
Setelah beberapa jam yang melelahkan, tiba waktunya untuk Kinan, Amor dan semua orang yang berada di devisi untuk pulang.
Kinan terlihat sangat senang, dia akan segera menemui Aim di rumah, Kinan sudah sangat rindu tapi selain ada rindu, di hati Kinan juga ada rasa kesal karena Aim lah yang membuat kekacauan untuknya hari ini.
Amor dan Kinan sama sama sedang merapihkan barang mereka dan bersiap untuk pulang, ditengah itu mereka masih menyempatkan untuk saling menggoda.
"Aduuuhhh, senangnya aku. Di kantor bekerja sebagai karyawan pulang ke rumah langsung jadi, nyonya" goda Amor menekan kalimat terakhir.
"Huuuss" Kinan mengapit bibirnya dengan jari telunjuk, "Jangan kenceng kenceng, orang orang bisa denger" desis Kinan sambil terkekeh.
"Menurut kamu, dia (Aim) rindu kamu nggak ya?" Tanya Amor memonyong-monyongkan bibirnya saat menggoda Kinan.
"Mor, kenapa harus ini yang kamu tanya'in. Harusnya kamu tanya, kalau aku membuat kesalahan langsung di pecat nggak ya? Soalnya Bos kan Suami aku, tapi awas kalau aku dipecat aku tidak akan membiarkan dia tidur dengan nyenyak" Kata Kinan sambil tertawa kecil, diikuti Amor yang terkikik gemas.
"Uuuuuhhhh.. Di kator, Suami yang berkuasa di Rumah berbalik, istri yang berkuasa" Amor terkikik kembali.
Ketika keduanya telah menyelempang tas masing masing, tiba tiba.
Bruugggg..
"Malam ini kamu kamu harus lembur! Selesaikan pekerjaan ini, aku membutuhkan hasilnya besok pagi!" Seorang atasan memerintah Kinan dengan angkuh
"Tapi.. tapi saya" Kinan hendak membantah tetapi atasan telah membulatkan mata yang membuat Kinan sedikit ngeri.
"Baik, akan saya lakukan"
Kinan pasrah, tak ingin mengatakan apapun yang hanya akan memancing keributan.
"Ini adalah tugas kamu selama tiga hari, saya tidak mau tau, pokoknya sebelum besok pagi semua berkas ini harus selesai!" Tekannya memerintah.
Kinan mengangguk paham.
Dia adalah atasannya, namun perempuan itu tidak tau saat ini sedang berbicara dengan siapa.
Setelah meninggalkan tugas, atasan pergi meninggalkan Kinan.
Amor menghentakkan kakinya, kesal dengan sikap pasrah Kinan.
"Kamu kenapa mau aja sih Nan?"
"Sudah tidak apa apa, anggap aku sedang bekerja untuk suamiku"
"Tapi nggak harus gini juga Nan, kamu perlu istirahat" -Amor.
"Ia. Setelah ini selesai aku akan segera istirahat, kamu pulang aja ya" titah Kinan.
"Tapi Nan," Amor merasa khawatir.
"Tidak apa apa percayalah" -Kinan.
"Kamu sadar nggak sih Nan kalau atasan kamu itu selalu menindas kamu?. Aku harus melaporkan ini kepada Bos, agar tidak ada lagi yang diperbudak seenaknya di perusahaan ini" Amor terus menggerutu kesal, membuat Kinan terkekeh.
"Sudah berhenti mengomel, jangan marah terus. Kalau nggak mau bantuin, lebih baik kamu pulang, kalau niat bantuin, sini kita mulai bekerja" Kinan kembali duduk dan mulai membuka lembaran kertas yang menumpuk di hadapannya.
Amor segera mengikuti.
Keadaan sekitar sudah mulai gelap.
Di tengah mengecek dokumen, tiba tiba Amor menatap Kinan dengan canggung, tersenyum malah tampak ada sesuatu yang hendak disampaikannya.
Kinan Kinan tertawa geli ketika ditatap demikian oleh Amor.
"Nan"
Sebut Amor, tampaknya ia tidak tahan untuk tidak mengungkapkan isi hatinya kepada Kinan.
"Ya ada yang ingin kamu katakan?" Menoleh kepada Amor.
Amor tampak malu malu mengungkapkan isi hatinya, "Lelaki tadi siang, kamu tampak sangat akrab apa kamu sudah lama mengenalnya?" Tanya Amor perlahan dan sedikit canggung.
