaki lain selain aku, camkan itu Ok"
Kinan menyunggingkan senyum saat Aim menekan beberapa kalimat.