Oh My Boss.

Oh My Boss.
108



Amira


Meneleng kecewa. Semua orang mendapat apa yang mereka inginkan termasuk Kinan, namun apa yang bisa di ambil olehnya, Amira terjebak dan dipaksa merawat lukanya sendiri, menerima suami yang hanya memberinya finansial semata, dan mendatanginya dengan membawa nama orang lain dihatinya.


Menjadi madu sekaligus istri yang memiliki suami yang masa lalunya belum berakhir.


Madu yang diracuni.


"Kinan," adalah kalimat yang seringkali Amira dengar disaat Dirga menye..uhinya.


Setiap kali mendengar nama itu disebut, rasanya tubuh Amira seketika melebur.


"Kinan, aku akan membalas ini. Akan ku pastikan suamimu menyebut namaku saat dia tidur denganmu, kau harus merasakan bagai mana tidak warasnya aku saat lelaki mendatangi tubuhmu dengan bayangan perempuan lain. Semua ini karena kau Kinan! kau!" Teriak Amira dalam batin.,


Tetapi kini Amira hanya mampu menangis dalam batin dan mengutuk semua orang yang membuatnya seperti ini.


Setelah sebelumnya sempat mengusir Mina, Amira kini terduduk pilu disisi tempat tidur, lalu kemudian bergegas mengganti pakaiannya untuk berangkat ke perusahaan LK.


Di kantor.


Rapat baru saja selesai, orang orang terlihat sibuk merapihkan danmenelaah catatan mereka masing masing.


Aim tampak mengurut dahinya yang penat, rapat seperti ini selalu berulang ulang, tidak cukup hanya dengan satu kali keputusan konsequensi selalu di utamakan, rapat berulang ulang ini untuk menemukan cara agar konsequensi ini dapat di tekan.


"Projek ini harus berjalan sesuai waktu yang sudah di tentukan, jika ada keterlambatan maka biaya yang kita keluarkan akan semakin banyak" terang Aim kepada Guna. Guna langsung meng ia kan.


Setelah keluar dari ruang rapat mereka berdua saat ini sedang berjalan berdampingan untuk memenuhi agenda selanjutnya.


Diperjalanan Aim sempat berpapasan dengan Arman. Dari kejauhan Arman sudah terlihat menaruh wajah tidak senang, wajah tertekuk dengan emosi yang tak mereda. .


Aim paham penyebab memburuknya situasi saat ini.


Saat berpapasan Arman sempat menghentikan langkahnya, dan memberhentikan Aim.


Aim menyuruh Guna menunggu di mobil.


Arman kemudian berkata dengan dingin, "Empat hari lagi mertuamu akan mengadakan pesta ulang tahun."


"Apa hubungannya dengan ku?" tanya Aim datar.


Arman terlihat emosi saat mendengar Aim berkata seperti itu, "Kau menantunya. Kau harus datang bersama Shina!, tunjukkan kepada mereka bahwa hubungan kalian baik baik saja, dan tinggalkan perempuan itu" perintah tak ingin di bantah.


Aim tersenyum ketir, menghela nafas, lelah. "Kalau begitu Ayah, tolong bantu siapkan aku narasi!, aku ingin sandiwara ini terlihat sempurna dimata mereka." katanya menimpali.


"Im" Arman membentak. Mengingatkan bahwa ucapan Aim kurang ajar.


Aim menghadap, "Tetapi sekarang Aim berfikir untuk apa lagi saling membohongi diri, pernikahan rumit ini telah selesai, apa lagi yang harus aku lakukan untuk menutupinya. Dan aku pastikan Shina juga sangat setuju dengan keputusan ini. Kali ini Aim tidak ingin menyakiti siapapun dengan terus menutupi kebenarannya,"


"Untuk apa terus menutupi, tak ada gunanaya, dan apalagi yang harus ku tutupi? kurasa semua orang tau bahwa pernikahan ini tidak waras. cepat atau lambat rahasia ini akan terungkap juga, semua orang akan tau kalau pernikahan ku dengan Shina telah berakhir" -Aim.


"Dan kau telah memiliki istri baru," Potong Arman.;"Yang telah lama kau jadikan simpanan, Itu yang ingin kau sampaikan Im?. Akhiri dia sebelum lebih banyak orang tau tentang pernikahan bodohmu ini, jadikan Shina sebagai satu satunya menantu pewaris perusahaan Lk" titah Arman dengan tekanan tak ingin di bantah.


