
"Tidak," Kinan menggeleng menolak kenyataan "Ayah tidak mungkin melakukan ini kepadaku," Kinan meremas kertas wasiat itu dan membuangnya, "Ayah tidak mungkin melakukan itu, semuanya palsu!" Teriak Kinan sambil menangis sesenggukan.
Mina menoleh tatapannya mengikuti gulungan kertas yang dibuang Kinan, Mina tertawa samar "Kenapa Kinan? Apa kau merasa sedih? Bagaimana Kinan? Bagai mana rasanya diusir oleh orang yang paling kau sayang? Ooohh miris sekali nasibmu Kinan ckckckck " Mina menggeleng prihatin diakhiri tawa puas.
"Aku ingin tetap disini kalian tidak boleh mengusirku," ucap Kinan, tertunduk memohon.
Mina berjalan-jalan kecil dihadapan Kinan "Tidak Kinan!" Tolak Mina tegas.
"Mah Kinan Mohon! Kinan akan melakukan apapun asalkan Mamah jangan mengusirku" mohon Kinan. tetapi Mina terdiam tak bergeming, beberapa saat tiba-tiba dia memikirkan sesuatu, "Baiklah kau bisa tetap tinggal disini tapi dengan satu syarat"
Kinan lansung mendongak, harapannya untuk bisa tetap tinggal sepertinya cerah, senyum semangat tersungging dari bibir Kinan. Memenuhi permintaan Mina seperti menghasilkan uang untuk mereka, mencuci, mengepel, menyetrika, menyediakan makanan atau bahkan memenuhi keinginan Mina untuk memiliki satu barang mewah sudah biasa Kinan lakukan kali ini pun mungkin Mina akan meminta hal yang sama apapun itu Kinan siap memenuhinya biarpun itu mahal bahkan sampai menguras semua gaji dan tabungannya.
"Apa yang Mama inginkan? Kinan akan memenuhinya" kata Kinan semangat.
"Menikahlah dengan Dirga Kinan, itu yang ku mau, dan kau akan aku izinkan tinggal disini sampai kapan pun"
Kinan terdiam wajah yang sempat cerah kembali mendung.
Permintaan itu Kinan harus mempertimbangkannya kembali untuk itu Kinan sempat diam tak mengiakan ataupun menolak.
"Diam mu ku anggap jawaban Kinan" ucap Mina.
Kinan diam tak memberi keputusan saat ini dia pun merasa kebingungan menghadapi nasibnya, rumah dan pernikahan semuanya tak bisa dipilih karena terlalu berat untuknya.
Mudah saja bagi Kinan untuk menikahi dirga, demi rumah Kinan mungkin bersedia untuk menikah tapi entahlah.. memikirkan itu tiba-tiba hati dan fikiran Kinan bertolakan, hatinya menolak untuk menikah tapi fikirannya mendukung hanya 'demi rumah' saja bukan yang lain.
Kepada Mina Kinan tak memberi keputusan ia atau tidaknya pernikahan menjadi PR berat untuknya malam ini, sungguh keputusan yang sangat sulit karena keduanya sama-sama memiliki konsekuensi yang berat, sangat berat sampai-sampai Kinan tidak sanggup untuk memutuskan memilih salah satunya, menikah dan tinggal atau pergi meninggalkan semuanya.
Selepas meninggalkan Mina, didalam kamar Kinan duduk termenung, menyandarkan pundaknya yang lelah sembari terus menimbang mana yang harus ia pilih, menikahi Dirga dan memiliki rumah atau kehilangan keduanya.
Menikahi Dirga sama saja dengan menikahi derita selamanya selama Dirga masih bersama Hanna rasa sakit dimadu akan terus menyakiti batinnya, terlebih kecil kemungkinan untuk Dirga bisa melepaskan Hanna, karena sebentar lagi Hanna akan melahirkan anak yang akan jadi pengikat erat hubungan mereka.
Selain itu jika menikahi Dirga berarti dirinya harus rela berbagi kasih dengan sahabatnya, menjadikan sahabatnya madu yang berarti suatu saat nanti dia harus merelakan Dirga membagi waktu, kasih sayangnya dan Kinan harus bisa menerima saat Dirga harus tidur, mencumbu dan bermesraan dengan sahabat didepannya yang lebih menyakitkan dari itu jika suatu saat memiliki anak, anaknya pun harus ikut berbagi kasih sayang Ayahnya dengan orang lain.
..
