Oh My Boss.

Oh My Boss.
96



Dengan berani Amira melepas satu persatu kancing baju yang dikenak'kannya.


Bukannya tertarik akan tubuh yang dijajarkan Amira, Aim justru muak.


Tanpa basa basi Aim langsung mengambil kembali kotak yang sempat sebelumnya ia berikan kepada Kinan.


Tiba tiba..


Aim membuang kotak itu kedalam tong sampah dengan bencinya, dan berkata dengan dingin "Aku muak dengan benda ini, kau tak boleh menyentuhnya Nan." melempar kotak itu dengan kasar lalu melengos kedalam kamar.


Kinan tergertak kaget "M..Mas" Kinan dibuat bingung dengan perubahan sikap Aim yang tiba tiba.


Amira pun sempat terperanjat, dikejutkan dengan suara brakkk dari dos karton yang dilemparkan Aim tadi.


Ditengah berjalan, Aim melontarkan perintah


"Nan, datanglah kedalam kamar segera!. Jangan membuatku menunggu"


Kinan yang terkejut dan sempat kaku, "Mas. Mas" Kinan lantas mengikutinya ke dalam kamar, sebelum itu "Mir, maaf aku tinggal sebentar ya" dengan wajah tidak enak.


Amira tak mengiakan, ia masih berdiri kaku ditempatnya.


"Mas, kamu kenapa? Apa yang salah, kenapa kamu tiba tiba aneh begini?" Tanya Kinan heran.


Aim tak berbicara, membelakangi Kinan layaknya orang merajuk.


Hingga akhirnya, setelah beberapa saat kemudian ia pun berbalik, raut wajahnya masih kesal berkata "Kamu mengundang Amira kesini?"


"Ah? No. Tidak Mas, justru aku berfikir kamu yang mengundang dia"


"Sayang... Kamu ngaku aja, kamu sengaja ngundang dia karena nggak mau aku ganggu terus 'kan? Kamu bosan terus berbaring disisi aku 'kan?"


Kinan memotong "Justru aku mikirnya kamu yang ngundang dia, kamu masih belum lupa sama ininya" Kinan mengangkat sekilas kedua buah dadanya menyindir perilaku Amira tadi siang "Besar dan menarik perhatian'kan?"


Ucapan Kinan barusan spontan mendapat bekapan dari tangan Aim.


"Jadi doa (ucapan Kinan) baru tau rasa kamu Nan"


"Ih Mas, kok ngomongnya gitu." melepas bekapan itu dengan kasar, "Apa jangan jangan yang tadi siang itu masih melekat di otak kamu ya," -Kinan.


"Kan. kamu yang bilang 'kan bukan aku." Kilah Aim.


"Tuh berarti benar'kan kamu tertarik?" Manyun berpangku tangan dan kesal.,


"Oh ia. dia, bagai mana tadi? Kamu masih mengingatnya 'kan? Atau apa perlu aku mengingatkannya untukmu Mas." Kinan membuka beberapa kancing baju dan menurunkan garis kainnya sehingga nampak lah dia, belahan gelembung kembar yang eksotis. Menyibak rambut yang terurai menutupi bagian bahu dan dadanya, "Begini 'kan?" Sambil menyeringai'kan ekspresi manja menggoda. Berkejap mata dan mengigit bibirnya yang sexy. Tak sampai di situ Kinan juga membagikan sentuhannya dibibir Aim.


"Ya., Ya., Yank kamu apa apaan sih?" Tanya Aim dengan sedikit rasa heran tapi gemas akan perilaku istrinya saat ini.


Tubuh Aim seketika meremang, mencoba mengalihkan perhatiannya dari Kinan, namun semakin dialihkan otak ini semakin tertuju padanya.


Sentuhan demi sentuhan mengingatkan Aim pada malam dimana Kinan melakukan hal yang sama pada dirinya, di waktu Kinan hilang akal dan frustasi dengan hidupnya.


Malam itu jika diingat kembali. Aim tau dirinya bersalah.


Namun kini Aim lega, karena kini Kinan telah menjadi miliknya penuh, itu berarti kehidupan Kinan seterusnya adalah tanggung jawab Aim sepenuhnya.


"Tidak, aku menginginkannya sekarang juga, lagi pula dia istriku apapun yang aku lakukan padanya, aku halal melakukan itu"


Tapi tunggu, dia tak pernah terlihat seperti ini, apa mungkin dia sedang cemburu?" Timbul senyum tertahan dari bibir Aim. "Tapi dia seperti ini sungguh manis, mungkin aku harus membuatnya lebih gila lagi" berkata dalam hati.


