
Pernikahan telah bubar, Aim telah membawa pengantinnya pulang.
Duduk satu mobil dengan Aim membuat Kinan merasa tidak nyaman, canggung, gugup, segala hal yang tidak bisa diungkapkan membekukannya.
Apalagi lelaki yang kini menyandang setatus suami itu terus menoleh dan melemparkan senyum manis. Kinan semakin tidak karuan saja.
Ditengah perjalanan Aim sempat menerima panggilan, percakapan keduanya terdengar saling melempar emosi.
Kinan tidak mengerti apa yang Aim dan penelpon bahas namun perasaannya mulai tidak nyaman.
...
Dheo mengatur nafasnya yang berat, mencoba mengendalikan diri untuk tidak marah atau pun emosi. Kekecewaan terlihat menggunung dari wajah Dheo.
"Ayah tidak percaya kamu melakukan ini Shina, ayah tidak pernah mengajarkan kamu untuk melakukan hal buruk, namun sekarang ... Ayah merasa pendidikan yang ayah berikan sangat buruk" di akhir kalimat Ayah Dheo tersengal-sengal menahan kesedihannya.
Ayah Arman mendapati Shina sedang bersama seorang lelaki didalam kamar hotel, di Belitung.
Projek yang Aim katakan ternyata adalah Shina, Ayah Arman tidak pernah menyangka Shina benar benar melakukan hal gila didalam pernikahannya, seperti kata Aim.
Shina terduduk sambil menengis, tak jauh dari kursi roda Dheo.
Awalnya Arman sengaja membawa Shina ke kediamannya untuk menghindari Dheo. Arman berniat menanyai Shina dan meminta penjelasan, namun tidak disangka Dheo malah datang kerumah Ayah Arman disaat Arman meminta penjelasan itu kepada Shina.
Mau tidak mau Arman menjelaskan semuanya.
Ditengah itu Aim pun datang beserta Kinan, Dheo sengaja memanggilnya.
Aim terkejut, dia tidak pernah berniat melaporkan perselingkuhan Shina kepada Dheo, tetapi sekarang niat itu terlambat.
"Ayah, Shina," Sapa Aim. Aim mengernyit sesaat saat mendapati Shina tertelungkup ditempatnya.
Aura peperangann sedikit terendus masih hangat.
"Kenapa duduk disitu, Shin?" Tanya Aim.
Shina mendongak dengan mata masih basah. Menatap Aim dengan kebencian.
Aim terkejut dibuatnya, melihat air mata yang menggenang dipelupuk mata Shina.
Dheo pun terlihat masih memendam emosi.
"Minta maaflah kepada Aim" ucap Dheo kepada Shina dingin.
"Ada apa ini Yah?"
Aim melemparkan tatapan penuh pertanyaan kepada Arman, mengenai alasan kenapa Shina harus terduduk seperti itu.
"Kenapa harus pura pura Im?." Sahut Shina, dingin, penuh emosi dan mengerikan, "Kamu yang menghendaki ini terjadi'kan?" Tiba tiba berteriak, "Kau sengaja menunjukkan kalau aku buruk didepan semua orang padahal kesalahannya ada padamu, kau lemah, kau yang harus disalahkan!"
Mendengar lontaran itu semua mata penuh tanya beralih kepada Aim.
Kinan ikut masuk ke kediaman Aim, namun sengaja Aim suruh duduk tak jauh dari tempatnya berdiri sekarang, hanya terhalang tembok saja.
Mendengar teriakan Shina, Kinan sedikit mempertanyakan apa yang terjadi, teriakan Shina cukup jelas terdengar dari tempatnya duduk.
"Aku?" Aim menunjuk dirinya, Aim tidak mengerti mengapa Shina berkata demikian.
"Kalian tidak bisa terus menyalahkan aku selingkuh, kalian harus tau kalau sebenarnya," Shina menunjuk Aim "Dia, lelaki tidak berguna, dia lumpuh dia tidak bisa memenuhi kewajibannya sebagai suami"
Sontak Arman terkesiap, menatap Aim menuntut penjelasan.
"Benarkah itu Im?" Tanya Arman.
"Im" Dheo menimpali.
"Apa benar Shina selingkuh karena kau..." Arman tak jadi melanjutkan perkataannya, ada rasa kecewa yang tiba tiba datang saat mendengar pengakuan dari Shina.
"A.. ak" Aim akan mengakui bahwa dirinya tidak seperti yang diucapkan Shina, Aim berniat mengatakan dengan jelas semuanya, dan mengatakan kalau semua ini hanya salah paham.
Namun, saat bersamaan Kinan beresin sehingga Aim ingat pada satu hal.
Mengaku sakit tidak akan membuat siapapun terluka.
Aim akan membiarkan Shina pergi dengan lelaki yang ia cintai seperti yang dia inginkan, dan Aim akan berusaha mendapatkan cinta yang dia mau.
Dengan begitu tidak akan ada yang terluka lebih dalam.
