
Aim tampak sibuk memilih sovenir yang hendak ia berikan kepada Dheo, tak jauh darinya Shina terus membuntuti, terus memepet tanpa memberinya kesenggangan membuat Aim tidak nyaman.
Shina tiba tiba berperilaku so' akrab, berbicara lebih santun, meminta pendapat mengenai barang yang akan di pilihnya, sungguh tidak biasa.
Berulangkali Aim mengecek jam di pergelangan tangannya dengan resah, semenit yang berlalu baginya sangat berarti.
Aim terus mencari cara agar bisa mempercepat berbelanja, agar bisal segera meninggalkam Shina dan menemui Kinan.
"Gun" panggil Aim pada asistennya,
"Ya, ada apa Bos?"
"Apa Kinan sudah berangkat?" Tanya Aim kemudian.
"Sudah sejak dua puluh menit yang lalu" jawab Guna.
"Berapa lama waktu yang harus di tempu ke sana"
"Sekitar satu jam" Guna kembali menjawab.
"Baiklah kalau begitu. Kirimkan lokasi kliniknya kepada ku" Aim lantas menutup panggilan, serta itu Guna segera mengirimkan lokasi klinik obgyn Bima kepada Aim.
"Apa aku mengganggu waktu mu Im?" Tanya Shina, yang kini tiba tiba sudah ada di samping Aim.
Shina diam diam mendengar percakapan Aim barusan.
Aim diam tak menjawab, memainkan handphonenya sambil sesekali melirik jam.
"Sebenarnya siapa perempuan yang ada di apartemen mu Im?" Tanya Shina, hanya ingin memastikan,. Walau sebenarnya kebenaran hubungan mereka tidak perlu di ragukan lagi.
"Dia istriku" jawab Aim cepat.
"Jangan berbohong dihadapan ku Im, kau tidak mungkin mendapatkan perempuan secepat itu. Apa kau membayar dia untuk menjauhkan ku?" Shina masih mencoba menyangkal kebenaran.
"Tidak ada alasan selain mencintai dia" jawab Aim dingin.
"Sejak kapan? kau mengenal cinta Im." Tersenyum miring. "Bukankah kau lelaki yang tidak pernah perduli akan hal ini?, Jadi berhentilah berpura pura dihadapan ku, jangan bersandiwara, aku tau selera mu pasti bukan dia"
Aim menoleh dengan tatapan tak terima, "Lalu menurut mu, perempuan seperti apa seleraku? Sepertimu?" Memandang dengan rendah, "Maka aku rasa selera ku sangat rendah bila mencintai mu" sindir Aim.
Shina diam seketika, hatinya serasa dicabik-cabik oleh ucapan Aim, Aim memang selalu menatapnya seperti ini harusnya Shina sadar sejak dahulu.
"Im." Sebut Shina dengan mata berkaca kaca, "Tolong tanyakan kepada hati mu. Apa di sana pernah ada aku? Kenapa sulit sekali untuk mendapatkan hatimu?"
Melihat tangisan Shina Aim malah ingin tertawa lucu, "Kau seperti sangat menggelikan Shin. Kau menangis seolah olah kau adalah pihak paling tersakiti, seolah posisi yang paling di rugikan, hampir dua tahun aku mencoba menempatkan kamu dengan posisi yang baik di hati di hidupku. Tapi apa yang kamu lakukan?. Atau apa kau sudah lupa dengan yang kau lakukan kepadaku? Berhentilah mengeluarkan air mata palsu, sekarang hatiku tak akan tersentuh lagi oleh mu"
"Apa aku benar benar keterlaluan?" Tanya Shina masih dengan air matanya.
"Bahkan kau lebih dari itu (keterlaluan)."
"Setelah semua yang kita lewati bersama, kamu tidak mungkin melupakan ku secepat itu'kan, aku yakin di sela hati mu yang dalam masih ada aku 'kan?" Tatapan sendu.
"Tapi kita belum mendapatkan kadonya" kata Shina mencoba menahan.
"Gue rasa barang disini terlalu biasa" mendelik malas, "Gue sudah mendapatkan barang yang gue inginkan di internet,"
"Tapi aku?"
"Terserah kau saja!. Gue risih jalan sama loe! Gue pergi sekarang juga," Tekan Aim.
"Apa kau akan menemani perempuan itu, apa dia lebih penting bagimu?" Teriak Shina.
"Menemani?" Ulang Aim dalam batin, Aim merasa Shina mengetahui janji pertemuan Kinan, "Apa itu alasan dia menahan ku di sini?" Batin Aim berkata kata. Pantas saja sejak tadi Shina hanya melihat lihat tanpa mengambil barang, rupanya Shina hanya sedang menahan dirinya agar tidak pergi menemani Kinan.
"Dia segalanya. Ooh ia Shin, kalau lu berani ngadu lagi sama Mama, bakal gue bongkar semua kebusukan loe"
"Kebusukan apa lagi Im?. Apa kamu tidak bisa berhenti menganggap ku rendah?"
"Berhenti bersandiwara, aku tau semua rencana busuk mu"
"Rencana?" Shina mengulang pertanyaan seolah tidak mengerti dengan ucapan Aim.
"Apa perlu gue ceritain lagi rencana yang loe buat dengan kekasih mu?"
Shina diam membisu. Sementara Aim tertawa miris.
Aim lalu me rilis kembali percakapan telpon Shina dengan Anton, didalam kamar mandi "kamu yang sabar sayang, aku bersumpah tidak akan ada perasaan apapun kepadanya, aku hanya menginginkan hak waris ku kembali. Setelah ayah menarik kembali ucapannya dan menjadikan aku sebagai hak warisnya lagi, akan ku depak dia jauh dari ku. Aku mohon kamu bersabar ya"
Shina terbelalak mendengar ucapan real tersebut, Shina memang pernah mengatakan ucapan yang sama tapi sungguh Shina. tidak tau kalau Aim juga mendengarkannya.
"Kau menjijikan Shin" benci Aim.
Setelah mengucapkan kalimat tersebut Aim lantas mengambil langkah lebar untuk meninggalkan Shina..
"Loe salah paham Im, semuanya tidak seperti yang kamu dengar" Shina coba membujuk bahkan berlari untuk memberikan penjelasan. Saat mengejar Aim, Shina tidak sengaja terpeleset hingga jatuh dan keseleo. Shina meng aduh kesakitan, mendengar suara benda jatuh Aim pun segera berbalik dalam fikiran Aim yang terjatuh itu adalah Shina.
Benar saja. Saat berbalik Aim melihat Shina terduduk lemah, di sampingnya seorang lelaki coba membantu.
Aim kemudian berjalan ke dekat Shina dengan wajah bersalah.
Aim merongkong untuk membantu, Shina tersenyum penuh kemenangan, berfikir bahwa Aim akan membantunya.
tetapi kenyataanya.
"Terima kasih telah membantunya" ucap Aim dengan seri wajah penuh terima kasih kepada lelaki yang telah membantu Shina, Aim juga memberinya beberapa lembar uang, "Semoga ini bisa membantu mu. Tolong jaga Dia" perintah Aim. Aim kemudian berlalu tanpa memperdulikan Shina lagi.
"Aim !!!! " Raung Shina penuh emosi, "Kau keterlaluan !"
.