Oh My Boss.

Oh My Boss.
44



Kegaduhan Kinan dan si Biang Gosip sempat menarik perhatian Aim, ia sempat tidak begitu perduli karena kakinya yang sakit, tapi saat mendengar suara Kinan Aim tergerak ingin melihat, akan tetapi kakinya yang kaku tidak bisa diajak berjalan.


"Eekkh Kak,. Kalau mau masuk ya masuk aja, sekalian usirin lima tikus yang sudah aku kurung didalam," Biang Gosip meringis jijik. Kinan sengaja mendorong pintu hingga terbuka beberapa inc lalu menutupnya kembali "Kaka nanya'kan kenapa aku makannya diluar? Inilah jawabannya"


Kinan mempersilahkannya dengan wajah senang, "Ayo masuk, tapi awas tikusnya jangan sampe lepas, aku bakalan marah sekali loh kalau tikusnya gak ketangkep semua, sebaliknya aku bakalan berterima kasih banget lo kak kalau kamu keluar sambil jinjing tikusnya" walau sebenarnya hati menegang, khawatir Biang Gosip akan benar benar masuk kedalam kamarnya.


Kepada yang kuasa Kinan tak henti mengucap doa agar membawa hati Biang Gosip ke jalan yang lurus.


Biang Gosip masih terlihat menimbang, antara masuk atau pergi dari hadapan Kinan, dan.. Biang Gosip kembali mengulurkan tangannya, memegang handle, memutar lalu mendorongnya pelan. Kinan benar benar dibuat tegang dan bingung harus bagai mana, tamatlah sudah riwayatnya.


Kinan bahkan sudah membayangkan hal hal buruk yang semenit lagi akan menimpanya, di gerebek diteriaki dan diusir dan yang paling Kinan khawatirkan semua itu pasti berimbas juga kepada Aim.


Kinan pucat tegang.


Biang Gosip hampir nyelonong masuk, dan...


Krrriiiiiiingggg..


Handphonenya berbunyi, Biang Gosip merogoh saku, "Tikusnya buat kamu aja Nan" katanya. Biang Gosip lalu pergi dari Kinan untuk berbicara dengan penelpon.


Huuuhhh


Kinan akhirnya bernafas lega, tergesa masuk kedalam kamar dan menguncinya rapat rapat.


Aim mendongak memindai kedatangan Kinan dengan wajah semberawut "Ada apa Nan? " Aim menyelidik "Kenapa wajahmu terlihat pucat, apa terjadi sesuatu?"


"Tidak apa apa hanya kejadian kecil" Kinan menjatuhkan badannya dengan sedikit kasar, ini benar benar menguji kekuatan batinnya.


Aim hanya mengernyit.


"Bos, kamu benar benar harus pergi, aku tidak ingin terjadi sesuatu yang lebih parah dari ini"


Mata Aim melayang penuh tanya, buku (milik Kinan) yang sempat ia baca ia tutup, "Emangnya ada apa? Apa aku benar benar mengganggumu?"


Tapi Kinan juga bingung tidak mungkin mengusir Aim dengan kondisinya yang seperti ini, tapi keadaannya saat ini juga terancam.


"Baiklah Bos," Kinan beranjak mengabil balsem, "Aku bantu" Duduk disamping Aim dan dengan lancang menyingkap celana.


Aim terkejut, fikirannya menuju hal hal buruk, tapi bukan itu yang akan dilakukan Kinan.


Reflek Aim menahan, "Mau apa?" Pertanyaan itu berasal dari fikiran yang buruk.


Kinan terkesiap, "Urut" Kinan menunjukkan balsem dan menunjuk kaki Aim.


Aim tertawa sayu, fikiran konyol yang mulai kemana mana ia rutuki dalam diam, Aim kira Kinan akan memaksanya melakukan hal yang enak enak malam ini.


Kinan mulai memijit dan Aim pun mulai menjerit kesakitan, "Nan pelan pelan"


Kinan spontan memukul Aim sambil berkata, "Jangan bersuara nanti aku celaka" Kinan memberikan ekspresi kesal dengan gigi mengerat.


Lalu Aim menangkup mulutnya kemudian berteriak kuat kuat, semakin ingin berteriak Aim semakin kuat mencengkram mulutnya.


Mau tak mau Aim berhenti memberi Kinan ekspresi kesakitan, meski wajahnya kian memerah karena ingin meluahkan perasaanya.


Kinan masih melakukan pekerjaannya (mengurut) dengan teliti hal itu menarik mata Aim untuk tidak berhenti menatapnya.


