
Shina memberikan kado ini sebagai hadiah dari semua kesabaran Aim!" Aim terdiam sejenak untuk meredam emosinya.
"Sebenarnya apa yang ayah pertahankan dari pernikahan ini?" Tanya Aim lirih penuh rasa sakit, Arman diam tak bisa menjawab.
"Apa karena persahabatan Ayah?" Imbuh Aim.
Arman baru menjawab, "Kami selalu berharap kalian rukun Im". Arman mendongak menatap Aim penuh harapan.
"Ya, itulah yang tidak bisa aku berikan, bukan aku tapi Shina"
"Aim, cobalah mengerti!" Arman beranjak berdiri "Ayah tidak mungkin mendatangi pengadilan dan mengatakan dengan tegas kalau Shina bersalah, pikirkan bagai mana nanti perasaan Dheo (Ayah Shina) dan fikirkan bagai mana Ayah harus menjelaskannya kepada mereka, ayah tidak ingin mempermalukan mereka didepan umum Im, dan yang perlu kamu ketahui Im," Arman menunjung untuk memperingatkan "Ayah tidak akan mengabulkan perceraian kecuali Shina sendiri yang memohon." Tegas Arman.
Aim menatap Arman dengan penuh rasa kecewa, "Lalu sampi kapan aku harus terus bersabar menerima perlakuan ini?" Arman kembali diam "Jika tidak bisa berfikir sebagai seorang ayah, pikirkan itu sebagai seorang suami!" Aim lalu melengos pergi meninggalkan Arman yang masih berdiri menatap langkah Aim dengan bingung.
Setelah Aim tak terlihat Arman kembali duduk mendesah bingung juga merasa bersalah, namun Arman tidak bisa berbuat banyak, hanya mampu berharap Shina cepat pulih dan memperbaiki diri.
...
"Jadi kamu benar benar memutuskan membatalkan pernikahan dan keluar dari rumah?"
Amora setengah berteriak.
Saat ini Kinan sedang menceritakan panjang lebar alasan dia membatalkan pernikahan yang berujung diusir oleh Mina..
Amora sedang menanyai Kinan, memaksa Kinan untuk menjawabnya.
Kinan mengangguk, meng-iakan.
Amor menggeleng "Ckckckc kamu putus dan keluar dari rumah? kenapa aku baru tau sekarang?"
"Yah, kamu'kan nanyanya baru sekarang" jawab Kinan enteng.
"Naaan" Amor menatap Kinan sambil meringis, "Apa ini keputusan yang tepat?" Amor sedikit ragu.
"Hanna, berhak memiliki keluarga yang utuh," Kinan berlaga ikhlas "Dia benar, masa depanku masih panjang dan siapa tau aku bisa mendapatkan lelaki yang lebih baik melebihi Dirga" kata Kinan penuh keyakinan.
"Siip" Amor mengacungakan dua jempolnya, "Apapun keputusanmu, aku akan mendukung Kinan" Amor senang mendengar itu Kinan memang tak pernah putus asa.
Saat Kinan dan Amor asik berbicara "Tolong bantu selesaikan ini secepatnya," Sesrirang memberi Kinan setumpuk kertas.
Kinan mendapat tugas memilah model produk yang akan di pasarkan serta menentukan konsep dan tujuan pemasaran.
"Baik" Kinan menerimanya dengan senyum lebar.
Setelah menyerahkan itu atasan Kinan melengos pergi entah kemana, open BO mungkin.
Amora yang ikut mendengarkan pembicaraan Kinan dengan atasannya terdengar mendesah kesal, "Bukankah ini tugasnya, ya? Kenapa kamu mau aja sih Nan?" Amora merasa tak pantas.
"Sini biar aku kembalikan," Amora merebut setumpuk file yang diberikan kepada Kinan, namun Kinan menahannya.
"Sudahlah tidak apa apa mungkin dia masih banyak hal yang perlu dia urus, anggap saja kita sedang meringankan beban semua orang termasuk kamu!" Kinan memanyunkan bibirnya menunjuk Amora.
Amora berdecak kesal, dia tidak tau lagi harus mengatakan apa agar Kinan bisa menolak permintaan orang lain.
Kinan terus tak bisa merasa orang itu sedang menindasnya.
"Tapi Nan kalau nanti ada kesalahan kamu juga yang akan disalahkan" timpal Amora khawatir.
"Kalau pun tidak ada kesalahan tetap saja orang lain yang akan diuntungkan Kinan" Amora tambah kesal, kesal karena tidak mau mendengarkan pendapatnya.
