
"Ya" Anton menanggapinya dengan serius dan gugup pasalnya suara Shina terdengar tertekan.
"Aim datang dia bilang mau nginep" suara Shina berubah keberatan.
"Apa?" Anton terdengar terkejut.
"Ya, dan obat yang kamu kasih sudah habis"
"Kenapa dia harus datang lagi sih? Bukannya udah lama nggak balik ya? kenapa nggak sekalian hilang aja, nggak senang liat orang tenang ni orang" gerutu Anton, sambil menginjak pedal gas dengan kuat Anton terus mengerang emosi.
"Aku juga nggak tau Ton, setelah tiga bulan nggak pernah pulang, aku fikir dia akan mengirim surat cerai huuuuhhh" Shina mendesah lelah "Apa dia sebegitu bodohnya hingga mau terus bertahan walau gue nggak pernah mau nerima dia"
"Mungkin dia terlanjur sayang kali sama kamu Yank" Anton sebenarnya malas mengucapkan itu. Baginya tidak boleh ada yang mencintai Shina selain dirinya.
Shina tertawa sinis, "Rasa cinta dia cuma membawa petaka Ton, kamu tau sendiri'kan aku tidak pernah mengharap cinta itu dari dia, semakin aku dicintainya semakin aku merasa jijik!"
"Sayang kamu tahan dia, sebentar lagi aku datang" Anton segera melaju mendatangi apotik langganan menulis resep setelah mendapatkannya segera menemui Shina menyerahkan obat lalu kembali tanpa diketahui siapapun.
Seperti tidak ada yang mencurigai tapi semua itu diam diam telah diketahui Aim, bahkan saat Shina menelpon Anton Aim mendengar semuanya.
Sambil mencampur obat kedalam air Shina tersenyum jahat, sekilas kenangan tentang dirinya dan Aim kembali terlintas difikirannya, kenangan yang membuatnya membenci Aim sampai sekarang.
Setahun yang lalu...
Tapatnya dua hari sebelum pernikahan, Shina tiba tiba menampar Aim dengan sangat keras, wajahnya muram penuh emosi.
"Kau bilang tidak akan menyetujui pernikahan ini!" Bentak Shina.
"Maaf Shin gue nggak bisa nolak permintaan ayah dan om Dheo (Ayah Shina) loe tau kan kondisi dia bagai mana? gue nggak sanggup"
"Lalu apa gunanya gue pergi keluar negri selama satu tahun kalo pada akhirnya harus nikah sama loe!" Shina berteriak sambil menunjuk-nunjuk Aim.
"Bukankah loe janji Im, loe janji selama gue diluar negri loe bakal ngeyakinin orang tua kita kalau kita nggak mungkin menikah, kita nggak saling cinta.. tapi apa buktinya sekarang? Loe malah diam diam menyetujui perjodohan ini! loe gila Im gue benci Loe!" Teriak Shina sambil menangis.
Ditengah itu tiba tiba Anton datang dengan pakaian basah kuyup, tanpa disadari Shina Anton (kekasih Shina) mendengarkan percakapan tersebut.
"Jadi kalian tetap akan nikah?" Kata Anton kecewa, putus harapan.
Shina terkejut mendengar suara Anton yang tiba tiba terdengar didekatnya Shina menatap Anton dengan tatapan bersalah.
"Aku minta maaf Ton, semua ini salah Aim, Aim yang menyetujui pernikahan ini bukan aku" Shina mencoba meyakinkan Anton kalau dirinya tidak pernah menginginkan pernikahan.
"Saat pernikahan itu terjadi kita bukan lagi siapa siapa lagi'kan?" ucap Anton seraya pergi dengan membawa hatinya yang patah dan segala kesedihannya dengan segala rasa sakit dihatinya.
Anton menganggap Shina telah membohonginya dengan mengatakan akan menolak pernikahan bagai mana pun caranya, lalu akan pergi dengannya.
"Anton!" Shina berlari mengejar Anton.
Anton terus bergegas menerjang derasnya hujan yang turun lebat pagi itu tak menghiraukan Shina yang berusaha berlari mengejarnya.
Hingga akhirnya terdengar jeritan Shina, Anton menoleh dan melihat Shina tertelungkup diatas aspal, ia berlari tanpa memerhatikan sekitar Shina akhirnya terserempet dan jatuh sampe tidak sadarkan diri.
Dengan tak berhenti merasa bersalah Anton segera membawa Shina kerumah sakit terdekat.