Kinan tau tampaknya Amor mendapatkan perasaan dari pandangan pertamanya dengan Surya.
"Ah bukan bukan" bantah Amor.
Kinan tersenyum tidak percaya, bibir mesem menggoda Amor.
"Nan, kamu nggak percaya ya" Amor berusaha meyakinkan Kinan.
Tetapi Kinan terus tidak percaya, semakin berusaha membuktikan Amor semakin terlihat gugup gelagapan.
"Ya sudah, aku percaya" ucap Kinan akhirnya.
Lalu tiba tiba handphone Amor berdering, Amor menatapnya cukup lama.
"Kenapa Mor? Mama kamu nelpon ya?" Tanya Kinan. Seolah sudah mengerti kalau yang menelpon pasti ibu Amor, dia memang selalu melakukan hal yang sama ketika Amor terlambat pulang.
Amor merasa tidak enak untuk menerima panggilan tersebut, karena sudah pasti sang ibu akan memintanya cepat pulang.
"Sudah kamu pulang saja Mor, aku tidak apa apa kok"
"Tapi kamu," Amor memindai sekitar, "Tapi disini tidak ada siapa siapa lagi Nan"
"Sudah, lagi pula aku sudah berniat pulang Kok. Kamu pulang saja, jangan khawatir ya" -Kinan.
"Tapi kamu harus janji pulang ya," pinta Amor bernada khawatir.
"Ia, aku pasti pulang sekarang kok," -Kinan.
"Tapi. Kalau gitu kita pulang sekarang ya, kita pergi sama sama" -Amor.
"Sudah, kamu jangan khawatir aku bisa pulang sendiri Kok" Kinan mencoba meyakinkan.
Amor bejalan dengan tidak tenang, lalu kembali lagi untuk mencoba membujuk Kinan agar mau pulang dengannya.
Amor mondar mandir gelisah, "Nan, kamu pulang aja ya. Lagian ini perusahaan perusahaan suami kamu, kamu nggak mungkin kena Kick juga"
"Ia. Tapi aku juga harus bertanggung jawab dengan pekerjaan ku, suksesnya satu perusahaan tergantung kerja keras pegawainya 'kan?"
"Anggaplah begitu" pintas Amor. "Lagian, suami kamu kemana sih? udah tau istrinya sedang hamil di perhatiin sedikit kek. Ini malah batang hidungnya aja nggak kelihatan seharian" desis Amor mencerca.
"Aku disini" tiba tiba sebuah suara menyahuti.
Amor dan Kinan serempak menoleh.
Kinan tersenyum menyambut kedatangan Aim, sementara Amor merasa malu dan enggan untuk berbicara lagi.
"Kapan dia di sini?" Amor meringis malu, berbisik sambil memalingkan wajah yang mulai terasa terbakar, malu karena berbicara lancang.
Aim berjalan menuju Kinan, saat melewati Amor Aim sempat berhenti sesaat untuk mengatakan, "Saya minta maaf karena telah membuat mu khawatir, saya juga berterima kasih karena kamu telah menjaga istri saya dengan baik, dan rela setia menemaninya. Sebagai imbalannya mulai bulan ini gajih mu naik 2x lipat. Sekarang kamu sudah bisa pulang"
"Maaf, saya melakukan itu bukan untuk uang, tetapi kami berdua telah lama berteman, kami harus saling menjaga. Menemaninya saat ini adalah bukti pertemanan kami" -Amor
"Terima saja imbalannya. Anggap itu kompensasi, karena aku tidak akan membiarkan Istriku lembur untuk kamu" -Aim.
"Tapi aku tidak mau, simpan saja uang mu. Aku khawatir orang orang akan menganggap aku mempermainkan pertemanan, demi mendapatkan uang mu" tolak Amor.
"Haruskah aku berfikir demikian?" tanya Aim datar, perkataan ini menyulut emosi di hati Amor. Amor tidak terima Aim mengatakan ini untuknya.
Amor memukul ke udara.
"Apa aku perlu memberimu BlackCard?. Besok akan ku bawakan untuk mu" -Aim.
"Terserah Bos mau melakukan apa!. Saya pamit pulang" -Amor.
Kinan terkekeh ketika mendengarkan perdebatan itu.
"Hati hati di jalan Mor"