
Kinan tertawa kecil lalu melepaskan cubitannya dari dagu Aim, "Hahah. Oh jadi itu yang membuat kamu aneh seperti ini?" Kinan masih tertawa saat hendak kembali ke masakannya tapi sebelum itu Aim telah mencekalnya hingga Kinan pun jatuh terduduk dipangkuan Aim.
"Katakan siapa dia" tekan Aim, memegangi Kinan erat.
"Dia. Kamu cemburu padanya Mas? Dengan begini apa kamu mengakui kalau dihati aku dia nomor satu?" Kinan terus terkikik untuk menggoda suami yang sedang mencemburuinya kini.
"Aku tidak perduli siapa pun dia, tapi aku tidak suka ada orang lain dihati kamu, aku ingin aku nomor satu dan aku satu satunya".
"Tidak bisa, dia nomor satu dan kamu nomor berikutnya" -Kinan terus menggoda, "
Tetapi Aim malah semakin serius, "Katakan sekarang Nan, katakan dia siapa? Apa kamu tidak menganggap serius pernikahan ini? Apa kamu berfikir masih bisa menyimpan orang lain setelah kita menikah? Jujur aku tidak suka sikap ini Nan".
"Apa kamu mencemburuinya, Mas?"
"Aku tidak perlu cemburu pada siapapun, karena aku ini lelaki berkelas yang pantang untuk bersaing apalagi mencemburu'i lelaki lain yang mendekati perempuan ku, katakan saja siapa dia jika kamu benar benar menginginkan dia biar aku sendiri yang mengantarkan kamu kepadanya"
Kinan melayangkan tatapan kesalnya kepada Aim yang berniat merelakannya untuk orang lain.
"Lepaskan aku!" Mulai merajuk.
"Tidak! Sebelum kamu mengatakan siapa dia"
"Akan aku katakan saat kamu mengakui kalau kamu cemburu, dan setelah aku mengatakannya kamu juga harus berjanji mengantarkan aku kepadanya" bernada kesal.
"Baiklah asal kamu jujur aku berkata kalau aku cemburu padanya, cepat katakan sekarang!"
"Dia satu satunya orang yang tidak bisa aku temui sampai sekarang, dan mungkin aku tidak akan menemuinya sampai kapan pun, dia adalah satu satunya orang yang masih aku rindukan sampai saat ini,"
Aim berwajah geram saat Kinan mengatakan masih merindukannya sampai saat ini, "Sebut saja nama dia! Jangan berbelit belit" pekik Aim pelan namun syarat akan tekanan.
"Baiklah, dengan begitu kamu setuju untuk mengantarkan aku kepadanya?"
"Aku akan mengikhlaskan mu dengan lelaki mana pun asal kamu senang hidup dengannya, sekarang pun aku akan mengantarkan kamu. Siapa dia!"
Kinan lalu melepaskan pelukan Aim di perutnya, "Kamu pergi lihat saja sendiri, aku fikir belum saatnya ikut dengannya tapi jika kamu tidak ingin aku disini kamu bisa mencarikan aku lelaki baik yang mau menanggung hidupku dan bersedia menjadi ayah anak yang aku kandung, menjadi seorang ibu bisa saja aku lakukan, tapi posisi ayah tetap tidak bisa aku duduki." mengatakannya dengan nada dingin.
Kinan beranjak meneruskan aktifitas memasaknya tanpa menoleh kearah Aim yang mulai membawa kursinya ketempat Kinan menaruh tasnya.
Beberapa saat kemudian setelah melihat photo tersebut.
Rangkulan tak ingin kehilangan dan penuh dengan penyesalan mendekap tubuh Kinan, desiran nafas penuh sesal memenuhinya,
"Sayang aku minta maaf, aku minta maaf! Aku sungguh tidak bermaksud mengatakannya, aku tidak mau kehilangan mu, aku mencintaimu, aku tidak akan sanggup merelakan mu dengan lelaki lain, aku tidak akan sanggup hidup tanpamu. Maaf! Aku terlalu cemburu sehingga tanpa mengontrol diri mengatakan itu, tolong jangan anggap serius perkataan ku"
"Kamu tiba tiba marah dan berkata serius, bagai mana aku tidak menanggapinya"
Aim semakin mengeratkan pelukannya ditubuh Kinan, "Aku mohon, aku ingin kita tetap hidup bersama merawat putra putri kita, melihat mereka tumbuh dewasa, dan menua bersama"
"Mas, lepaskan pelukanmu, aku tidak bisa hidup dengan lelaki yang akan merelakan pasangannya untuk orang lain, jika kamu benar mencintaiku seharusnya kamu tidak akan mengatakan apapun yang mengarah pada perpisahan"
"Aku minta maaf sayang, aku tidak bermaksud, aku terlalu cemburu sehingga tak bisa mengontrol emosiku, aku tidak akan mengulanginya lagi, apapun yang terjadi kita harus tetap bersama, aku bersumpah akan terus menemanimu".
