Oh My Boss.

Oh My Boss.
68



Menikmati udara yang masuk diketinggian puluhan lantai, dekat dengan burung terbang yang senantiasa liar tanpa beban. Kinan berulang kali menghirup dan melepasnya penuh kebebasan.


"Apa begini rasanya menjadi orang kaya?" Menoleh tipis kearah Aim, yang berdiri disamping sambil memandang lurus.


"Apa yang kamu fikirkan tentang orang kaya?" tanya Aim datar. Balas menoleh.


"Kebebasan, popularitas, uang, kemewahan, pangkat, sosialita, dan semua yang diipikan banyak orang, termasuk semua yang ingin aku aku miliki"


"Apa kamu fikir jadi orang kaya menyenangkan?"


"Ya," Kina mengedik tak tau "Setidaknya kamu bisa melakukan segala sesuatu dengan uang. Kamu bisa membeli ini, membeli itu, melakukan ini melakukan itu, kamu bisa pergi ketempat yang kamu mau dengan uang yang kamu punya" -Kinan.


Aim tertawa samar, "Kamu benar, tapi ada satu hal yang tidak bisa kamu dapatkan dengan uang," -Aim.


"Apa itu?" Kinan menoleh sambil bertanya.


"Kebahagiaan. Sebanyak apapun uang yang kamu punya tidak akan bisa kamu belanjakan untuk membeli kebahagiaan"


Kinan langsung diam.


"Oo ia Nan, hari ini kamu tetap disini'kan? kalau kamu pulang sekarang khawatir tanteu Mina masih nyari kamu"


Aim langsung menjawab sendiri takut Kinan akan menolak permintaan dirinya.


Tapi Kinan akhirnya mengangguk setuju.


"Kalau begitu aku pergi ke kantor dulu. Kamu tinggallah disini dengan tenang" Aim kemudian bergegas menuju kamar, mengganti pakaiannya, dan mengenakkan setelan rapi.


"Nan,"


"Bagai mana penampilanku?"


Kinan yang sedang menunduk fokus membaca terperanjat kaget karena Aim telah berdiri dihadapannya, memamerkan ketampanan, kegagahan dan kerupawanannya.


Siapapun akan terkesima melihat wajah itu, apalagi saat dengan sengaja memamerkannya dihadapan.


Kinan sampai tidak bisa berkata-kata.


Kinan hanya melongo kagum.


Aim mengibas-ibaskan tangannya didepan wajah Kinan sambil tersenyum gemas.


"Hei, ada apa? kau terkesima Nan?" goda Aim. Reflek Kinan mengusap mata dan menundukkan pandangannya. Aim memang sosok sempurna dimata Kinan.


"Bos, kenapa harus tanya aku?" Kinan memalingkan wajahnya kesisi lenggang.


"Ya, karena disinikan cuma ada kamu"


Ahh..


"Bos benar"


"Lihatlah" Aim memegang dagu Kinan menunjukkan betapa sempurnanya dia untuk mendapatkan cinta dan pujian.


Dag, Dig, Dug.


Detak jantung Kinan berpacu. Wajah pias karena gugup.


Bagai mana mampu menatap Aim lebih lama, perasaan aneh selalu muncul bersamaan.


Ting, tung,


Bunyi bel beberapa kali ditekan.


Aim menoleh, melepaskan sentuhannya di dagu Kinan kemudian beranjak melihat siapa yang lancang memencet bel sepagi ini dan merusak suasana. Padahal Aim sedang menikmati wajah Kinan yang malu malu merah padam menggemaskan.


Setelah Aim berjalan cukup jauh Kinan mendesah lega.


Bagai mana bisa jantungnya mau copot seperti ini, Kinan tak bisa percaya bahwa Aim baru saja menyentuhnya.


Merasa seperti mimpi, Kinan menepuk-nepuk pipinya berulangkali.


"Selamat pagi Bos"


Yang memencet bel dengan tidak sabar tenyata Guna.


Melihat hanya Guna yang datang Aim sampai ingin menjitaknya 1000x.


"Pagi" balas Aim ketus,. "Ada apa?" imbuhnya tanpa beranjak dari daun pintu.


Guna menarik seseorang, ternyata dia tidak datang sendiri.


"Dia"


Menunjukkan, setengah mendorongnya kehadapan Aim.


"Ah. Amor, kamu datang? apa karena Kinan?"


Aim langsung mengerti tujuan Amora.


"Ii.. iya," Amor berkata dengan sangat hati hati, tau diri dengan siapa saat ini dia berdialog.


"Apa Kinan disini?" Tanya Amora.


"Dari mana kamu bisa yakin?"


"Aku hanya menebak, semalam kita berpisah saat Kinan masih bersama Bos, jadi aku hanya ingin bertanya, itu saja"


"Benar, dia memang disini" Aim membuka lebar daun pintu yang langsung menampak'kan Kinan.


Tanpa permisi Amor langsung masuk sambil meneriakkan 'Kinan'.


Amora lega, karena sahabatnya ternyata baik baik saja.


Seharusnya Amor yakin bahwa Aim akan menjaga Kinan dengan baik.


"Nan kamu baik baik aja'kan?"


Amor memeluk, merangsaki tubuh Kinan, mengecek barangkali ada yang sakit atau dilukai, "Kamu tidak apa apa'kan, Nan?"