Aim berupaya mengendalikan diri untuk tidak tertarik, walau sebenarnya tidak semudah itu, apalagi disaat tangan halus Kinan menyelusupi area leher dan menyentuh lembut jakunnya. Tak bisa berkata kata namun tubuh Aim terasa panas dingin.


Aim berdekhem kecil dengan tegang, "Yank, tutup pintunya" pada akhirnya kalimat itulah yang keluar.


Namun Kinan tak menghiraukan perintah Aim.


Tangan jahil si penggoda ini masih belum berhenti. Dari jakun yang diusap halus kini kembali naik ke area bibir menyentuh dan mengusapnya penuh gairah, wajah pun semakin didekatkan membuat Aim tak tahan dengan deru nafas Kinan yang semakin dekat.


"Begini'kan maksud dia tadi siang?" Ucap Kinan lirih, tetapi terdengar sexy di telinga Aim, "Apa kau menyukainya Mas?" Pertanyaan yang membunuh, jika salah meng ia kan mungkin esok akan terjadi peperangan.


"Mm, Yank"


"Tapi dia tidak melakukan ini padaku, apa kamu sedang cemburu pada adikmu? Aku tau dia kelewatan, tapi kamu tidak boleh mencurigai aku, aku tidak tertarik dengannya" jelas Aim setengah berbisik.


"Benarkah?. Aku hanya ingin menghapus dia dari ingatan mu" Bisik Kinan lagi di telinga Aim.


Aim tersenyum gemas, "Aku akan..


"Nan, beginikah cara mu mendapatkan lelaki?" Amira tiba tiba telah muncul di dalam kamar menghentikan ucapan Aim berikutnya. Mendelik jijik, "Dasar rendahan" sindirnya.


Kinan terkejut, spontan menoleh ke arah suara wajahnya pun langsung berubah merah padam, karena malu oleh Amira.


Aim menghela, berisi kekesalan yang tertahan.


Disini Aim benar benar muak terhadap Amira yang berkeliaran seenaknya.


"Dan yang kau lakukan disini dimataku lebih rendah dari apapun yang pernah ku anggap rendah sebelumnya".


Amira mengedik tak perduli, "Im., Aku rasa kau telah salah memilih perempuan. Melihat dari cara dia memperlakukan mu, apa kau tidak berfikir berapa lelaki yang telah ia rayu di luar sana?"


Kinan menggeleng, menolak lontaran pemikiran Anita.


Tapi Aim menanggapinya dengan senyum lembut lalu menatap Kinan, menyisir helaian rambut berantakan yang terurai di pipi Kinan "Asal dia bersedia dengan ku, aku tidak perduli lagi dengan hal hal semacam itu. Karena bagiku dicintai olehnya lebih dari cukup,." berkata dengan yakin, Mengecup punggung tangan Kinan dengan penuh sayang.


"Itu karena kau tak tau seberapa buruknya kakak ku" desis Amira mendelik ke sisi lain.


Kinan hendak menjelaskan namun Aim mendahului.


"Lalu kau? bukankah kau sendiri memiliki rumah dan suami? tapi kau!" Menunjuk Amira "Malam malam begini berkeliaran dan memasuki kamar lelaki lain, Apa menurut mu hal semacam ini bisa dikatakan baik? Kau seharusnya lebih tau mana salah mu dan dimana letak kesalahan kakak mu." Aim diam beberapa saat menatap Amira dengan tatapan menusuk,. "Apa Kau sedang mencoba menggodaku Mir?" Aim tersenyum kecil bernada merendahkan, "Maaf aku terlalu rendah untuk merasa tertarik terhadapmu"


Tetapi Amira tampak tidak peduli dengan ucapan itu.


Amira merasa tersudut, "Oo ia Im, mengenai pernikahan kalian, apa orang tua mu tau?" Amira tertawa samar, "Jangan jangan kau memang tidak berniat memberi tahu mereka?" berdecak dan menggeleng kasihan,. "Miris sekali kamu Nan. Harusnya kamu nggak usah bertingkah banyak, toh pada akhirnya kamu hanya seorang menantu gelap, tidak ada yang mau mengakui Mu Nan"


Amira!!! .


Bentak Aim.