Lagi pula bukan saat yang tepat untuk mengatakan bahwa Shina telah meracuni dan membuat dirinya payah dalam memenuhi kewajibannya sebagai suami.
Kalimat itu membuat semua orang tegang, terutama Kinan. Kinan terkejut, tapi masih menunggu apa yang akan dikatakan Aim selanjutnya. Dalam hati merasa tidak yakin Aim memiliki kekurangan itu.
"Benar, kau yang harus minta maaf Im, kau telah menyembunyikan kekuranganmu, kau lelaki lemah, tidak berguna, kau impoten Im" Shina berteriak tanpa ragu.
Gigi Aim gemerutuk menahan kemarahannya kepada Shina.
Shina terlalu pandai berbicara sehingga Aim sendiri tidak bisa menandinginya.
Harga diri Aim sebagai lelaki sedang diinjak injak oleh Shina.
"Aku minta maaf"
Hanya itu yang bisa Aim katakan saat ini.
"Aku akui kekurangan ku, untuk itu aku bersedia menceraikan kamu Shina, mulai sekarang kamu bisa mencari lelaki sempurna seperti yang kau inginkan" -Aim.
"Apa apaan itu Im?" Teriak Arman, "Ayah tidak akan menyetujui perceraian kalian, tidak, sampai kapan pun!"
"Ayah, kita harus sadar, ayah harus sadar bahwa aku bukanlah lelaki sempurna, Shina berhak mendapatkan apa yang dia mau" kata Aim penuh sesal, "Ayah tidak boleh mencegah Shina, dia berhak mendapat kebahagiaannya sendiri"
berkata seolah dirinya benar benar sakit.
Dheo diam tak berucap, Dheo menyesal telah menyalahkan dan memarahi Shina dengan gila, tanpa menanyakan apa penyebab Shina melakukan itu, Dheo merasa malu dengan dirinya sendiri dihadapan Shina.
"Sebenarnya Ayah tidak mau kalian bercerai" ucap Dheo lirih, Dheo lalu pergi mengayuh rodanya sendiri.
"Berdirilah Nak!" Arman memboyong Shina, "Ayah minta maaf, karena telah berbuat kasar, ayah tidak tau kelemahan putra ayah, Ayah mohon maaf kan Ayah" pinta Arman merasa bersalah.
Shina hanya mengangguk kecil, sudut mata meneriakkan kemenangannya.
..
Setelah semuanya mereda, Shina keluar dari rumah itu bersama Dheo.
Shina sempat melewati Kinan yang duduk diruang tamu, Shina tidak peduli pada siapapun yang ada didalam rumah itu.
Selepas Shina pergi.
"Ayah,.." panggil Aim, terdengar serius.
Hati Arman masih terluka, dia tidak bisa menerima kekurangan putra semata wayangnya, Arman masih tidak percaya itu terjadi.
"Ayah, Aim akan mengurus surat perceraian secepatnya, maaf karena telah mengecewakan kalian"
Arman yang berdiri memunggungi Aim terpaksa menoleh dengan berat, "Ayah tidak ingin kalian bercerai Im, Kita semua bisa berusaha, kita berobat dan kamu bisa sembuh Im,"
"Yah, Ayah tidak tau seperti apa kondisi Aim, Aim ingin agar Ayah menghargai keputusan ini"
"Tidak Im, ini tidak benar. Kamu bisa sembuh, dan kamu bisa kembali kepada Shina,"
"Tidak perlu Yah, meskipun Aim sembuh Shina belum tentu bisa menerima Aim sebagai suaminya,"
"Im, kamu anak tunggal keluarga kita, perusahaan LK, jika kamu tidak memiliki keturunan siapa yang akan meneruskan perusahaan?. Kamu harus berobat dan memiliki keturunan Im"
"Akan Aim coba cara terbaik. Mengenai keturunan bukankah kita bisa mengadopsi seorang anak?" -Aim.
"Yang ayah mau, hanya keturunan kita. Kamu harus berusaha Im" pinta Arman sambil melenggang penuh kecewa.
"Aim sudah memilikinya Yah"
Shina dan Dheo bersiap pergi dari kediaman Arman.
Didalam mobil yang belum dilajukan Dheo sempat mengutarakan isi hatinya kepada Shina, meminta maaf karena sempat menyalahkan Shina dalam pernikahan ini, Dheo mengatakan kalau ke kacauan ini disebabkan oleh kelalaiannya, tidak memeriksa calon menantunya dengan baik. Dheo tampak menyesali semua itu.
Dalam Shina tersenyum penuh kemenangan.
"Maafkan Shina Yah. Karena Shina tidak bisa bertahan dalam kondisi ini, maaf karena Shina terlalu menuntut kesempurnaan"
"Tidak apa apa Nak, kamu berhak bahagia," ucap Dheo sambil mengusap halus kepala Shina. Dheo lalu melaju dengan kendaraanya, terpisah dengan Shina karena Shina membawa kendaraannya sendiri.
Shina menatap kepergian Dheo, "Terima kasih karena Ayah telah memahami Shina"
Di akhir tersenyum licik.
...