"Aku baik baik aja Mor, kamu nggak usah khawatir. Bos kamu itu ternyata orangnya baik, dia tidak mungkin menyakitiku"


"Kinan benar"


Kata Aim yang saat ini berjalan mendekat diikuti oleh Guna.


"Tapi, aku sangat khawatir Nan, dari semalam aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkan kamu, aku takut kamu bertemu lagi dengan orang jahat seperti tanteu Mina."


"Kamu nggak usah khawatir Mor, mulai sekarang akulah yang akan melindungi Kinan" ucap Aim.


"Nggak Mor," Imbuh Kinan.


"Silahkan duduk" Aim mempersilahkan Amor. Sementara Guan tanpa dipinta pun telah duduk lebih dulu.


Setelah sempat bercengkrama beberapa saat, Aim pamit berangkat kerja bersama Guna.


Kinan mengangguk mempersilahkan.


"Eh. Loe, nggak berangkat kerja?" tunjuk Guna kepada Amor yang masih duduk berniat berangkat seperti dirinya dan Aim.


"Gue kesiangan," Amor melirik pergelangan tangannya, "Masuk jam begini bisa didepak atasan gue"


"Emang kalo nggak masuk sekali pun loe bisa yakin nggak bakal didepak?" Guna menyindir.


"Ya, gue kan bisa cari alasan besok"


"Alasan?" Guna melotot dan mengernyit, "Alasan seperti apa? loe yakin alasan loe bisa nolong posisi loe? gue depak baru tau rasa loe. Lagi pula mau loe ngasih alasan, mendrama bagai manapun Bos loe udah tau semuanya kok," Amor pun tersadar. Ia baru ingat kalau Bos yang ia maksud, sekarang sedang berdiri dalam ruang yang sama dengan dirinya. Amor meringis merutuki kebodohan dirinya.


"Jadi pergi kerja sekarang!" perintah Guna tak ingin dibantah. Sementara Aim dan Kinan hanya tersenyum tipis.


"Nan"


Amor mengharap pembelaan.


Kinan pun tidak bisa berbuat banyak.


"Hehe,,.. Kamu pergi kerja aja ya Mor, kamu harus yakin atasan kamu tidak akan mendepak kamu"


Amor beralih menatap Guna dengan tatapan permohonan, menatap Guna dengan so' imut dan memanja-manjakan ucapannya.


"Baiklah. Aku pergi kerja sekarang juga, tapi janji jangan didepak ya" bujuk Amor kepada Guna.


Guna menoleh kepada Aim, dan Aim mengangguk mengiakan untuk membebaskan Amor.


"Kami pergi dulu, baik baik disini ok. Jangan menghilang lagi" Ucap Aim lembut saat mengusap halus pucuk kepala Kinan.


"Aku sudah memesankan sarapan untuk kamu, nanti akan ada orang yang mengantarnya kesini"


Kesekian kalinya Aim telah berbalik, seolah enggan meninggalkan Kinan.


"Kamu harus janji nggak kemana mana Ok"


Kinan mengangguk berisi janji untuk tetap tinggal.


"Tunggu aku pulang" Ucap Aim.


Bahkan saat telah menutup pintu Aim masih mnyempatkan diri untuk menengok Kinan kedalam ruangan.


"Dah" ucapnya sambil melambaikan tangan.


"Dah" balas Kinan.


Tidak dapat dipercaya, Kinan mendapatkan Bos yang memberinya perlindungan, perlakuan baik dan kehangatan seperti berkeluarga.


Sadar atau tidak Aim telah memberikan bersikap lebih yang membuat Kinan nyaman.


Perasaan hangat yang tidak pernah Kinan rasa setelah ditinggal pergi oleh sang Ayah.


...


Selepas keluar dari dalam unit, Aim Guna dan Amor berjalan beriringan menuju lift hingga ke parkiran.


Sepanjang perjalanan ada orang yang tak berhenti menyunggingkan senyum kecil, dia adalah Aim.


Setelah memastikan Aim duduk dengan nyaman, Guna lalu masuk, duduk didepan kemudi.


Sementara Amor masih berdiri mematung sebab tidak ada yang mempersilahkan dirinya.


Amor pun dibuat bingung, tidak kudah mendapatkan kendaraan umum diarea mewah seperti ini.


"Gun, suruh Amor masuk" Pinta Aim. Guna ingin menolak keberatan tapi tidak bisa membantah permintaan bosnya ini.


Guna menurunkan kaca mobil, "Hei..Masuk" Ucapnya ketus, enggan berbicara panjang lebar.


Dengan senang hati Amor menerima tawaran itu, saat Amor telah membuka pintu depan, Guna menolak.


"Dibelakang!" ketusnya.


Guna sengaja melakukan itu untuk menjauhkan Amor dari tempatnya duduk, sekaligus memberi tamparan keras kepada Aim karena telah mengizinkan Amor ikut satu mobil bersamanya.


Guna masih marah kepada Amor atas kejadian tadi malam.


Amor tak bisa menerima perintah itu, tidak mungkin bagi dia untuk duduk disamping Bos besar yang amat ia segani.


"Masuklah Mor, kita tidak bisa menunggu lebih lama" pinta Aim.


Dari pada mengulur waktu lebih panjang, Amor mutuskan masuk tanpa bantahan. Meski nantinya sepanjang perjalanan Amor akan merasa gugup terus menerus.


"Jangan minta buang Air kalau tidak mau aku turunkan ditengah jalan" Air muka Guna masih keruh.