
"Aku akan datang," akhirnya setelah beberapa saat menimbang Aim menyetujuinya. Shina tersenyum licik, berfikir dia telah berhasil membujuk Aim untuk datang bersamanya, menoleh dingin ke arah Kinan yang duduk di samping Aim, "Tapi bukan untuk menemani mu. Aku datang karena, sampai kapan pun Ayah Dheo adalah Ayah kedua untukku"
Seketika bibir Shina memincuk karena kesal pada keinginan Aim.
Shina mencoba realistis menghadapi sikap dingin Aim, yang membuat kepalanya ingin pecah.
"Terima kasih karena telah bersedia hadir Im" ucap Shina mendayu-dayu dihadapan Kinan. Menunjukkan sikap yang santun dan menjukkan betapa baiknya dia, melebihi Kinan.
Bahkan sempat membuat Kinan terkagum dengan sikap yang di tunjukkan Shina, tapi lain dengan Aim.
Aim tersenyum miring, "Apa yang membuat mu seperti ini Shin?. Kau kerasukan?. Sejak kapan kau belajar berterima kasih, jangan kan berterima kasih bukankah untuk menghormati orang lain saja kau tidak tau" sindir Aim sambil menggeleng tak yakin dengan sikap Shina, Aim kemudian berdiri.
Merasa jengah dengan Sikap yang di tunjukkan Shina, Aim lantas mengusirnya.
"Pulanglah Shin, aku tak punya banyak waktu untuk mendengarkan semua omong kosong mu" berkata dengan dingin tanpa bantahan.
"Mas," Kinan berkerut dahi, memberi isyarat kalau ucapan Aim keterlaluan, namun Aim tak perduli, ia bergegas menuju ke kamar menuntun Kinan, tak perduli meski Kinan meminta untuk duduk sesaat lagi. Kinan merasa tidak enak dengan Shina yang telah di perlakukan buruk oleh Aim.
"Im" sebut Shina, menghentikan langkah Aim tanpa menoleh.
"Aku ingin kamu menemani ku mencari kado untuk Ayah," meminta dengan sangat.
Tiba tiba genggaman Kinan terasa mengerat di jemari Aim.
Kinan mungkin tidak terlihat cemburu, tetapi dalam hati Kinan sungguh tidak rela jika Aim harus pergi berdua dengan Shina.
Sejak tadi Kinan memang diam untuk menghormati Aim dan Shina sebagai tamunya.
Namun Shina terus memberinya aram yang menyulut cemburu, namun kali ini pun Kinan tidak bisa berbuat apa apa selain menunggu keputusan Aim.
Aim pun paham akan perasaan yang sedang di tunjukkan Kinan, untuk itu Aim langsung menolak dengan mengatakan 'Tidak'
.
Setelah Shina pergi, kini Aim dan Kinan sedang duduk di kursi saling berhadapan untuk menikmati sarapan pagi dengan tenang, masing masing memiliki sepotong roti dengan isian sayur dan segelas susu putih, mereka berdua sudah berpakaian rapi dan siap pergi ke kantor., Sesekali mata nakal Aim menilik Kinan dari atas hingga ke bawah, perempuan ini memang sosok sederhana yang sempurna.
Setelah roti dan susu habis, karena masih merasa lapar, Kinan lalu mengambil sekotak buah untuk memuaskan rasa laparnya.
"Bumil ku tersayang" sebut Aim sambil berjalan ke dekat Kinan yang berdiri di depan kulkas sambil melahap buah di tangannya, menaruh piring bekasnya makan ke washtapel kemudian mencucinya.
. Kinan terlihat bersemangat memangsanya, hingga membuat Aim gemas sendiri.
"Maaf Mas, aku benar benar lapar" berfikir mungkin Aim akan merasa geli dengan tingkahnya.
"Tidak apa apa," mengelap tangan lalu menyapu rambut yang berantakan menutupi wajah Kinan, "Makanlah perlahan, kau memang harus makan lebih banyak agar bayiku mendapat asupan gizi yang cukup, kalau perlu Mas akan membeli semua toko yang menyediakan buah di kota ini untuk kamu, supaya kapan pun kamu menginginkan buah kamu tinggal memilih dan mengambilnya,"
"Jika kamu melakuakan itu maka aku akan berhenti memakan buah" berhenti sesaat lalu kembali mengunyah.
Aim mengernyit menunggu alasan kenapa Kinan tiba tiba berniat berhenti.