Mina merogoh saku mengambil handphonenya untuk menelpon Dirga, Mina menyampaikan kalau Kinan telah berubah fikiran.
"Nak Dirga, tanteu menelpon untuk menyampaikan sesuatu kepada Nak Dirga, mengenai Kinan" ucap Mina terdengar penuh semangat.
Dirga yang mendengarkan pun ikut senang dari gaya bicaranya sepertinya kabar yang dibawa Mina adalah kabar baik.
Di akhir Dirga tertawa bahagia saat sebuah kepastian hampir menghampirinya, Kinan bersedia menikah dengannya itu kalimat yang disampaikan Mina, Dirga senang bukan kepalang.
Waktu menunjukan pukul 11 malam Kinan masih duduk termenung dengan sejuta pertimbangan difikirannya untuk menghadapi hari esok hari penentu nasibnya dikemudian hari.
"Malam Om," Kinan mengirim sebuah pesan kepada pengacara keluarganya untuk menanyakan perihal surat wasiat tersebut.
Sang pengacara mengiakan kebenaran surat wasiat tersbut bahkan dia juga berani menjadi saksi dan bersumpah atas itu.
Mendapati pengacara berbicara demikian Kinan tak punya pilihan lain selain menerima kenyataan dan mau tak mau menerima tawaran pernikahan, demi bertahan di rumah itu, Kinan harus mengambil keputusan karena air mata yang menitis deras dimalam ini tak akan bisa merubah keadaan, meski Kinan bersimpu memohon pun rumah tetap menjadi milik Mina dan Amira dan ia akan diusir.
"Om, kenapa Ayah tidak adil begini?" Tanya Kinan mengirim pesan singkatnya lagi.
"Jangan tanyakan itu sama Om Kinan" balas Pengacara yang bernama Bian.
"Tapi Om," Kinan ingin menyangkal "Sebenarnya siapa anak kandung Ayah aku atau Mira?" Tanya Kinan lagi.
"Kinan, Om sendiri juga bingung kenapa Ayahmu melakukan itu, tapi Om yakin ini yang terbaik untuk kalian semua, Kinan yang sabar ya Nak!" kata Om Bian dengan perasaan berasalah.
Sebagai paman sekaligus pengacaranya Bian merasa miris dengan keadaan sepupunya Kinan, namun semua ini bukan dalam kehendaknya, Ayah Kinan sudah mengatur segalanya dan memutuskan semuanya.
Sampai subuh menjelang Kinan masih belum bisa memejamkan matanya dia masih menangis sesenggukan, menangisi ketidak adilan Ayah dan menangisi semua kesulitan yang tengah dihadapinya hingga matanya menjadi sipit sembab.
Kinan menatap pantulan dirinya di cermin menatap lekat semua masalah yang dihadapinya, harus darimana harus dari sisi mana Kinan mendapatkan jalan keluarnya, seberat inikah kehidupan? Hingga bernafaspun terasa sulit, tak ada hamparan tak ada pundak tak ada tangan untuk Kinan meminta dan memohon pertolongan pada akhirnya hanya hati sendiri yang menguatkan hanya diri sendiri yang membuat tegar.
Kinan menghapus deraian air mata dipipinya, hari ini hari bahagianya tak sepantasnya Kinan menangis seperti ini, Kinan berdiri lalu berjalan kearah lemari meraih gaun pengantin untuk segera ia pakai, pesta pernikahan akan digelar pukul 9:30 untuk itu Kinan akan mulai bersiap.
Ditempat lain, Aiman terduduk lesu diatas sofa, pagi ini tepatnya pukul tujuh pagi dia ada pertemuan dengan Klien lalu pukul 11:00 ada undangan resepsi pernikahan dari keluarga Harimaja, seharusnya Aim sudah bersiap namun ini malah terlihat santuy duduk bermalas-malasan diatas sofa, Guna bahkan terlihat heran pada sikap Aiman yang terlihat tak biasa itu.
"Im" Guna yang sudah berpakaian rapi memukul pundak bosnya lalu duduk bersebelahan, Aim hanya menoleh tipis.
"Ini pertemuan penting Im" Guna menoleh pergelanganya jam menunjukan pukul 06:25 Aim belum bersiap-siap "Loe masih santai santai waktu kita tinggal setengah jam Im, ini klien penting gue nggak mau yah kalau loe sampai telat, bisa kena suspend dari Ayah loe gue Im" kata Guna cemas.