
"Gila Minta dipukul lagi nie orang, semakin ngawur saja kamu Im" Surya berkata seperti ini karena merasa Aim tidak mungkin melakukan hal yang melanggar etika pernikahan, karena setahu Surya Aim sudah menikah walau dirinya sendiri tidak pernah melihat Aim memamerkan perempuan, baik itu dikeseharian ataupun diunggahan dimedia sosialnya,. tapi Surya yakin Aim sudah melakukan pernikahan dengan Shina, dan Surya meyakini Aim akan tidak seburuk yang dia akui sekarang.
"Kamu nggak percaya?"
"Enggak" bantah Surya.
"Baguslah, lagian percaya atau tidak bagiku tidak penting"
"Oh ia mengenai barang yang suruh aku teliti apa sudah keluar hasilnya?"
"Loe mau tau hasilnya?" tanya Surya.
"Ya, gue mau tau,"
"Emangnya loe dapat susu itu dari mana sih Im? Itu susu untuk dikasih ke hewan'kan?"
Aim menggeleng, "Dari seseorang," jawabnya.
"Loe yakin mau tau hasilnya, buat apa? nggak akan nyesel?"
"Ialah, gue nyuruh loe'kan supaya tau hasilnya, gimana sih" Aim melengos kesal.
"Loe nggak akan ngamuk'kan?" tanya Surya, bercanda, "Hentikan pemberian obat ini nanti piaraan Loe mandul"
"Banyak bacot lu Ya, lama lama gue kurangi gajih bulanan loe"
"Iya, iya, sensian banget sih kayak mak gue pas lagi ngidam hamil si kuning," Surya tergelak geli "Tapi sebelumnya loe harus janji kalau loe mau marah jangan didepan gue ya, cari tempat lain saja" Ucap Surya seraya menyerahkan handphonenya kepada Aim.
Aim merebutnya dengan kesal.
Dalam handphone tersebut Surya telah mengirimkan hasil lab susu yang sebelumnya diberikan Aim.
Setelah menerima itu Aim membacanya dengan seksama, kandungan obat yang terkandung dalam susu Aiman itu sama persis dengan kandungan yang terdapat pada obat kebiri untuk hewan, semacam kucing dan anjing.
Anti-testosteron
Aim tersentak saat membaca kandungan obat yang selalu Shina campurkan pada minumannya. Aim menggigil saat mengetahui itu.
Pantas saja selama ini Aim tidak berdaya bahkan hampir mendiagnosa dirinya impoten. Ternyata ini perbuatan Shina, Shina sengaja melakukan itu.
"Emangnya susu milik siapa itu Im?" Sebenarnya Surya juga terkejut saat mengetahui kalau didalam susu tersebut mengandung jat itu tapi Surya berfikir mungkin susu tersebut akan diberikan pada hewan piaraan.
Aim diam tak memberi jawaban, emosi dalam dadanya membuat nafas Aim sesak dan tak bisa berkata apa apa lagi, Shina memang sudah kelewatan.
"Itu susu hewan atau susu konsumsi manusia?" tanya Surya lagi.
Jujur Surya sangat penasaran. Menilik dari susu yang diberikan Aim tampaknya itu susu konsumsi manusia, terlihat dari protein yang terkandung dalam susu tersebut. Tetapi Surya juga heran pasalnya dalam susu tersebut mengandung senyawa berbahaya yang pantang dikonsumsi manusia.
"Manusia yang dianggap hewan." kata Aim frustasi, Surya jelas terbelalak.
"Aiihh.." Surya menggaruk tengkuknya tak percaya, "Im," Surya kembali menggaruk dahinya perkataan Aim membuat pikirannya dilanda dilema, rasanya tidak percata seseorang sengaja mengonsumsi obat berbahaya ini.
"Gue minta siapapun yang mengonsumsi obat ini tolong hentikan dia, karena obat ini sangat berbahaya, jika dikonsumsi dalam jangka panjang atau dengan dosis besar kemungkinan dia akan sulit mendapat keturunan atau kehilangan selera sexsual secara total."
Surya tidak tahu milik siapa susu tersebut.
Aim mengerat, giginya gemerutuk urat leher mengeras dengan wajah merah padam.
Shina apa yang kamu perbuat sungguh diluar batas, aku tak bisa mengampuni ini aku sungguh tidak akan mengampuni perbuatan keji mu.
Baiklah jika itu maumu...
"Gue pamit dulu Im"
Aim segera menyerahkan handphone Surya.
