Oh My Boss.

Oh My Boss.
134



"Lihatlah nak," tunjuk si ibu kepada menantunya, "Suami mu sungguh keren, pekerjaan dia sangat menjanjikan, dia akan menemui Bosnya sekarang, lihatlah betapa mengagumkannya dia" kata si ibu kepada anaknya yang tampak tidak peduli.


Awalnya si ibu tampak begitu senang, ketika melihat menantunya berdiri untuk menemui Aim. Namun sedetik kemudian wajahnya jadi mendung ketika melihat Aim telah melangkah sebelum menantunya berhasil menyapanya.


"Berhentilah memuji menantu mu. Dia (Bos/Aim) kaya bukan karena menantumu ikut bekerja di perusahaannya, tapi karena memang potensi mereka sangat besar, yang di handle oleh menantu mu tidak lebih besar dari helai rambut di kepala Bos nya, jadi berhentilah mengagum-agum kannya, seolah di dunia ini orang hebat hanya dia saja" delik sang anak, tidak suka dengan sikap sang ibu yang begitu melebih lebihkan menantunya.


.


Aim tampak terkejut saat bertatap muka dengan lelaki yang sempat terserempet olehnya.


Aim baru sadar ternyata dialah Dokter yang akan menangani Kinan.


Masih jelas di telinga Aim teriakan beliau saat jatuh terduduk di aspal,.


"Panas panas, panas" katanya, sambil menahan pantatnya yang bersentuhan dengan aspal.


Jika di ingat kembali hal itu terdengar lucu.


"Silahkan berbaring" pinta lelaki ber nametag Bima tersebut dengan ramah, mendekat ke blankar yang di sediakan.


Kinan pun segera mengikutinya, naik di dua titik tangga, Aim dengan sigap membantu Kinan.


"Kita mulai dengan mengontrol detak jantung janin. Sebelum ini apa ibu dan bapak pernah pergi mengecek kandungan?" Tanya Dokter dengan senyumnya yang ramah.


Kinan menoleh ke arah Aim, mereka berdua kompak menggeleng.


"Baiklah, di usia kandungan ke empat Ibu dan Bapak sudah bisa mendengar detak jantung bayi mungil kalian yang lima bulan lagi akan lahir ke dunia, akan menangis kencang dan berteriak untuk yang pertama kalinya" jelas Dokter panjang lebar, "Kita akan mulai sekarang ya" Dokter Bima mulai menempelkan alat ke perut Kinan, dan mulailah terdengar detak jantung yang sama seperti ketukan tak beriringan.


Aim terlihat sangat terharu, menggenggam jemari Kinan dengan lembut, hingga setitik air mata menyentuh kulit Kinan.


"Ini adalah kali pertama ku mendengar detak jantungnya, ternyata sangat indah" ucap Aim, menyeka Air mata yang keluar begitu saja, Aim sungguh bahagia. Sangat besar sehingga tidak akan mampu mengungkapkannya.


Kinan berpaling dari layar monitor, dan melihat wajah Aim yang dipenuhi haru bahagia.


"Mas" sebut Kinan.


"Tidak apa apa, aku sangat bahagia"


"Sungguh harmonis" sindir Dokter Bima, tanpa mengalihkan tatapannya dari monitor. Kinan dan Aim saling diam.


"Sebelumnya, aku bertanya tanya apa yang membuat seorang lelaki begitu tergesa-gesa, menyerempet bapak paruh baya hingga terduduk di aspal"


Aim menggaruk tengkuknya yang tak gatal oleh protes Obgyn Bima,


"Saya minta maaf, sebagai tanda saya merasa bersalah akan saya kabulkan dua permintaan bapak, apapun itu"


Kinan terbelalak mendengar perkataan Aim, ada kesimpulan yang Kinan rangkum dari ucapan suaminya.


"Kamu nyerempet orang Mas?. Benar? Bagai mana keadaannya sekarang? Apa dia baik baik saja?" Tanya Kinan panik.


"Dia baik baik saja," jawab Obgyn Bima, "Hanya kulit pantatnya sedikit terkelupas, dan terasa perih" tambahnya.


"Saya minta maaf" ucap Aim lirih penuh sesal.


Kinan menatap keduanya secara bergantian, tidak bisa memahami situasi yang terjadi.


