Oh My Boss.

Oh My Boss.
110



Perkelahian pun hampir tak terelakkan antara Amor dan perempuan yang mencemooh Kinan, saling cengkram dan saling menjambak.


"Kalian berdua hentikan!" Bentak Kinan melerai, namun emosi Amor terlanjur mendidih di kepalanya sehingga tak terkendalikan lagi.


Kinan mencoba menghenentikan Amor tetapi Amor tetap bersikeras, "Ku hajar mulut pedas mu itu, ku tumbuk, ku kasih garam, kasih penyedap rasa sekalian lalapannya juga, dasar wanita gila, kau tak siapa perempuan yang kau cemooh ini?" Semprotnya berapi api.


"Hentikan!" teriak Kinan sambil melepas cengkraman keduanya.


"Siapa dia, Siapa dia?" Mendesak dan meneriaki Amor, "Apa aku perlu memperjelas siapa dia? Dia hanya karyawan biasa dan disini aku adalah atasa, dan kau! kau tidak seharusnya ikut campur, urusan ku dengan dia bukan dengan kau! Atau kau ingin aku pecat juga?"


"Pecat aku, kau memang selalu bersikap buruk, kau fikir aku takut dengan ancaman mu? Kau bisa saja memecatku, tapi ingat! Kau akan menyesal karena telah mengusik Kinan." Ancam Amor, menunjuk nunjuk penuh emosi.


"Mor, udah Mor jangan kelewatan Ok, kita pergi sekarang juga, tenangkan dirimu Ya" bujuk Kinan mencoba menarik Amor keluar dan melerai kekacauan.


Tetapi keributan masih belum usai.


Perempuan kedua kemudian datang, membandingkan baju yang di kenakan Kinan dengan dress di laman internet yang tengah di telusurinya, ia memperhatikan sambil membandingkan kedua dress tersebut dengan detile dan teliti.


"Menurutku" perempuan ini berfikir sesaat sambil menilik Kinan dari atas hingga ke bawah.


Tiba tiba mengeluarkan asumsi,


"Kau telah menghilang selama tiga hari, di tiga hari ini apa yang kamu lakukan? Apa kau menemui seorang lelaki kaya? Apa yang kau berikan sehingga dia memberimu Magoy Amba yang harganya semahal ini?. aku yakin dialah orangnya 'kan" mendelik seolah ada sesuatu yang ia tau, padahal kenyataanya hanya menerka nerka.


perempuan kedua menunjukkan spil poto beserta harganya


Kinan menggeleng.


Hendak menjelaskan, tetapi bingung bagai mana mengatakannya, lagi pula apa yang akan dirinya katakan tidak akan dipercaya oleh mereka, terlepas dari itu Kinan juga berusaha menutupi pernikahannya dengan Aim. Akhirnya Kinan hanya bisa menggertak tanpa tindakan dan berucap tanpa kata. Menjelaskan pun tak tau harus bagai mana.


"Kau fikir baju yang kau pakai ini, bisa dipakai sembarang orang?!" Tekannya perempuan kedua, meremahkan.


"Tunggu!" Cegah seorang Perempuan lagi, perempuan ketiga menghampiri, penuh selidik, dia bahkan berani menyentuh Magoy Amba yang sedang dipakai oleh Kinan.


Mencubit dan merasakan kainnya yang terasa mahal, dia adalah si paling tau mengenai kain dan bahan fashion lainnya.


Kini Kinan semakin dikerubungi, salah satu dari mereka bahkan berkata, "Apa selama tiga hari kamu menghilang. Apa mungkin kamu telah melakukan perjalanan kapal pesiar? Kamu tidak sengaja bertemu seorang lelaki kaya, tampan, dia melamar mu didalam kapal pesiar dan dia memberikan kamu dress mahal ini? apa mungkin ceritanya seperti itu" bebernya kesana kemari.


Perempuan kedua menabok dahi perempuan yang tengah bercerita ini, "Ini bukan drama You are my destiny sadarlah ini dunia nyata bukan dunia halu" selorohnya merasa kesal.


Kinan terus meringis sambil mencerca Aim didalam batin


Magoy Amba ini benar telah berhasil menarik perhatian semua orang terutama perempuan, bukannya merasa senang Kinan malah merasa risih.


Yang saat ini merundung Kinan adalah mereka yang sangat menyenangi Magoy Amba, ter ingin sampai terbawa kedalam mimpi.


