Oh My Boss.

Oh My Boss.
145



Selain itu mereka berdua juga tampak ingin saling mengalahkan dalam permainan, meski suami istri namun keduanya tampak tak ingin ada yang mau mengalah, baik Kinan mau pun Aim.


Sehingga membuat permainan semakin seru.


Kinan dan Aim sama sama tertawa di selang saling bersaing.


Kinan terus tertawa sampai perutnya terasa sakit, "Aduh perutku" kata Kinan, sekilas mengusap perutnya yang terasa pegal karena terus tertawa.


"Mana yang sakit?" Spontan Aim mendatangi Kinan untuk mengecek keadaanya, tak ada lagi yang ia pedulikan selain Kinan.


"Tidak ada, aku hanya terlalu banyak tertawa" jelasnya segera. Kinan tidak ingin melihat kecemasan di wajah Aim lebih lama lagi.


Langsung kecemasan itu hilang, "Baiklah, kita berhenti ya(Meminta dengan lembut). Aku tidak ingin kamu kesakitan lagi"


"Apaan si, cuma sakit perut karena banyak ketawa, masa suruh berhenti" gerutu Kinan.


"Ia, aku takut perut kamu kenapa kenapa" menjatuhkan bola basket ke tempatnya.


"Mas, perut aku sehat. Perut aku kuat, kamu nggak dengar Dokter Bima tadi?" Kinan tiba tiba kesal saat Aim menyuruhnya berhenti, Kinan masih berusaha mengejar poin yang di miliki Aim.


"Tapi sayang, bisakah kita berhenti, aku takut kamu kecapean. Kamu juga terlalu banyak melompat kita berhenti ya" bujuk Aim dengan sabar.


Akhirnya Kinan melemparkan bolanya dengan tidak rela, lalu meninggalkan area basket mini yang tersedia di tempat tersebut.


Kemudian Kinan dan Aim beralih ke tempat lain, tepatnya ke permainan cabut hadiah dengan hadiah utama sebuah handphone seharga 1 juta.


"Mas kamu bisa dapetin itu nggak?" Tanya Kinan sambil menunjuk handphone yang terpajang.


"Mmm" Aim terlihat berfikir, dalam otaknya merumuskan permainan agar bisa tepat sasaran ke angka yang ia inginkan, otak itu pun menerka berapa kali kemungkinan yang bisa Aim dapat dari melempar satu koin per sepuluh kali lemparan, dan menghitung berapa kemungkinan yang ia dapatkan dalam lemparan itu.


"Tapi untuk apa?. Bagai mana kalau aku tidak menang? Lagi pula itu merek handphone yang cukup murah. Kalau kamu mau aku bisa membelikan kamu lebih dari sepuluh"


"Aku tidak mau, tapi permainannya tampak seru, lagi pula permainan ini menggunakan rumus matematika yang cukup rumit masa kamu tidak tergiur untuk menunjukkan kemampuan kamu" kata kata Kinan tampak sederhana namun penuh dengan ledekan.


"Oke, jadi kamu menantang aku nih ceritanya?" Menyingsing lengan baju penuh semangat.


"Kamu belilah koinnya! Jika aku menang jatah ku malam ini harus dua kali lipat"


"Kalau kamu kalah, kamu harus puasa selama satu bulan"


"Deh lama amat" ketus Aim tak terima, "Nih" mengasongkan uang ke tangan Kinan.


"Ingat syarat aku" Goda Kinan.


Dengan senang hati Kinan menuruti permintaan Aim. Dalam hati tertawa mendoakan kekalahan untuk Aim, biar dapat jatah libur selama satu bulan, tawanya dalam batin.


Sementara Kinan membeli koin yang di perlukan, Aim tengah merenung memikirkan berapa kali kemungkinan ia menang dalam sepuluh kali lemparan.


Setelah Kinan kembali dan rumus di temukan Aim segera melempar koin, lemparan yang Aim miliki adalah 10x.


