Oh My Boss.

Oh My Boss.
Bag. 30



"Jangan bertanya kepada Kinan karena dia tidak tau apa apa, tanyakan saja apa yang ingin kamu tau kepadaku karena aku yang menjebloskan laki laki itu ke penjara!"


Mata Hanna berkaca kaca "Kau.." Hanna menunjuk Aim "Apa kesalahan yang suamiku perbuat hingga kau merasa berhak menjebloskannya ke penjara?"


"Bukan kepadaku, tapi Kinan." Hanna menoleh penuh benci. "Suamimu telah berperilaku bejat kepada Kinan, dan aku tidak bisa tinggal diam" jawab Aim membentak.


Amora sontak mendongak terkejut, menatap Aim lalu berganti menatap Kinan.


"Apa hubunganmu dengan perempuan busuk ini!" Hanna menunjuk Kinan.


Amora mengerat saat mendengar Hanna kembali memaki Kinan.


"Kau!" Kinan menahan.


"Apa hubunganmu, sehingga kau merasa berhak untuk ikut campur urusan Kinan?!" imbuh Hanna berteriak dengan Air mata yang hampir tumpah.


"Membantu orang lain apa perlu terikat hubungan?. Baiklah, dia karyawan ku, aku harus melindundungi dia seperti aku melindungi yang lain.


Tapi satu yang perlu kamu ingat! baju kotor saja perlu kau cuci bersih apalagi perbuatan kotor suamimu! Jangan salahkan siapapun karena suamimu sendiri yang keji, wajar jika saat ini dia meringkuk kedinginan didalam sel. Suatu saat, jika bukan aku, orang lainpun akan memenjarakan Dirga, jadi kamu tidak berhak menyalahkan Kinan karena suamimu yang salah dan aku yang bertanggung jawab!" kata Aim tegas.


Sementara Aim dan Hanna saling membela Kinan menunduk tanpa berkata apa pun karena Amora terus menatap Kinan menuntut penjelasan.


"Nan," Amora menarik Kinan menjauh dari Aim dan Hanna yang masih berdebat.


"Apa yang kamu sembunyikan dariku?"


Kinan diam.


"Jawab Nan!?" Amora tak bisa lagi menahan dirinya untuk tau masalah yang menimpa Kinan "Bos memenjarakan Dirga karena kamu, Apa yang Dirga lakukan padamu Kinan? Apa yang tidak aku ketahui tentang kamu dan Dirga Nan?" Kinan tetap diam.


"Dirga hampir melecehkan Kinan" Aim yang menjawab. Dia meninggalkan Hanna yang sedang menangis.


"Dirga....?" Amora berkata dengan lirih matanya berkaca tatkala mengetahui sahabatnya telah dirundung orang lain, yang membuat Amora sedih Kinan bahkan tidak mau bercerita padanya.


"Nan, kamu menyembunyikan masalah sebesar ini dariku?" Amora berkata dengan penuh kekecewaan.


Kinan meraih tangan Amora, "Aku tidak berniat begitu Mor, Aku.. Aku.. aku takut kamu khawatir"


"Takut kamu bilang? Kamu pikir dengan tidak memberi tau aku bisa berhenti khawatir? Semakin kamu tertutup aku semakin mengkhawatirkan kamu Nan.,"


"Mor aku minta maaf! tadinya aku tidak mau membebani orang lain."


"Orang lain? Apa aku orang lain untukmu Kinan? Kapan kamu akan menganggapku sahabat Nan? Sampai kapan kamu akan menganggap ku orang lain? Dan apa kamu lupa kamu sudah berjanji, apapun yang terjadi aku orang pertama yang kamu hubungi? Tapi kenapa aku malah tidak tau apa apa?" kesal Amora, berkata setengah berteriak.


"Mor sekali lagi aku minta maaf, aku janji mulai sekarang tak ada lagi yang aku sembunyikan dari kamu, kamu jangan marah lagi Ok" Kinan mencoba membujuk.


"Jangan percayai dia, masih banyak tuh yang dia sembunyikan" timpal Aim. Kinan menoleh, Aim memasang wajah datar seolah perkataanya tidak berarti apa apa.


"Apa itu benar Nan?" Kinan kembali diam.


"Berapa banyak lagi yang kamu sembunyikan dariku Kinan?"


"Aku.. Tidak ada Mor" kilah Kinan, tatapannya gugup 'apa lagi yang diketahui laki laki ini?' fikir Kinan.


