Oh My Boss.

Oh My Boss.
155



Keluar dari kediaman Arman Shina menyunggingkan senyum puas, penuh kemenangan.


"Anak itu benar benar keterlaluan!" Pekik Arman, memukul ke udara.


"Gelagat perempuan itu sangat tidak baik, tapi Mama heran. Kok bisa Aim menikahinya, apa dia di ancam?" Tanya Rania menawarkan kesimpulan, "Atau Aim punya rahasia fatal yang di sembunyikan perempuan itu?"


"Mah, ini bukan sinetron. Berhentilah menebak nebak, lagi pula apa pentingnya itu semua. Yang perlu di perhatikan sekarang hanya bagai mana membuat Aim bisa lepas dari perempuan itu?."


"Tapi, perempuan itu sedang hamil, bagai mana bisa kita melepaskan mereka" -Rania.


"Sebentar lagi anak haram itu akan lahir. Ayah tidak mau di permalukan, kita tidak mungkin berdiam diri begini" -Arman.


"Lagi pula siapa yang mau menerima anak tidak jelas itu, dia bukan keturunan kita, bila perlu kembalikan kepada ayah kandungnya" Rania membantah dengan keras.


"Tapi bagai mana jika ternyata ayah kandungnya adakah Aim?" Fikir Arman.


"Tapi pernikahan mereka itu terlarang. Jelas jelas perempuan itu hadir di saat Aim masih bersama Shina, siapa yang mau menerima anak pelakor" -Rania menekan kalimatnya, "Tidak ada anak sebelum pernikahan" Rania memperjelas.


Arman akhirnya hanya bisa diam memahami penjelasan Istrinya, masuk akal.


"Apa Aim menginginkan anak itu? Kenapa dia mau mempertahan Kinan dan anaknya padal tak jauh lebih baik dari Shina" -Arman.


"Kita harus melakukan sesuatu untuk memisahkan mereka." -Rania.


"Tapi bagai mana kalau ternyata anak itu milik Aim? apa kita akan membuang cucu? jelas jelas kita sudah menunggu cukup lama" -Arman.


"Aku tidak mau menerima anak dari perempuan mana pun, kecuali Shina" Rania bersikeras. Tetapi tidak dengan Arman.


...


Malam pesta kemudian.


Malam yang meriah sangat meriah, tamu undangan dan Tuan rumah saling sapa dan jabat tangan, terletak lilin dengan angka 52 yang sudah padam.


Semua kerabat, memberikan selamat dan ikut bersuka cita dengan pesta mewah yang di suguhkan Dheo.


Shina berdiri dengan gaun cantik, sanggul kecil dan kerli di bagian muka membuat parasnya semakin cantik,


Banyak orang mengagumi kecantikan Shina, beberapa lelaki menggodanya dengan mengatakan "Suami mu sangat beruntung mendapatkan istri secantik dirimu,"


Tak sungkan, lelaki lain bahkan mengatakan "Kalau kamu jadi janda jangan lupa hubungi aku" godanya.


Para undangan telah memenuhi area pesta, namun Shina masih menunggu seseorang untuk datang, Shina tampak sangat penasaran menunggunya.


"Apa mereka tidak datang?" gumam Shina.


Tak lama kemudian, datanglah Arman beserta Istri (Rania) namun tidak dengan Aim, mereka tampak datang hanya berdua saja,


"Lalu kemana dia?" Gumam Shina kemudian, "Dia tidak mungkin tidak datang 'kan? lalu bagai mana dengan rencana yang sudah aku susun. Apa semuanya akan berantakan?" berkata dalam hati.


"Kenapa? seseorang yang kau tunggu belum juga muncul?" tanya seorang lelaki yang tak lain adalah kekasih Shina.


Shina hanya mengangguk tipis, mata menoleh memberikan isyarat agar lelaki itu tidak terlalu dekat dengan dirinya.


Anton mengerti, ia langsung pergi setelah mendapat tatapan itu.


"Nasib jadi simpanan" decak Anton sambil berlalu meninggalkan Shina.


"Pergilah jangan membuat keributan, aku tidak mau hubungan kita berakhir" lirih Shina saat Anton mulai berlalu.


Shina masih berdiri dengan mata memantau ke pintu kedatangan, menunggu Aim membawa Kinan seperti permintaan Dheo.


Shina berniat menjadikan momen ini untuk menghancurkan harga diri Aim di depan banyak orang.


Namun Aim tak kunjung datang, membuat Shina merasa kesal sendiri.


Menunggu buruannya yang di rasa telah lepas.


Di luar,


"Mas," Kinan terlihat ragu untuk masuk, meski mobil telah sampai di ujung karpet merah, namun Kinan berniat untuk kembali.


"Sayang, kita sudah di sini tidak mungkin kembali 'kan? kamu percaya sama aku ya! semuanya akan baik baik saja, kan ada aku di sini"


"Tapi mungkin, disini aku satu satunya orang asing buat Om Dheo" Kinan terus merasa ragu.


"Kita semua kelurga, Om Dheo adalah papa aku kamu dan aku pergi sama sama, ok" Aim terus berusaha membujuk.


"Tapi....