
Kinan diam menahan kemarahannya, dalam hati bertanya tanya apa kesalahan yang ia perbuat.
"Bu saya minta maaf jika saya berbuat lancang. Tapi perlu ibu ketahui kalau saya tidak pernah memiliki niat apapun, saya mencintai anak ibu sebagai mana perempuan lain mencintai pasangannya, saya tidak ada niat mengambil keuntungan"
Rania tersenyum miring, "Kau tau?! Kalimat ini sudah sering aku dengar. Kalian sengaja terlihat tulus untuk menaikkan harga 'kan?. Katakan! Berapa yang harus ku bayar? Atau barang mewah apa yang engkau inginkan?" Rania bersidekap dada dan berbicara dengan angkuhnya.
Kinan tak mengerti dengan yang ada di fikiran Rania, tak ingin mengundang keributan Kinan akhirnya memutuskan untuk pergi, "Saya minta maaf, saya harus pergi" setelah merengkuh memberikan penghormatan, Kinan akhirnya sah dan menerima dirinya di keluarkan.
Setelah keluar dari kantor Kinan masih berjalan memeluk dos berisi semua file dan rekapan data miliknya, setelah berjalan cukup jauh Kinan menyempatkan untuk duduk sebenar di kursi taman pinggir jalan dan mengecek semua berkas berkas miliknya.
Saat membuka berkas ke karyawannanya tiba tiba Kinan merasa hancur dan sedih, di permalukan dan diusir oleh mertuanya sendiri dari dalam perusahaan dengan tidak hormat.
"Tidak, aku tidak boleh sedih," Kinan mencoba menguatkan dirinya, walau tidak gampang.
"Aku harus nyari pekerjaan baru" ucap Kinan kemudian, setelah sesaat mengatur nafasnya yang terasa berat.
Sambil duduk istirahat Kinan membuka buka browser perusahaan yang sedang membutuhkan Karyawan.
Saat mendapatkan informasi beberapa perusahaan yang memerlukan pekerja di bidang tertentu Kinan tak lupa mencatatnya.
Tanpa sepengetahuan Kinan ternyata seseorang memperhatikan Kinan dari kejauhan.
.
Aim tiba tiba berdiri kaget ketika Guna mengirimkan sebuah photo kepadanya.
Gambar Kinan yang sedang duduk di taman dengan dos besar di sampingnya.
Tak hanya itu Guna juga menambahkan sebuah pertanyaan, "Apa yang terjadi sama Kinan?"
"Dari mana kau mendapatkan poto ini?" Tanya Aim dalam sambungan telpon.
"Aku kebetulan mengemudi melewati taman, dan melihat Kinan duduk di sana" jawab Guna.
"Kenapa Kinan berada di luar saat masih jam kantor? Setau ku sejak tadi dia sudah berangkat?"
"Bos kau lihat dos besar yang di bawanya?. Apa mungkin dia berhenti bekerja?"
"Tidak mungkin, Kinan tidak pernah membahas itu" bantah Aim, sambil terus memikirkan alasan Kinan tiba tiba berhenti.
Karena merasa tidak yakin, akhirnya Aim memutuskan untuk mengecek sediri ke bagian HRD.
Karena masih tidak yakin, Aim memutuskan untuk mendatangi devisi Kinan, dan benar saja, seseorang telah menggantikan Kinan, dan yang menyuruhnya tidak lain adalah ibu dirinya sendiri.
"Pergi kemana Kinan sekarang Mor" tanya Aim setelah mencoba menghubungi Kinan berkali kali namun di tolak.
"Saya tidak tau pak" jawab Amor sama sama tidak tau pasalnya Kinan tidak memberitahu akan pergi ke mana setelah itu.
"Mah!" Aim berjalan tergesa dan bertanya dengan tidak sabar menunggu jawaban, "Kenapa Mama mengusir Kinan? Apa salah dia Mah?"
"Berhentilah membela perempuan itu Im, kau tidak akan mendapat apa apa darinya"
"Mah, apa salah Kinan. Kenapa Mamah melakukan ini?!"
"Karena dia semuanya hancur Im, kamu berani bertingkah, membantah dan menghancurkan persahabatan kita dengan keluarga Dheo. Kamu tidak akan tau bagai mana malunya kami saat bertatap muka dengan mereka?! Sementara kalian dengan bangganya memamerkan diri. Kau lancang membawa perempuan lain ke dalam keluarga kita"
"Tapi Mah, Ayah Dheo sendiri yang meminta kami datang, Ayah Dheo yang mengundang Kinan," Aim bersikeras melawan.
"Tapi lihat bagai mana media menanggapi ini Im? apa yang harus kita lakukan?" Rania menunjukkan media yang heboh membahas pesta tadi malam.
"Mah, kenapa harus memperdulikan media? mereka tidak peduli dengan apapun kecuali yang bisa menguntungkan mereka,"
"Tapi bagai mana dengan reputasi kita? reputasi keluarga kita, semuanya hancur Im".
"Tidak Mah, semuanya tidak ada yang berubah".
Rania menatap Aim tajam, "Inilah yang tidak Mama sukai dari perempuan itu Im, dia telah merubah banyak hal dari kamu, sekarang kau bahkan pandai membantah! Semuanya karena perempuan itu!" Pekik Rania.
"Berhenti menyalahkan Kinan Mah! Semua ini terjadi karena kalian terlalu memaksakan kami, kalianlah yang membuat kami begini!" Balas Aim.
Plakkk...
Sebuah tamparan tiba tiba mendarat di pipi Aim, meninggalkan bekas merah di sisi yang sempat Aim pegang sesaat.
"Mulai lancang kau Im? berani kau membentak ibu mu?". Bentak Arman.
Aim diam tak menjawab,
"Sekarang! kau memilih perempuan itu? atau keluarga mu?!"
Aim diam sesaat lalu menunjukkan tatapan dingin "Menurut Ayah Aim harus memilih yang mana?"