Lagi lagi perasaan hangat tercetus. Melihat Kinan merawatnya, memperhatikannya, mengingatkan Aim akan harapannya dalam berumah tangga selama ini, hal hal sepele seperti ini merangsang kehangatan, dan kedekatan nurani dalam berpasangan. Aim terus bertanya akankah pernikahannya berlangsung sesuai harapan atau berakhir tanpa tujuan.


Dalam segala hal mungkin Aim menang. Karir, popularitas, harta, dan kedudukan tetapi dalam hal asmara jelas bukan pemenang, terkurung dalam keadaan yang tidak bisa bertahan atau pun pergi.


"Sudah Bos,"


"Secepat itu?" -Aim.


"Silahkan istirahat lalu cepat pergi," Sekilas Kinan menoleh kearah jam dinding, 01:24. "Bos punya waktu dua jam untuk istirahat, lalu setelah itu Bos harus pergi secepat mungkin, dan ingat jangan sampe ada orang liat Bos keluar dari sini," Kinan terus memperingatkan.


"Kamu, kenapa sih Nan?. Kayaknya nggak nyaman banget aku disini? Ngerepotin ya? risih ya? Kamu tenang saja, full service yang kamu lakukan akan aku bayar, jangan khawatir ok" perkataan itu sontak memicu kekesalan dari wajah Kinan.


Sambil mengerucutkan bibirnya Kinan mendumel, "Full service apaan dikira ini panti pijat" memutar bola matanya kesal.


"Hei aku dengar loh Nan"


"Oh maaf Bos"


Kinan malas untuk minta maaf.


"Baru kamu loh Nan Karyawan yang begitu tidak hormat sama atasan, udah pegang pegang sembarangan ngebalur balsem sembarangan, dan sekarang ekspresi wajah kamu ini loh, kalau di kantor udah aku pecat kamu ini Nan"


"Saya minta maaf Bos" Kinan merengkuh dan menundukkan kepala.


"Dan minta maafnya nggak ikhlas" imbuh Aim.


Kinan mencerca dalam batin, "Ini orang maunya bagai mana sih? Apa perlu aku jitak sampe botak, ngeselin banget, udah bikin kegaduhan, bawa masalah dan seenaknya pula," Handphone kembali memunculkan notifikasi pesan grup, Kinan menolehnya sekilas, itu adalah grup edan yang sedang mengatainya, pelakor, penjillat, perempuan pencari perhatian dan sebaginya "Bukannya bilang terima kasih malah bilang tidak hormat, hadeeehh, nggak Bos nggak karyawannya semua bikin sesek" kejadian di kantor tadi masih jadi perbincangan hangat di media grup.


"Saya minta maaf yang sedalam dalamnya Bos," Ucap Kinan lebih santun.


"Kamu yang menginginkan ini Nan, kamu mau aku mensejajarkan kamu dengan karyawan lain. Baik, akan aku kabulkan mulai sekarang hingga kedepannya aku dan kamu kita adalah atasan dan karyawan. Kamu harus menuruti dan menghormatiku" batin Aim berkata-kata.


"Nan, handphone kamu dari tadi bunyi apa kamu tidak mau liat?" Tanya Aim penasaran, tapi Kinan tidak peduli ia malah nyelonong keluar untuk mencuci tangannya.


Saat Kinan diluar Aim menyempatkan diri untuk melihat, sungguh penasaran kira kira apa saja aktivitas perempuan ini, fikirnya.


Yang pertama Aim buka adalah aplikasi chat, tidak ada chat yang berjalan hanya ada notif grup masuk saling bergantian.


Aim terfokus pada pembahasan didalam grup itu 'Bos, dan penjilat' adalah kalimat yang sering mereka tulis, Aim mengernyit penuh tanya 'Bos' yang mereka maksud itu siapa?.


Setelah ditelusuri lebih jauh ternyata yang mereka maksudkan adalah dirinya dan Kinan, mereka semua mengira Kinan sengaja mendekati dan mencari perhatian Bosnya untuk mendapat popularitas.


"Oh pantas saja Kinan tiba tiba berubah ternyata ini penyebabnya" gumam Aim sambil terus menyecrol percakapan memojokkan didalam grup tersebut, semakin kesana Aim semakin mengerti. Sebelum ini Kinan juga sempat ikut dalam percakapan dan sempat juga menjelaskannya, tapi mereka yang ada didalam grup tidak memperdulikannya, mereka tetap mengadili Kinan salah.


Aim paham seratus persen alasan Kinan meminta memperlakukan dirinya seperti yang lain.