"Untung rugi tidak masalah ko'." Jawab Kinan enteng, "Kerja'kan harus ikhlas, kalo memang ada kesalahan nanti diperbaiki, kalo bisa berhasil dan menguntungkan ya sukur" imbuhnya.
Amor mendengus kesal lagi kesal sekesal kesalnya, hal seperti ini bukan pertama kali dialami Kinan, Kinan sering manjadi bulan bulanan kemalasan teman sepekerjaannya yang dengan tidak tau diri menyerahkan pekerjaan yang menjadi tugasnya lalu setelah selesai dan berhasil malah tidak tau terima kasih.
"Terserah kamu deh Nan aku kesel sendiri tau nggak" Amora bersandar dimeja Kinan melipat tangannya di dada memanyunkan bibirnya karena jengkel, sementara Kinan hanya menggeleng gemas.
Amora masih menyandarkan bokongnya di meja Kinan sesekali menoleh melihat tangan cekatan Kinan saat memeriksa file, Amora mendesah gondok melihatnya,
"Nan ngantin yuk" Ajak Amor, Kinan menggeleng tanpa mengalihkan pandangannya dari file, Amor mendesah emosi menghentakkan kakinya lalu pergi meninggalkan Kinan.
Sekitar lima belas menit kemudian Amor datang dengan membawa dua kotak makanan.
"Nih" Amor menyodorkan kotak nasi itu kepada Kinan, Kinan menerimanya dengan senyum lebar, "Makasih, kelinciku ini memang selalu perhatian" Kinan tersenyun sumringah,
Kinan segera membukanya dan menyantap makanan favoritnya, sahabatnya yang satu ini memang sangat pengertian walau sedang marah sekalipun dia tetap memerhatikannya.
Amor duduk disebelah melahap makanannya dengan aral.
"Mor"
Amor hanya mende'hem' karena mulutnya penuh dengan makanan dan hatinya masih gondok, malas untuk berbicara.
"Menurut kamu aku beruntung nggak sih?" Tanya Kinan, sekilas menoleh Amora yang sedang memainkan handphonenya.
"Beruntung bagai mana?" Jawab Amor tanpa mengalihkan matanya dari layar handphone.
"Beruntung karena punya sahabat sebaik dan sepengertian kamu" Kinan tersenyum dan bersandar sekilas kepada Amor, Amor yang sedang kesal dipaksa senyum oleh kata kata manja Kinan.
"Ya aku baik, jika tidak paik pun setidaknya aku bukan penghianat" Amora masih kesal.
"Mmm aku setuju banget dengan kalimat ini" Ucap Kinan tanpa menghentikan kunyahannya.
Ditatapnya perempuan yang sedang melahap makanan yang diberikanya, perempuan ini sangat kuat semua beban bisa dipikulnya padahal pundaknya rapuh, perempuan ini selalu kuat, sabar, walau hatinya sangat lemah, kakinya kecil tapi kuat menopang kehidupannya yang sangat sulit, selama ini Amor selalu berfikir hidupnya lah yang paling pelik namun setelah mengenal Kinan dia sadar kalau beban yang dihadapinya hanya sebagian kecil dari yang dimiliki Kinan, Kinan sangat tangguh dia tidak pernah mengeluh tidak pernah putus asa dia selalu yakin semua masalah akan ada jalan keluarnya dan dia selalu yakin kesabaran akan berakhir manis.
Tidak terasa mata Amor bening berkaca, lalu dirangkulnya perempuan cantik yang terpaut beda satu bulan dengannya, "Kinan" Amora memeluk erat tubuh yang kelihatan selalu tegak berdiri dalam menghadapi masalah itu.
Diusap halus rambut hitam panjangnya, Amor menangis sambil memeluk Kinan.
"Kamu kenapa?" tanya Kinan terkejut saat mendaoati Amor tiba tiba menangis kepelukannya.
"Entahlah Nan aku juga bingung," Amor melepaskan pelukannya lalu menghapus air matanya "Air mata ini keluar dengan sendirinya" dan tertawa kecil walau dalam hati masih menangis miris.
"Kenapa?" tanya Kinan khwatir. "Apa kamu punya masalah? Ayo cerita! Siapa tau dengan berbagi cerita kamu bisa menemukan jalan keluarnya"
Amor menggeleng sambil tersenyum menjelaskan bahwa tak ada masalah pada dirinya.
"Kamu yakin?" Kinan kembali meyakinkan.
"Enggak ada," Amor tersenyum, berkali kali menghapus air matanya.
"Syukurlah.." Kinan mendesah lega, "Aku jadi nggak perlu khawatir".