Anton sangat panik karena Shina tidak juga sadarkan diri dia juga tidak berhenti menangis penuh sesal merutuki dirinya karena telah membiarkan Shina berlari mengejarnya 'Andai aku mau berhenti Shina pasti akan baik baik saja'.
Dalam hatinya Anton bersumpah kalau Shina tidak selamat dia tidak akan memaafkan dirinya seumur hidup.
Dipojokan rumah sakit Anton terlihat menangis, menyesal.
"Pergi dan kembali! Calon suamimu menunggu mu Shina!" Teriak Anton dia terlihat kecewa dan marah besar, "Berhenti Shina! jangan ikuti aku lagi!" Anton berisyarat agar Shina berhenti dan tidak mengikutinya tapi Shina tak mengindahkan.
"Tidak Ton tidak, itu tidak benar, aku tidak pernah mau menikah dengan lelaki itu yang aku mau hanya kamu Ton, cuma kamu lelaki yang aku cintai"
"Pergi sekarang juga! Pergi Shina! Pergi! Pergi dari hadapanku aku muak!" Bentak Anton.
Shina terus menangis mendengar kalimat demi kalimat yang Anton ucapkan bagi Shina gelegaran petir disore itu tidak lebih mengerikan dibanding suara kemarahan Anton.
Shina sadar dan merasa pantas untuk dimarahi bahkan dibenci karena dia sudah berjanji kepada Anton akan membatalkan pernikahan tapi dia tidak berhasil menolak, tidak seperti yang sudah ia katakan dengan yakin kepada Anton.
"Tidak Anton, Tidak! Kamu tidak boleh meninggalkan ku, Anton, Anton aku mohon!"
Shina yang belum sepenuhnya sadar terdengar bergumam gelisah, menggeleng-gelengkan kepalanya dengan resah keringat dingin bercucuran wajahnya pucat pasi bibirnya bergetar saat berulangkali memanggil nama Anton. Pertengkaran terakhir saat sebelum Shina tertabrak terbawa sampai ke alam bawah sadarnya.
Betapa tidak rela Shina berpisah dengan Anton.
Anton yang sejak tadi menunggui Shina menangis menyesal telah memarahi Shina sehebat itu, Shina mungkin tertekan sehingga terlihat sangat gelisah.
"Sayang... " Panggil Anton, dibelainya rambut Shina yang berantakan sesekali Anton mengecup punggung tangan Shina yang terus berada dalam genggamannya. Anton masih mencoba membangunkan Shina dari ketidak sadaran dan kegelisahannya.
"Sayang... Aku mohon bangun, bangun dan lihat betapa aku menyesal telah melakukan itu padamu" Anton terus menangis melihat keadaan Shina.
"Shina aku mohon! Jangan buat aku menyesal seumur hidup, aku mohon sadar, aku mohon dengarkan aku!" Anton menangis tertelungkup sambil menggenggam tangan Shina.
Tidak tahan lagi melihat kondisi Shina, Anton memutuskan keluar untuk sebentar.
Namun saat sedang Anton tinggalkan Shina dipindah ruang kan kekamar vip oleh keluarganya, sehingga Anton waktu itu kehilangan Shina.
Dua hari kemudian dalam masih keadaan sakut Shina dinikahkan dengan Aim.
Pernikahan yang sudah direncanakan itu tak bisa dibatalkan, Shina tak bisa lari lagi, tenaganya sudah habis untuk menolak.
Saat sedang ijab dan Qobul Shina melihat Anton berdiri diantara tamu undangan mendengarkan langsung namanya disebut oleh Aim 'Saya terima nikah dan kawinnya Shina binti Dheo dengan maskawin tersebut dibayar tunai'.
Sekilas Shina melihat Anton sedang menitiskan air matanya Shina tidak sanggup lagi untuk mengangkat kepalanya Shina khawatir akan berpapasan dengan mata Anton dan melihat kehancuran yang tergambar disana, sepanjang akad Shina tertunduk menangis sesenggukan dalam hati tak henti melayangkan sumpah serapahnya kepada Aim dan keluarganya yang dengan telah tega memaksanya menikah.
Selepas ijab usai Anton memutuskan untuk cepat pergi, rasanya tak ingin berlama-lama berbaur dalam pesta yang penuh dengan rasa sakit itu.
Anton hanya ingin merestui pernikahan itu.
Sampai saat Ini Shina belum bisa memaafkan Aim, Shina masih menyalahkan Aim dan menganggapnya sumber masalah dan alasan sempat putusnya hubungan dirinya dengan Anton, meski sekrang mereka telah kembali menjalin kasih.