"Nan"


"Mor," Kinan menyela. "Sebelumnya aku minta maaf! Aku tidak pernah bermaksud menyinggung, tapi aku bukan anak anak lagi aku harus belajar dewasa, disamping ku juga tidak ada keluarga lagi aku hanya mencoba tegar dan menyelesaikan masalah ku sendirian agar kedepannya aku bisa hidup lebih mandiri tanpa menyusahkan orang lain, kamu mengerti maksudku kan? "


Amora mengangguk terpaksa, "Baiklah... Aku hargai keputusanmu, tapi kamu harus ingat Nan! Saat kamu tidak mampu lagi jangan pernah ragu, datanglah kepadaku tanganku selamanya terbuka untuk mu, kamu bisa'kan menjadikan aku bagian dari perjuanganmu?" Kinan mengangguk lalu menghambur memeluk Amora.


"Aku juga mau" kata Aim, Amora menatap Aim dan Kinan pun melonggarkan pelukannya seraya menoleh kearah Aim, "Aku hanya ingin menjadi ba ba gian..." timpal Aim kaku dan menggantung.


Aim hendak mengungkapkan keinginannya tapi Aim kesulitan untuk mengutarakan itu, dia hanya ingin menjadi orang yang dianggap penting oleh Kinan seperti yang Amora lakukan.


Aim tampak menggaruk bingung, ingin juga mendapat pelukan dari Kinan seperti yang ia berikan kepada Amora.


Tapi tiba tiba seutas senyum terbit dengan lembut dari bibir Kinan, Kinan menghambur memeluk Aim tanpa ragu.


Aim membeku, ada rasa tak percaya didadanya, bagai mimpi. Tubuhnya tiba tiba terasa hangat dengan hati merasakan sentuhan yang teduh.


Sebelum ini tak pernah ada yang memberikan sentuhan seperti ini walaupun sesaat.


Hati dan fikiran Aim langsung terjernihkan. Aim baru sadar ternyata seseorang dapat mengubah suasana hati dan menetralkan fikiran.


Saat memeluk Aim dalam hatinya Kinan berkata, "Aku harus membuka hatiku untuk menerima banyak orang. Sekarang tidak ada lagi Ayah tidak ada lagi ibu dan saudara, tak ada yang bisa aku andalkan selain diri sendiri, aku tidak ingin terus kesepian, setidaknya dengan menghadirkan banyak orang hari hari ku akan merasa hangat dan ramai"


Dengan sendirinya tangan Aim bergerak membalas pelukan Kinan, tak hanya itu Aim juga mendekapnya dengan erat menyesap aroma rambut yang tercium segar dan menenangkan.


"Kenapa gue ngerasa jadi nyamuk doang ya?" Celetuk Amora sambil mendelik kesal, melipat tangannya di dada.


Kinan merenggangkan pelukannya sekilas mendongak menoleh wajah Aim yang sedang menyunggingkan senyum gemas.


"Uh sayang, sini sini" Kinan menarik Amora kedalam pelukan yang tanpa terlepas sepenuhnya dari Aim, "Aku minta maaf ya! aku tidak bermaksud melakukan itu" kata Kinan cengengesan.


Amora tersenyum lalu memeluk Kinan. Mereka bertiga pun berpelukan, sementara Hanna dia yang terlampau merasa telah mempermalukan diri sendiri sudah melenggang sejak Aim mulai berbicara dengan Kinan.


Khm.. khm.. khm..


Dari belakang seseorang mendehem melerai tiga orang yang tengah berpelukan tadi.


"Berpelukaan" teriak Surya sambil memeragakannya dengan geli.


Aim, Kinan dan Amora kompak sama sama terkikik oleh tingkah Surya.


"Kenapa mau juga loe?" teriak Aim tanpa berhenti menertawakan tingkah Surya.


Surya berjalan perlahan.


"Bolehlah ... bolehlah, lagian kaku juga ini tubuh" Surya menggerak-gerakkan badannya, "Udah lama nggak ada yang meluk" katanya sambil merentangkan tangannya maju beberapa langkah untuk lebih mendekat kerah Kinan, tapi sebelum Surya menyentuh tubuh Kinan Aim sudah menahannya.


Mata penuh peringatan keluar "Awas! jauh jauh sana!.,"


"Harusnya gue nggak datang ya? Rusak deh suasananya'kan?" keluh Surya bernada kecewa.


"Enggak kok Dok santai saja, lagian kita juga nggak lagi ngapa ngapain" kata Amora tak masalah. Sementara Kinan hanya terlihat mengulum senyum malu malu.