Aturan permainan adalah 1x per lemparan Aim akan mendapat 10 poin, namun jika pelempar mendapat 3x menang berturut turut bisa langsung mendapat jakpot sebesar 200 poin.


Telah banyak orang melakukan lemparan ini, namun tidak ada yang berhasil sampai ke poin yang mereka inginkan.


Aim pun mulai melakukan lemparan ke udara.


Lemparan pertama gagal, orang orang bersorak memberi semangat.


Yang ke dua pun sama,


"Hayo semangat," teriak Kinan, beserta orang orang yang berkerumun dalam permainan tersebut.


Lemparan ketiga Aim mulai mendapatkan poin. Lamun di lemparan ke empat Aim kembali kalah, hingga lemparan berikutnya.


Di lemparan ke enam Aim mulai berfikir jernih, menghitung tinggi lemparan dan daya dorong Angin di tempat tersebut.


Aim mulai melempar dengan tegang, dan penuh harap, keyakinan kali ini tidak akan salah lempar.


Di lemparan ke enam Aim kembali mendapatkan poin, namun batu terhitung sepuluh poin, karena lemparan yang sebelumnya telah di anggap gagal.


Aim menoleh ke arah Kinan dengan bangganya, namun Kinan malah mendelik menganggapnya belum ternilai sebelum permainan berakhir.


Aim pun membalas dengan tatapan penuh keyakinan bahwa permainan akan di menangkan olehnya.


Aim kembali menatap ke udara, dengan konsentrasi kembali melempar koinnya ke udara.


Lemparan ke tujuh kembali di menangkan, kini tinggal menunggu satu kali lemparan untuk menang.


Orang orang bertepuk riang saat Aim memenangkan lemparan ini.


Namun mereka pun masih bertanya tanya, apakah handphone itu akan di menangkan oleh Aim? Atau harus ada pemain berikutnya.


Aim tiba tiba berjalan ke dekat Kinan, setelah itu ia berbisik, "Jika aku menang bolehkah aku mencium mu di sini?" Pertanyaan konyol itu spontan mendapat plototan tajam dari Kinan.


Tanpa merasa bersalah Aim lantas kembali ke tempatnya berdiri sebelumnya, sementara Kinan mengcut dan ngedumel tanpa suara.


"Menang menang," orang orang bersorak, penasaran menunggu Aim melempar koinnya kembali, mereka pun saling mengira Aim akan menjadi pemenangnya.


"Lempar lempar!" sorak orang orang tak sabar untuk menunggu.


"Kalau saya menang saya akan mengajukan satu syarat kepada istri saya"


Tatapan orang orang beralih kepada perempuan yang di tunjuk Aim,


"Saya mau dia mencium saya di tempat ini sambil di saksikan oleh kalian semua, apa kalian setuju?" Teriak Aim, orang orang antusias bersorak setuju, namun tidak dengan Kinan, Kinan mengecut sambil berisyarat keberatan dengan permintaan tersebut.


"Oo ia. Di malam yang penuh dengan kesenangan ini, saya juga ingin menyampaikan sesuatu kepada istri saya. Saya minta kalian semua bantu mengaminkan doa saya ini, dan semoga menjadi doa juga bagi yang ikut mengaminkannya." orang orang saling menoleh dan berbisik setuju.


"Sayang, sehat selalu ya, jaga kesehatan kamu dan kesehatan bayi kita." Suasana tiba tiba jadi hening, orang orang terfokus kepada Aim, "Aku selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu, kamu sehat, bahagia dan banyak orang yang sayang kamu" serentak orang orang berkata Aamiin. "Dan satu lagi, lihatlah ke sekeliling kamu, mereka akan menjadi saksi betapa aku mencintai kamu, I Love You, Kinan" kata Aim yang diikuti dengan sorak haru.


"Love you too Mas" balas Kinan dengan suara setengah berbisik, Kinan pun ikut dibuat haru oleh ungkapan tersebut.


Tidak terasa mata Kinan telah berkaca, ucapan Aim memang selalu berhasil menyentuh hatinya yang rapu.


"Aku akan melempar," berkata dengan penuh semangat.