
Aim memerintah dengan wajah dingin.
Dirga menatap Hanna dengan kening mengerut.
"Kau keterlaluan, mentang mentang kau pemimpin tapi kau tak bisa memerintah sesuka hati mu!" Pekik Hanna, tubuh Hanna berputar mengikuti arah Aim berjalan, sambil terus meluah kan kekesalannya.
"Hei kau menjawablah! Jangan diam," Hanna terus meneriaki Aim, melontarkan keburukan tiada henti.
Karena Aim tak bergeming, Hanna mulai membuka keburukan Kinan, "Hei apa kau tau siapa ayah anak yang sedang perempuan itu kandung?, Kau bodoh kalau mau terus menerima dia, dia telah melacur bergonta ganti pasangan hingga menghasilkan anak haram, dan dengan bodohnya kau mau menerima dia!. Padahal bisa saja anak itu adalah milik lelaki yang memiliki hubungan terakhir sebelum dia dengan kamu. Apa otak mu tidak berfungsi dengan baik? dia bukan anak kandungmu! Kau punya segalanya kau bisa mendapatkan perempuan yang lebih dari dia"
Kinan menghentikan langkahnya, berbalik kepada Hanna menghunuskan tatapan tajam, Kinan hendak membalas semua perkataan hina Hanna dengan menamparnya,
Tetapi Aim terlebih dulu menahan Kinan, Aim berkata
"Berkoarlah sesuka hatimu Han,. Mungkin sudah menjadi kebiasaan mu merendahkan orang lain untuk membuat mu naik. Sayangnya aku tidak perduli dengan apapun yang kamu katakan. Mengenai ayah dari anak yang Kinan kandung, aku tidak perduli, karena aku tidak membutuhkan dia aku bisa mencukupi anak ku, bahkan aku bisa saja membuatkan sertifikat hubungan kandung antara aku dengan putraku.
Meski dia bukan putraku, aku tidak akan membiarkan siapapun mengambilnya" jawaban Aim tak pelak membuat Hanna diam, justru Hanna semakin cemburu kepada Kinan, dan berniat menjatuhkannya lebih dalam lagi.
"Nan, apa yang kau berikan kepadanya sehingga dia begitu tunduk? Kau mengguna guna'i nya?" Hanna mendelik penuh keyakinan.
Aim lekas menjawab "Jangan salah paham Han, bukan aku yang di guna guna tapi Kinan yang aku guna guna, aku ingin menundukkan dia, kalau bisa aku ingin mentato namaku di otaknya, agar di dalam otaknya hanya ada nama ku saja. Aku tidak rela ketika namaku harus di gantikan oleh orang lain" kata Aim, Kinan mendongak dengan senyum simpu yang manis, Kinan sangat bangga saat Aim tak tergoyah oleh apapun.
Hanna menggeleng kesal, Hanna kebingungan mencari cara untuk menjatuhkan Kinan di hadapan Aim. Semakin Hanna mencoba menjatuhkan, Aim malah semakin semangat untuk membela Kinan.
"Kinan!"
"Kami pergi dulu" ucap Aim kemudian menggandeng Kinan dan pergi melangkah bersama.
Tapi sebelum itu Aim sempat berbalik untuk mengingatkan Dirga, "Dir, tau arti dari 'kau harus mengganti gerbang rumah mu? Aku rasa kau harus melakukan itu (Bercerai). istrimu sangat keterlakuan, selain tak punya etika keinginannya pun terlalu tinggi"
Tetapi Dirga malah menanggapinya dengan kekesalan, "Apa hak mu mengatur ku?!" Tampak tak terima.
"Perempuan seperti Hanna, hanya akan membuatmu kehilangan banyak teman, atau bahkan klien penting, aku rasa mulutnya terlalu banyak di asah sehingga sangat tajam dan tak terkendali" Aim mengingatkan.
Perkataan Aim ini membuat Dirga ingat pada alasan pelukis Khay (Perempuan) yang tiba tiba membatalkan kontrak kerja desaign produk dengan perusahaannya, semua itu karena Hanna terus menata-matai, hingga menerornya, Hanna mengira Kay adalah selingkuhan Dirga, tanpa menanyai Dirga terlebih dahulu Hanna tiba-tiba menegur Kay dengan tidak sopan, bahkan mengatainya sebagai pelakor. Kay tidak terima dengan sikap Hanna, Kay langsung mengakhiri kontraknya dengan perusahaan, sikap Hanna waktu itu memang sangat keterlaluan.
Juga ada beberapa lagi perilaku Hanna yang mengacau dan membuatnya tidak paham mengapa Hanna bisa berkata dan bersikap demikian kepada orang lain.
"Dir kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Hanna dengan raut tidak suka.
"Apa kau terkecoh dengan omong kosongnya, Dir?" tanya Hanna.
Walau Dirga hanya diam, Hanna terus mengoceh hingga membuat Dirga kesal, "Kau bisa diam tidak?" bentak Dirga kemudian.
