
mira dan Mina saling bertatap, Mina terlihat emosi dibuatnya.
Setelah Arman pergi Rania pun menyusulnya.
"Mah," panggil Aim saat Rania hanya melewati Kinan, namun Rania tidak perduli.
Kinan telah mengacaukan penandatanganan pengalihan saham yang telah lama di nantinya hingga 22 tahun lebih.
Kinan berjalan ke dekat Mina, menatapnya dengan tatapan dingin.
Ini adalah kali pertama untuk Kinan, berani menentang Mina.
"Mah. Apa yang mama sembunyikan dari Kinan Mah?"
"Apa yang kamu maksud ini, Nan?" Tanya Mina pura pura tidak tau apa.
Dalam hati ada tawa yang tersembunyi.
"Mama pasti menyembunyikan sesuatu 'kan? Mama tau tentang saham ini? Kenapa Mama tidak pernah membahasnya didepan aku?"
Mina menoleh ke sekitar, melihat banyak sekali cctv didalam ruangan tersebut, "Kinan, aku juga tidak tau apa apa tentang ini. Mereka tiba tiba menghubungi dan mengatakan tentang saham ini" kata Mina.
"Teruslah berbohong tante, tapi ingat suatu saat semua ini akan tebongkar, aku yang akan membongkar ini semua" ancam Aim.
"Kamu tidak perlu repot repot Im, karena kamu juga tidak akan mendapatkan apa apa. Saran ku gunakan waktu luang mu untuk beristirahat jangan ikut campur urusan orang lain!" Perintah Mina.
Aim membalasnya dengan senyum kecil, "Tante Mina, mohon maaf. Masalah ini harus selesai, yang menjadi amanat harus disampaikan dengan jelas. Maaf jika saya membuat anda takut" Aim berbisik di telinga Mina.
Sedetik kemudian mengubah raut wajah yang manipulatif itu, "Kebenaran tidak akan menemui ketakutan, akan aku buktikan kalau yang aku katakan adalah benar" bantah Mina bersikeras.
Melihat kepercayaan diri Mina, Aim tertawa kecil, "Seseorang yang melakukan pemalsuan dokumen bisa mendapat kurungan penjara yang cukup lama dan denda materi yang cukup besar, sebelum saya mengetahui kebenaran yang akan menyeret ibu dan anak ibu kedalam penjara, lebih baik ibu menyerah dan mengaku saja, bagai mana?" Ancam Aim.
"Aku tidak melakukan apapun, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan hak Amira. Sebaiknya kalian lah yang berhenti mengacau, karena mungkin semua usaha kalian tidak akan ada gunanya, karena kebenaran selalu menang" Mina.
"Tapi apa ibu yakin, kalau yang ibu lakukan ini benar?" Aim menggeleng tak yakin, "Mari untuk saling membuktikan kebenarannya".
Mina pun tersenyum licik, "Jelas aku yang akan menang, karena Amira benar benar anak Harimaja, jika kalian tidak percaya, mari kita lakukan tes DNA" ajak Mina, mencoba menantang. Namun Mina tau informasi yang Aim miliki tentang Kinan cukup lemah, Mina yakin Aim akan kalah.
"Baik, siapa takut, kita akan melakukannya sama sama" jawab Aim dengan pasti.
Mina terkejut mendengar kesanggupan Aim.
"Mah, Kinan hanya mau mendengar Mama jujur!. Apa ada sesuatu yang Mama sembunyikan dari Kinan Mah?." selidik Kinan terus menekan.
"Harus dijelaskan berapa kali sih Nan? nggak denger ya kalau Mama bilang nggak ada?. Kamu tau nggak sih Nan? kamu itu sejak kecil selalu iri kepadaku, kamu mau yang aku punya mau yang aku pakai, semuanya, sampai sampai kamu meminta Ayah memanggil kamu dengan nama Amira. Karena kamu fikir nama Amira lebih di sayangi dan di cintai, masuk akal nggak sih? itu sebabnya kenapa ayah selalu memanggil kamu dengan nama Amira"
"Nggak, itu jelas nggak bener" bantah Kinan.
"Sayang, sudah ya" menangkup pipi Kinan dan menyapu air matanya, wajah Kinan saat ini sudah sangat frustasi.
Padahal Kinan tidak menginginkan Saham itu yang Kinan mau hanya kebenarannya.