"Awalnya saya sangat marah, karena Anda saya telat 20 menit. Tetapi setelah saya tau alasannya dia terburu buru saya jadi mengerti, saya pun paham tidak ada yang lebih penting dari memenuhi kewajiban kepada istri, dan saya sangat menghargai itu, jika saya di posisi dia saya pun akan melakukan hal yang sama. Nona sangat beruntung bisa mendapatkan suami seperti ananda ini. Tapi ingat! Lain kali lebih perhatikan lagi jalan sekitar mu, jangan sampai kamu melukai orang lain karena urusan mu" pepatah Dokter.


"Ya, itu adalah kesalahan saya juga. Sebenarnya saya juga sedang terburu buru. Seminggu sebelumnya saya mendapat telpon dari Dokter Surya, dia mengatakan kalau istri orang nomor sekian (Penting) di negara ini akan melakukan pemeriksaan di klinik saya. Saya sangat gugup, saya berniat datang lebih awal agar tidak membuat klien penting saya menunggu, tetapi jadwal hari ini sangat padat hingga menghabiskan banyak waktu saya, saya lari karena terburu buru, hingga tidak sengaja menabrak mobil yang saat itu sedang melaju cepat, saya duduk mencicipi panasnya aspal di pertigaan itu." jelas Obgyn Bima panjang lebar, sambil menahan tawa, karena menurutnya adegan terduduk itu cukup lucu.


"Ah panas panas" Bima ingat betul kalimat yang ia ucapkan saat itu.


"Sekali lagi saya minta maaf" ucap Aim.


"Jadi yang Mas Serempet itu Dokter Bima?"


Aim dan Dokter Bima mengangguk kompak.


Kinan meneliti Obgyn Bima dengan seksama,.


"Sudah tenang saja, saya baik baik saja kok, hanya pantat saya terasa sedikit tipis" kata Bima dengan konyolnya.


Kinan menatap lagi Aim dan Bima dengan wajah panik, sedetik kemudian wajahnya mulai terlihat tenang, saat melihat Obgyn tampak baik baik saja.


"Saya sudah lama, sekali bermimpi ingin bertemu dengan pemilik perusahaan LK, beliau sungguh memiliki jasa besar atas berdirinya rumah sakit ini. Tidak disangka kami malah di pertemukan dengan cara...


"Yang hampir membuat jantung saya copot" potong Aim..Obgyn Bima tertawa kecil oleh ucapan itu.


"Baiklah pemeriksaannya selesai," Kinan segera bangkit saat Obgyn Bima telah kembali ke tempat ia duduk.


Obgyn Bima merekap hasil pemeriksaanya. Kinan dan Aim maju dan duduk di kursi yang telah disediakan.


"Ibu dan janin, semuanya normal, detak jantung, nadi. Semuanya sangat baik" Obgyn menjelaskan sekilas.


Aim mencermati, kemudian mengangguk paham.


"Ini adalah resep yang harus di tebus dan ini adalah janin kalian" Setelah memberikan tulisan tangan yang sedikit sembarangan Obgyn mengasongkan kertas hasil USG kepada Aim, Aim langsung menyambarnya, dengan penuh semangat.


"Dan ini adalah jadwal untuk bulan depan" mengasong'kan sebuah buku yang sebagiannya telah berisi catatan tangannya, "Tolong diperhatikan baik baik".


"Dok, sekecil ini apa kelaminnya sudah bisa terlihat?"


Obgyn tersenyum saat melihat Aim begitu penasaran,


"Di pemeriksaan ketiga kita akan mendapatkan hasilnya" jelas Obgyn.


Aim tampak tidak keberatan, "Baiklah, setiap bulan saya akan datang dengan senang hati" menoleh ke arah Kinan yang duduk di sebelahnya, tersenyum bangga, "Di pertemuan ketiga saya akan mulai mempersiapkan nama yang indah untuk putra dan putri saya"


Obgyn terkekeh saat mendengarkan celotehan penuh semangat itu.


"Kamu terlalu terburu buru Mas" sela Kinan.


"Tidak apa apa, karena aku sangat menantikan ini"


"Baiklah. Tugas ibu adalah menjaga asupan Gizi untuk dia dan calon bayinya, dan tugas ayah adalah memastikan makanan sehat dan bergizi tinggi tersedia setiap hari didalam rumah."


"Siap Dok" dengan sigap Aim menyahuti.


"Dan satu lagi, tugas Ayah adalah memastikan kondisi emosi ibu tetap stabil, jangan stres! karena itu akan sangat berdampak pada kondisi janin yang ia kandung"


"Saya akan berusaha melakukan yang terbaik untuk menjaganya" menatap Kinan dengan penuh perasaan, menggenggam jemari lalu menciumnya.