
Kinan berjalan keluar dari ruang Direktur sambil berjalan menoleh kiri dan kanan, disisi itu semua orang sedang berbisik bisik tentang dirinya kasak kusuk mata dan pembicaraan menilai buruk dirinya.
"Terus dong dipepet,"
''Kesempatan dalam kesempitan sih ini"
"Seperti ular yang diumpani ayam" Dapat dong peluangnya."
Lalu yang lain menatap dengan rendah "Lama lama di ruangan Diektur ngapain?" Yang lain menyahuti.. "Selain ngerayu dengan tubuh ya apalagi? Semua orang tau kali, tubuh adalah jurus terjitu untuk naik satu peringkat, yaa palingan besok bakal tiba tiba ada kabar kenaikan pangkat secara tiba-tiba."
Kinan terus dicibir hanya karena telah berlama lama diruang Direktur padahal mereka sendiri tau apa yang menimpanya tadi, tapi entahlah mereka menganggap itu sebagai alasan untuk mendekati Direktur Aim.
Kinan tidak mengerti dengan pemikiran dari setiap kata yang mereka layangkan kepanya, tidak juga mencoba mencerna, dan akhirnya Kinan membiarkannya begitu saja.
Hanya senyum kecil yang bisa Kinan berikan untuk mereka serta pura pura bodoh dengan apa yang keluar dari mulut semua orang.
Terserah dengan yang sedang kalian fikirkan, aku adalah aku dan kamu adalah kamu, kamu berhak bicara dan aku berhak tidak perduli.
Selepas pekerjaan usai Kinan merapihkan barang barangnya, setelah sempat sekilas menoleh ketempat Amora yang kosong Kinan beranjak untuk pulang.
Kinan menjadi Khawatir akan keadaan Amora, terakhir dia berkelahi dengan Amira, Kinan tau Amira bukan orang biasa yang bisa berdamai begitu saja.
Kinan memutuskan untuk mendatangi rumah Amora.
Kedatangan Kinan disambut dengan hangat oleh keluarga Amora terlebih Amora sendiri yang langsung berlari menghampiri Kinan saat tau sahabatnya itu datang kerumahnya.
"Kinan" Amora meraih tangan Kinan lalu menyeretnya masuk kedalam rumah.
"Duduk Nan!" Suruh Amora, Kinan pun menurutinya. "Bi.. Minta jus mangga, dua!" Teriak Amora girang, dia tak bisa menyembunyikan perasaan senangnya dari kedatangan Kinan, Kinan sempat menggosok telinganya yang mendengung karena teriakan Amora.
"Mor apa terjadi sesuatu? Kenapa kamu tidak ada di kantor?" Tanya Kinan Khawatir.
Amora tersenyum paksa, "Aku kena saspen 1 minggu Nan" katanya cengengesan, seolah tidak sedang terjadi apa apa padanya, dan seperti itu bukan masalah buatnya.
Kinan menghela, "Sudah aku bilang'kan? Kamu nggak boleh nyari masalah sama Amira jadi gini'kan akhirnya?"
Amora meraih tangan Kinan, "Ya udahlah Nan aku nggak apa apa kok cuma seminggu nggak lama Kok" katanya tak keberatan.
"Kamu yakin nggak papa?" Tanya Kinan meyakinkan.
Amora menepuk punggung tangan Kinan, "Nggak papa Nan, lebih dari itu juga nggak apa apa aku malah puas udah ngejambak dan mencakarnya" tambah Amora, dia malah terdengar bangga dan puas.
"Aku minta maaf ya, karena aku kamu jadi diberhentikan sementara" keluh Kinan merasa bersalah.
"Udaah nggak usah minta maaf, dengan senang hati aku melakukan itu, lagi pula bukan kamu yang nyuruh'kan?" Amora kembali cengengesan wajahnya tak sedikitpun terlihat menyesal.
"Oo ia Nan, bagai mana perutmu? Apa masih terasa sakit, maaf ya aku tidak sempat menolong kamu, aku tadi panik banget aku jadi gugup dan bingung, tapi aku juga perlu mengurus nenek lampir itu" Amora mengeluh kecewa. "Tapi untung pak bos baik itu datang, dan langsung memberimu pertolongan." Kinan mengangguk setuju pada pendapat Amora yang mengatakan 'Bosnya itu sangat baik'
"Aku baik ko' tadi Bos Aim langsung memanggilkan Dokter." Imbuh Kinan. Amora menghela lega.