"Aku malu dengan orang orang penjaga toko, mereka bakal mengira aku serakah sehingga membeli semua toko buah di kota ini" Kinan memberi alasan, "Lagi pula aku tidak makan sebanyak itu, karena aku bukan kuda nil" memanyun kesal.
Aim tertawa mendengar penjelasan tersebut.
"Hhah. Baiklah, Mas tidak jadi membeli toko buah, sebutkan saja buah apa yang ingin kau nikmati, Mas akan siap menyediakannya didalam kulkas untukmu setiap harinya, kau tidak boleh merasa lapar agar putra kita juga tetap kenyang (Mengusap lembut perut Kinan)"
"Baiklah, apa kita sudah boleh berangkat sekarang?" Tanya Aim setelah sekilas mengecup dahi Kinan penuh kasih.
Kinan mengangguk, "Ia" katanya.
Di dalam perjalanan dengan susana yang hangat, Kinan dan Aim duduk dengan Aim bersandar melekat di bahu Kinan, tak melepaskannya sedikit pun.
"Sayang, sore ini. Aku jemput ke bawah ya, kita pergi ke Dokter kandungan sama sama" tanpa beranjak dari bahu Kinan.
"Aku bolos kerja emang Bos ku nggak marah?" Menoleh dengan senyum kecil, yang ia maksudkan adalah Aim.
Aim mengangkat kepalanya lalu menoleh dengan tatapan kesal, "Bos mu akan memecat mu, kalau kau tidak menuruti keinginannya"
Kinan menaggapinya denga mengulum senyum kecil.
"Jam dua nanti aku jemput kamu, ok"
"Baik Bos" berbisik sambil tersenyum, menunjukkan seringai gemas.
Ditengah itu Aim mendengar handphonenya berdering, Aim segera menyambarnya dari dalam saku, "Ya Guna, kebetulan loe nelpon. Tolong kosongkan jadwal dari jam dua siang ini" perintah Aim tanpa melihat siapa yang memanggilnya.
"Im, ini Mama" tiba tiba suara perempuan timbul di balik layar yang di pegang Aim.
Aim termenggu saat itu juga.
"Mama," menegakkan punggungnya dan duduk dengan benar, "Maaf Aim tidak melihat ke layar. Mama ada apa memanggil Aim?" Aim menoleh, melihat wajah Kinan jadi pias. Kinan diam mencermat.
"Tidak apa apa Im. Im, hari ini ada waktu?" Tanya Rania di sebrang telpon.
"Waktu?" Aim gelagapan saat Rania berkata demikian, Aim berniat mengatakan jadwalnya penuh, tapi tadi terlanjur menceritakan bahwa jam 2 akan mengosongkan jadwal.
"Beberapa hari lagi Papa Dheo berulang tahun, Mama dan Papa berniat mencari kado untuknya, tapi Mama tidak punya waktu jadi Mama mau Aim yang pergi mencarinya hari ini"
"Oh soal itu, baik, hari ini akan Aim usahakan mencarinya".
"Baguslah, kebetulan hari ini pun Shina berniat mencari kado untuk Om Dheo, jadi kalian bisa pergi sama sama. Shina, sekarang dia ada di rumah kita. Kamu jemput dan pergi sama sama ya!"
"Shina?" Aim seketika berucap. Perempuan itu Aim yakin dia sengaja mendatangi Rania, meminta Rani untuk membujuk dirinya agar mau pergi menemaninya berbelanja,
"Perempuan itu memang licik" batin Aim mendesis emosi.
"Tapi hari ini Aim ada janji Mah"
"Janji dengan siapa? Bukankah kamu tadi sempat meminta Guna mengosongkan waktumu, jadi kamu mau pergi kemana?" Selidik Rania.
"Aim ada janji untuk...." Aim hendak mengatakan akan pergi ke klinik kandungan tetapi Kinan berisyarat agar Aim tidak mengatakan apapun. Aim keberatan dengan permintaan tersebut namun Kinan bersikeras.
"Im, kali ini Mama tidak mau mendengar alasan apapun, Mama mau kamu pergi dengan Shina Oke!" Rania langsung menutup panggilan tanpa mau mendengarkan penjelasan Aim.
Raut Aim berubah kesal, menoleh ke arah Kinan dengan tatapan bersalah.
"Sayang"
Aim berat untuk membiarkan Kinan pergi ke klinik sendirian tetapi Rania tidak mungkin di bantahnya.