"Apa menurut Ayah melakukan ini hal mudah? Aku tidak ingin kehilangan istriku, dan aku juga tidak mau menjadikan perempuan lain sebagai tameng untuk menutupi pernikahan yang sangat aku inginkan dan diinginkan banyak orang ini. Semua ini tetap akan berakhir, tetapi aku tidak mau menyakiti dan kehilangan Kinan, aku minta siapa pun tak boleh menghalangiku ayah pun tidak berhak mengatur ku lebih jauh"


"Baiklah. Kau akan tetap memiliki perempuan itu selama tidak kau hadirkan didalam keluarga Lk, tutupi dia baik baik. Dan bersikap seolah pernikahan kalian (Dengan Shina) adalah pernikahan yang sempurna!"


Aim kembali tertawa miris, "Tunggu..Apa ayah sedang mengajari ku untuk jadi penipu?. Maaf Yah, Aim muak terus melakukan kebohongan yang tidak akan pernah berujung, lagi pula didalam pernikahan ini tidak pernah terdapat kebahagiaan, aku dan Shina sama menginginkan kebahagiaan kami sendiri, dan maaf Aim tidak bisa mengikuti permintaan Ayah" Aim kemudian beranjak pergi meninggalkan Arman yang tertimpa emosi, tangannya mengepal hampir menampar Aim.


"Katakan apa tujuan dia menikahi mu Im? apa dia menginginkan ketenaran? atau dia menginginkan uangmu? biarkan dia untuk mengambil semuanya dan suruh dia untuk segera pergi meninggalkan mu"


Aim kembali menghentikan langkahnya, dengan kecewa berbalik dan menatap Arman dengan kemarahan yang tertahan atas penghinaan ini.


Senyum penuh kecewa dipaksa terbit dari bibir Aim "Dia hanya menginginkan aku, maka aku akan membiarkan dia mengambil ku dan aku akan rela dan sesuka hati pergi dengannya. Apa ucapan ini bisa menghentikan kalimat ayah berikutnya? jika tidak silahkan terus berbicara sampai ayah sadar kalau anak ayah telah kehilangan semuanya".


Aim kemudian meneruskan langkahnya, meninggalkan Arman yang masih ingin berbicara meluruskan semuanya.


Guna menatap kedatangan Aim, wajah kusut dipenuhi tekanan.


"Kapan mereka akan menyadari kalau hubungan pernikahan tidak bisa dikaitkan dengan kontrak kerja, sungguh miris" desis Aim menyayangkan, "Gun, aku putuskan untuk memperkenalkan Kinan kepada mereka, dan aku juga akan membiarkan Shina memamerkan kekasih barunya, Aku akan berbicara dengannya dan Shina pasti setuju" di akhir Aim tersenyum bangga dan penuh keyakinan.


"Apa menurutmu Shina akan menyetujui rencana ini?" tanya Guna. Aim hampir meraih pintu mobil, ketika Guna bertanya demikian Aim sempat menghentikan diri.


"Maksudmu?" Aim mengernyit.


"Aku rasa Om Arman akan berusaha membujuk, dia akan membujuk Shina, dan lihatlah yang terjadi kau mungkin tidak akan bisa melakukan apa apa" fikir Guna. Aim mengernyit sesaat apa yang dikatakan guna benar adanya.


"Shina terlalu manipulatif, dia akan melakukan segala hal yang menurutnya menguntungkan. Kau pun pasti sudah mengerti" jelas Guna kemudian.


"Tapi dia begitu ingin terlepas dariku, aku rasa ini kesempatan baik untuknya, memperkenalkan calon menantu,.bukankah ini hari baik?" -Aim.


"Masuklah dulu Im" Guna bantu membukakan pintu untuk Aim.


Setelah Aim masuk kedalam mobil Guna segera mengikuti.


Setelah duduk Guna kembali menyambung pembicaraan "Kalau boleh, aku sarankan untuk tidak membawa Kinan kesana, daripada kau datang bersamanya lebih baik kau tidak usah datang sama sekali" titah Guna mengingatkan.


Mobil melaju. Aim menoleh dengan tatapan tidak senang.


Guna paham Aim tidak senang dengan pemikirannya. Aim sempat berfikir bahwa Guna sama sama menentang pernikahannya dengan Kinan.


"Tapi tunggu, loe jangan salah faham dulu Im. Loe akan mengerti yang gue ucapkan ini setelah loe pulang dari pesta itu"