"Silahkahkan di minum Non" seorang pembantu rumah tangga Amora menyodorkan dua gelas jus mangga yang sebelumnya diminta Amora.
"Diminum Nan" Amora mengambil bagian Kinan dan menempatkannya didepan Kinan. Kinan menganggukinya.
"Ooh jadi namanya Aim?" Amora terlihat senang ketika Kinan memberi tahukan nama atasannya yang tampan rupawan itu.
Amora pun tersenyum menyembunyikan perasaan kagumnya terhadap Aim, terbersit perasaan ingin tau lebih jauh tentang laki laki tampan itu. "Enggak.." Kilah Amora, dia pura pura mengecap jusnya mengalihkan pertanyaan Kinan.
"Kenapa?" Kinan mencubit pelan pinggang Kinan "Ada yang kamu sembunyikan?" Amora menelak dan terbahak mendengar pertanyaan Kinan.
"Nggak Nan, nggak ada.."
"Wajahmu memerah loh Mor" Goda Kinan sambil menunjuk wajah Amora. Amora gelagapan menepuki wajahnya yang sedikit terasa panas.
"Kamu naksir ya?" Selidik Kinan terus menggoda.
Amora meraih telunjuk Kinan, "Nggak Nan, nggak." Kilahnya.
"Naksir juga nggak apa apa kali Mor, lagian dia tampaaan" Kinan terkikik kagum, sambil menangkup wajahnya Kinan membayangkan wajah menawan Aiman apalagi membayangkan saatnya tersenyum.
"Tapi dari kabar yang aku dengar, Direktur itu sudah beristri" kata Amora sambil menghela kecewa, Kinan spontan menoleh.
"Benarkah?" Kinan terlihat kaget, dahinya berkerut sempurna karena tak percaya, mengingat perhatian Aim padanya yang berlebihan membuat Kinan sedikit tak yakin.
"Ia, tapi selama ini aku nggak pernah liat pak Direk membawa perempuan"
"Apa ia, dia sudah menikah?" Kinan masih tak percaya, seandainya benar kenapa di Unit tidak terlihat tanda tanda perempuan? 'Bukannya selain Aim hanya ada seorang lelaki?' Batin Kinan menggertu penuh tanya.
Kabar itu ternyata bukan hanya dia yang mendengarnya tapi Amora juga tau.
"Oh, ia Nan, kamu belum jawab pertanyaan ku" tanya Amora.
"Pertanyaan yang mana?" Kinan mengambil jus lalu mengecapnya, sebelum berhasil menyeruputnya dengan nikmat Kinan sempat terhenti karena bau jus tersebut tercium aneh, membuatnya sedikit mual.
Kinan merungut bau , "Mor jusnya udah lama ya?"
"Hah, jusnya kenapa emang?"
"Baunya sedikit aneh Mor," Kinan kembali mengendus aroma jus tersebut.
Amora ikut menyesap jus milik Kinan, "Nggak kok Nan, jusnya baru, aku sendiri yang membelinya kemarin, dan kalo nggak salah exp.. masih lama"
Kinan diam sebentar, "Mungkin hidung akunya lagi gangguan Mor"
Amora menatap Kinan, "Kamu sengaja ngalihin pertanyaan aku lagi kan Nan?" Gerutunya kesal.
"Bukan Mor, emangnya kamu mau nanya apa?"
"Kamu tadi nginep di Apartemen siapa?" Selidiknya penasaran.
Sambil mendengarkan ocehan Amora Kinan yang masih penasaran akan bau jus yang disodorkan Amora terus menciuminya, tapi seperti sebelumnya Kinan akan langsung merasa mual tatkala menciumnya, biar begitu Kinan masih penasaran kemudian memberanikan diri untuk menyeruputnya dan benar saja, "Uooooooo" Spontan jus itu keluar Kinan muntah kan.
Amora yang sedang berceloteh dengan pertanyaanya pun langsung bergerak panik, dia memboyong Kinan ke kamar mandi "Nan, kamu kenapa?" Amora pelan pelan memukul pundak Kinan.
Sementara Kinan masih memuntahkan semua yang masuk kedalam perutnya.
Selesai membasuh mulutnya Kinan segera menegakkan badannya, "Nggak tau Mor, mungkin asam lambungku naik" jelasnya. Kinan meremas perutnya yang nyeri sambil mengurut kepalanya yang terasa pening.