"Maaf gue nggak bisa nganter lu" Aiman mendongak menatap Surya yang sedang berberes bersiap untuk pulang.
"Santai aja kali Im" Surya menepuk pundak Aim kemudian beranjak meninggalkan ruangan, sementara Aim masih duduk tak percaya selama ini Shina sudah meracuninya.
Shina selalu mengatakan kalau dirinya Impoten tetapi kenyataanya dialah penyebab itu semua, entah apa motif Shina melakukan hal tak manusiawi itu pada Aim.
Kalau pun tak sudi menikah denganku, kamu tidak berhak melakukan ini Shin... Aku ini manusia bukan hewan piaraan yang bisa kau perdaya sesuka hatimu...
Aim menggebrak meja meluahkan seluruh emosi yang terpendam dalam dadanya., Sejenak menunduk untuk menekan emosi yang hampir meledak.
"Akkhhhh" Kinan meringis kesakitan ia baru terbangun dari tidurnya.
Layaknya ayah yang siap sigap saat mendengar suar Kinan Aim langsung mendatanginya.
"Apa masih sakit?" Aim duduk didepan Kinan mengusap pundaknya sambil diberikan air minum.
Kinan tersenyum tipis, "Tidak, hanya sedikit keram" jawab Kinan.
Diam diam dalam hati Aim tersenyum bahagia mendengar Kinan baik baik saja.
"Apa ada darah yang keluar? Apa ada yang masih kurang nyaman? Katakan ! Aku akan mengantarmu kedokter"
Kinan kembali tersenyum dalam fikiran sedikit terheran pada sikap atasannya yang terkesan over terhadap keadaanya, Kinan berfikir ini hanya kecelakaan kecil tidak perlu sepanik itu, lagi pula Kinan sudah terbiasa ditendang atau di pukul Amira.
"Apa ada darah yang keluar?" Tanya Aim memastikan.
Seperti perintah Surya jika Kinan mengalami pendarahan ia harus membawanya ke rumah sakit.
Kinan hanya menggeleng.
"Syukurlah," akhirnya Aim bisa bernafas lega, Aim kemudian berdiri lalu duduk disamping Kinan, tangannya bersandar enggan dari pundak Kinan.
Kinan menoleh kesamping, melihat tangan Aim sedang mengusap halus dirinya, rasanya hangat dan menenangkan kalau saja boleh ingin sekali Kinan menyandarkan kepalanya dibahu Aim, sambil itu Kinan menceritakan semua keluh kesah hari harinya, tapi Kinan segera sadar kerena semua itu tidak akan terjadi pada dirinya dan Aim, Aim terlalu berkilauan untuk dimiliki seorang perempuan sederhana sepertinya terlebih pangkat dirinya sebagai Karyawan dan Aim sebagai bosnya.
Kinan kembali menoleh enggan ke wajah Aim yang sebelah tangannya sedang merapihkan obat yang berantakan diatas meja, wajah itu semakin elegan saat diperhatikan dari sisi samping, sungguh bentuk rahang yang sempurna.
Batin Kinan terus memuji Aim.. Tanpa sadar Kinan terlempar pada perasaan ingin memiliki, tapi secepat mungkin perasaan itu ditepisnya.
Kata karyawan sesama pemuja Aim, bos mudanya ini sudah menikahi perempuan anak sahabat keluarganya. Meski Kinan tidak begitu jelas mengetahuinya tapi tampaknya kabar itu benar adanya.
Kinan menunduk menekan perasaannya.
"Kamu harus menjaga kondisimu dengan baik Kinan" ucap Aim, sekilas menoleh melempar senyumnya yang manis kepada Kinan. Dengan hati hati Kinan mencoba membalas, menatap sendu seorang lelaki yang sejak tadi malam melindungi dan memperlakukannya dengan sangat baik.
Ini seperti sedang berada di alam mimpi, ini yang pertama, diperhatikan dan dilindungi seseorang dengan tulus.
Tak pernah terjadi sebelmunya karena sampai diusia ini dari orang lain Kinan tidak pernah mendapat perlakuan ini tidak pernah merasa seaman dan senyaman ini, semenjak sang ayah menikah lagi Kinan yang masih berusia 5tahun sudah diperbudak dan ditindas oleh Ibu tirinya dibelangkang sang ayah.
Kinan beberapa kali menangkap kecemasan dari wajah Aim, ini sungguh membuat Kinan bangga.