Kekesalan Dirga kini tak habis habis, setelah gagal menjatuhkan suami Kinan, kini Dirga dimungkinkan kehilangan kontrak kerja yang amat berharga untuknya, ditambah lagi ocehan Hanna yang tidak tau akan berhenti kapan, membuat Dirga sangat pusing bahkan kepalanya hampir mau meledak dibuatnya.
"Kau tidak berguna, setidaknya kau diam!" pekik Dirga kemudian.
Hanna yang terus mengoceh seketika mengatup diam. Hanna kesakitan, tidak percaya Dirga baru saja membentak dirinya.
Hanna dan Dirga kini sedang duduk merenung, didalam mobil, Hanna yang marah duduk di kursi belakang sementara Dirga duduk di kursi depan, di keheningan itu Hanna mau pun Dirga tidak ada yang berniat memulai percakapan, ataupun mengucap maaf atas kesalahan masing masing.
Mereka menatap nanar keluar jendela dengan keributan di otak masing masing.
...
"Mas, terima kasih" ucap Kinan tiba tiba. Aim yang terkejut dengan ucapan itu mengernyit penuh tanya.
"Untuk apa sayang?".
"Terima kasih karena telah menjadi lelaki baik, dan terima kasih karena telah memilih aku menjadi istri mu. Aku bukan siapa siapa, aku hanya karyawan rendahan, sementara kamu adalah Bos perusahaan LK yang sangat terkenal. Kadang, bahkan sampai saat ini aku masih merasa ini adalah mimpi, aku yakin sekali di luar sana banyak sekali perempuan yang cemburu kepadaku, atau mereka menilai aku tidak pantas untuk mu"
"Sttt.. bicara mu semakin ngawur saja" potong Aim.
"Dan Maaf, jika suatu saat aku akan tiba tiba marah dan mencemburui mu berlebihan, semua itu karena aku terlalu takut kehilangan kamu, kau sangat sempurna dan pantas di miliki siapapun"
"Benarkah?. Padahal aku tidak pernah memiliki keyakinan seperti itu. Aku hanya ingin memilikimu dari awal hingga akhir. Kinan mau cemburu? lakukan lah, karena aku sangat senang ketika melihat kamu cemburu,"
"Mm, kamu benar Mas?. Kamu memang hanya milikku dari awal hingga akhir, bahkan bila perlu aku akan berdoa, meminta agar tuhan mematikan hati mu untuk orang lain, dan hanya tetap hidup untuk ku, aku ingin tuhan menghapus nama siapa saja yang masuk kedalam hati mu, dan membiarkan namaku saja di hati kamu,. Seperti yang kamu bilang, aku juga ingin mentato namaku di hati mu, agar cuma ada satu nama yang tersisa di hati mu ya itu aku, Kinan."
"Kamu harusnya tau kalau nama kamu itu sudah lama hidup di hati aku Sayang" -Aim.
Kinan yang tak percaya menoleh spontan, "Benarkah?"
"Menurut mu, kapan awal kita bertemu?" tanya Aim, besar harapan Aim untuk Kinan bisa mengingat kali pertama mereka bertemu, dinjalan.
Kinan diam untuk mengingat ingat.
"Bertemu dengan mu Mas?, itu cukup singkat tapi aku telah lama mengagumi mu, itu yang harus kamu tau"
"Benarkah?" Aim tertawa kecil, tak yakin.
"Mm. Tapi aku tau kita berdua terlalu tidak mungkin, sehingga untuk mengagumi pun aku merasa tidak berhak, dan akhirnya aku hanya bisa diam diam mengagumi mu, oo ia. ini" Kinan mengeluarkan handphonenya dan menunjukkan sebuah gambar yang Kinan Ambil dari poster yang terpajang, gambar Aim yang tersenyum cool dan elegan "Aku diam diam mengambil gambar kamu yang ini"
Penasaran dengan hambar yang di tunjukkan Kinan Aim lantas mengambil handphonenya untuk memperhatinya lebih teliti.
"Ngomong ngomong, di antara kita siapa yang pertama kali menaruh hati, aku atau kamu?" Menunjuk diri lalu menunjuk Kinan.
"Yang kedapatan menaruh hati terlebih dahulu harus mengabulkan setidaknya 5 permintaan setiap harinya, bagai mana?" usul Aim. Mulai tidak beres.
"Apaan si Mas?" merebut paksa handphonenya lalu menutup layar, Kinan tidak ingin Aim mengetahui kalau diam diam dirinya adalah penguntit Aim sejak lama.
Genggaman keduanya semakin di eratkan, mereka berdua masih berjalan menghabiskan malam dengan berjalan jalan santai mengitari taman bermain sambil bercengkrama, dan bergurau santai hingga lupa waktu dan lupa beberapa jajanan telah memenuhi tangan.
Tanpa mereka berdua sadari, dari kejauhan Hanna dan Dirga sedang memantau gerak mereka berdua,