Kinan berdesis lelah, "Aku tidak mengenakan baju semahal itu, kalian mengerti? Lagi pula benar atau tidaknya baju yang aku pakai ini kalian tidak mungkin menariknya dari aku 'kan? Kalian tidak akan merebutnya dari aku 'kan?" Sindir Kinan.


Orang orang mendelik, remeh. tetapi mereka juga merasa penasara.


"Baiklah, aku rasa ini bukan magoy Amba yang kalian elu elukan itu, aku membeli baju ini di toko online dengan harga murah" jelas Kinan mencoba meyakinkan


"Jelas jelas ini dressnya, kita nggak mungkin keliru. Loe mendapatkan ini dari mana? loe jual diri?" timpal yang lain.


Kinan menggeleng "Tidak. Kenapa jadi ribet gini sih?" Desis Kinan, memegang kepala dengan frustasi.


Menarik dan membuang nafasnya dengan kesal, dress ini membuatnya repot.


"Mulutmu mau aku tabok?" Seloroh Amor, menabok pelan mulut perempuan yang mencerca Kinan.


"Katakan siapa yang memberimu baju ini? apakah kau tau? ada makna besar dibalik dress mahal ini".


Kinan kembali menggeleng.


"Kalian mau tau dari mana Kinan mendapatkan ini? Kalian sangat penasaran kah? Sehingga begitu ingin mengetahuinya?" Tanya Amor dengan nada kesal.


"Kami tidak peduli itu, tapi pakaian perempuan ini tidak pantas!" Teriak salah satunya.


"Kenapa tidak pantas? apa karena aku hanya seorang karyawan biasa?" Tanya Kinan mulai angkat suara.


"Siapapun berhak menikmati hidupnya termasuk memiliki barang mewah dan pakaian mahal yang ia suka, benar apa kata Kinan apa kalian berfikir cuma kalian (berpangkat tinggi) yang berhak memakai stelan ini, sejak kapan kalian merasa pantas? Sejak kalian duduk (jabatan) di atas kami?" Timpal Amor.


"Aku tidak peduli dengan apapun yang perempuan ini pakai, tapi ingat satu hal! kalau kau berani cari muka didepan bos mu ku depak kau dari devisi ku" ancamnya. Setelah mengatakan itu perempuan pertama melengos pergi nenabrakkan bahunya ke bahu Amor, namun sebelum itu Amor semoat berkata sehingga perempuan itu menjadi geram dan berbalik.


Amor dan Kinan saling melirik, dengan pemikiran yang sama, mereka berdua berfikir rupanya perempuan itu hanya sedang mecemburui Kinan karena Magoy Amba yang dipakainya.


Amor akhirnya mengerti.


Amor berkata dengan nada lantang, melipat tangan di dada dengan angkuh, "Perempuan mana pun akan merasa dirinya pantas untuk mendapatkan cinta Pimpinan (Aim) tapi bodohnya dia tak pernah melakukan hal yang pantas untuk dicintai, bermimpi dan berkhayal itu boleh tapi, goblok jangan!" Amor menekan kalimat terakhir.


Perempuan itu tampak mendengus dengan wajah dipenuhi amarah, mata membulat dan memerah, gigi gemerutuk tak terima Amor berkata demikian.


"Kau selalu berfikir bahwa kau itu paling sempurna, paling perfeck dalam segala hal, kau berfikir mampu menarik perhatian orang lain dengan kemampuan mu termasuk Bos mu, tapi untungnya selera Bos mu juga tidak buruk" menekan lagi kalimat terakhir lagi.


Perempuan terperfeck tersebut spontan berbalik, mengambil ancang ancang hendak menerjang Amor.


Dari kejauhan ia terlihat seperti banteng mengamuk saat melihat kain merah yang dikibarkan, dia kemudian berlari dengan gila, orang orang yang ada disekitar segera menyingkir, tetapi tidak dengan Amor, ia baru menyadari hal tersebut ketika ada seseorang mengingatkannya.


"Awas!" teriaknya, Ia kemudian menarik Amor dan menghempasnya, sementara Kinan saat itu telah mengambil langkah menghindar terlebih dahulu.


Amor hampir terhuyung namun dengan sigap sang penolong kembali menariknya kedalam dekapan.


lalu si penyeruduk?


Ia kehilangan kendali lalu ambruk bersama jatuhnya vas yang dipajang didalam ruangan tersebut, salah sasaran.


"Awww," rintihnya, memegangi dahi dan beberapa anggota tubuhnya yang saat ini terasa sakit.


Bersamaan dengan jatuhnya Vas, Amor mengerejab sadar, Amor merasakan hangat tubuh seseorang memeluknya dari belakang.