"Lepaskan pelukanmu, mas"
Kinan diam beberapa saat. Sampai menyadari Aim hampir terjatuh karena tidak bisa menyeimbangkan tubuhnya yang masih lemas.
"Mas, mas" Kinan segera menahan Aim, kemudian mengembalikannya ke kursi roda, "Kenapa harus maksain diri sih mas?"
"Aku hanya ingin kamu memaafkan ku,"
"Aku sudah memaafkan mu Mas, lain kali jangan lakukan ini!"
"Aku minta maaf" -Aim lagi lagi Aim memohon.
"Maaf mu aku terima" -Kinan, dengan senyum tulus.
"Bolehkah aku memelukmu?" Aim merentangkan tangannya.
Kinan tersenyum kecil lalu menuruti keinginan suaminya.
"Aku bahagia bisa memilikimu Sayang, aku tidak ingin kehilangan kamu. Maafkan kecemburuan ku"
"Baguslah, untungnya aku suka saat melihat mu cemburu seperti ini, tapi aku tak ingin mendengar mu merelakan ku untuk lelaki lain,. Jika ucapan itu akan teucap lagi lebih baik aku pergi sekarang juga, sebelum aku semakin nyaman dengan kamu"
Aim pun semakin menguatkan pelukannya, "Aku bersumpah,. Karena aku ingin kamu selamanya disini"
Membelai perut Kinan, "Nak, maafin ucapan Ayah, Ayah gegabah, padahal Ayah sangat tidak mau kehilangan kalian berdua"
Kinan tersenyum kecil, dalam hati mengagumi sosok Aim yang baginya sangat sempurna. Aim tampak menyayangi bakal bayi didalam kandungannya meski itu bukan darah daging Aim, Kinan merasa tersentuh akan hal tersebut,
"Apa, kita bisa makan sekarang?" Tanya Kinan pada Aim yang sedang asik berbicara dengan janin diperutnya.
"Kamu baik baik disana Nak, disini Ayah akan menjaga mu, menjaga ibumu dengan baik. Oo ia Nak, kamu tau tidak? Kalau ibu mu ini sangat cantik, dia cantik saat tersenyum, dia juga cantik saat dia marah, nanti kamu harus seperti ibu ya Nak, supaya Ayah bisa mendapatkan dua wanita cantik sekaligus," Kata Aim kepada janin dalam kandungan Kinan "Sudah lapar ya Sayang?" Tanya Aim kepada Kinan sambil mendongak sejenak.
"Mm..." Kinan mengangguk, "Ternyata gombalan mu tak cukup membuatku kenyang"
Aim memasang wajah cemberut, "Tapi aku tidak sedang menggombal'i mu, karena semua yang aku katakan kenyataan" bantahnya.
"Ya, ya, kamu emang paling bisa" menghadapkan wajah Aim ke wajahnya, lalu mengecup bibirnya sekilas. Setelah itu Kinan cepat berlalu sambil tersenyum malu, saat Aim masih terpaku menikmati sentuhan dominan yang terjadi tiba tiba itu.
"Hei," memasang wajah penasaran dan tak rela diperlakukan singkat, mengejar Kinan dengan kursi rodanya, "Kau mulai mahir melakukannya, tapi kau tak bisa melakukan itu dengan tiba tiba dan pergi begitu saja, apa kamu tidak pernah berniat melakukannya lebih lama? Atau sengaja membuat aku penasaran?" Gerutu Aim manja.
Kinan hanya menoleh tipis sambil tersenyum geli.
Merengkuh sebentar lalu berjalan melewati Aim yang bersikeras menuntut mengulangi adegan yang diperankan Kinan beberapa saat yang lalu, "Pergi ke meja makan, hari ini aku akan melayani mu, tapi jangan berfikir macam macam!"
"Tapi Sayang,. Yang kamu lakukan barusan, aku tidak berniat pergi ke meja makan, aku ingin diantar ketempat tidur" mengikuti langkah Kinan seterusnya.
"Jangan aneh aneh kamu Mas, mau tambah sakit?. Kamu mungkin bisa menahan rasa lapar mu, tapi bagai mana dengan bayiku?"
Aim pun terkesiap, baginya ketika sudah bersangkutan dengan janin tak ada tawar menawar lagi, apapun akan dia lakukan.
Not: Photo yang Aim kira gambar seorang lelaki ternyata gambar seorang perempuan yang Kinan sayangi, itu adalah satu satunya photo ibundanya yang tertinggal, Kinan akan membawanya kemana pun ia pergi