Oh My Boss.

Oh My Boss.
120



Kinan yang tau suara siapa yang meng aduh barusan hanya tersenyum kecil sambil mengusap tengkuknya, merasa lucu sendiri.


Mahluk Goib kamu Mas


Padahal sebelumnya Kinan sempat berfikir dan khawatir Lia akan mencurigainya.


Namun apa yang didengar Kinan dari mulut Lia barusan sungguh membuat Kinan ingin tertawa lepas.


"Apakah kamu tidak merasa didalam ruangan ini terdapat aroma mahluk halus?" Lia mengusap tengkuk lehernya, karena merasa ngeri., "Pantas saja sejak aku masuk tadi merasakan aura negatif di dalam sini".


Penjelasan ngawur dari mulut Lia membuat Kinan semakin ingin tertawa lepas dan menertawai Aim.


"Bagai mana menurur mu Nan?" Tanya Lia, Lia berharap Kinan memikirkan apa yang saat ini ada di fikirannya.


"Ah, ia aku juga merasakan hal yang sama" mengakhiri tawa geli di bibirnya karena Lia,. "Aku juga banyak merasakan hal hal mengerikan sejak bekerja di sini, aku rasa di dekat tempat aku bekerja banyak sekali hal hal beraroma mistis" imbuh Kinan penuh ekspresi, seolah mahluk halus itu ada.


Dibawah meja Aim membelalak tak terima bila didalam kantornya terdapat hal hal gaib, mencubit kaki Kinan sedikit keras, membuat Kinan kesakitan dan reflek menarik kakinya untuk terlepas dari jari Aim.


"Aw.." pekik Kinan, mengusap bekas jari Aim di tangannya.


Lia yang sedang berbicara ngawur menatap spontan.


"Ada apa?" Selidiknya,. "Kau di cubit mahluk halus Nan?" tanya Lia.


"Ah tidak ada, hanya.... Kecoak yang aku ceritakan tadi sepertinya merayap di kakiku" jelas Kinan sama ngawurnya.


"Ah?" Lia terkejut, dan meringis,. "Aku punya sesuatu yang bisa membantu mu" Lia bergegas mengambil barang yang ia sebutkan tadi kepada Kinan.


Saat Lia telah kembali. Kinan membulatkan matanya saat melihat apa yang di bawa Lia dari ruangannya (Penyemprot serangga) .


Kinan menatap obat anti serangga di tangannya cukup lama.


'Tidak mungkin akan benar benar menyemprotkan racun tersebut ke kolong mejanya'


"Ayo Nan, kenapa cuma di liatin?. Semprot sekarang!" Perintah Lia.


Kinan mengangguk, tapi juga meringis bingung.


Di bawah pun Aim kembali mencubit pelan, meminta agar Kinan tidak macam macam, Kinan pun mengerti akan isyarat tersebut.


"Kenapa terlihat ragu Nan?" Tanya Lia lagi, "Kalau begitu biar aku yang semprot" Lia merebut anti serangga tersebut dari tangan Kinan.


Kinan hendak merebut kembali namun Lia menolak dengan mengatakan "Aku ingin membantu mu. Aku juga benci mahluk itu." Bersikeras.


"Tidak Kak, biar aku saja." Bantah Kinan, namun Lia tetap ingin melakukannya.


Lia sungguh tidak bisa di cegah, Lia berjalan ke dekat meja Kinan dengan waspada. Menodongkan anti serangga yang di pegangnya.


Aim meringkuk ingin melarikan diri dari situasi ini,.


Apa yang akan Lia sebarkan kepada orang orang, Lia pasti akan membongkar rahasianya. Melihat gaya bicara Lia saat bercerita tadi, Aim yakin Lia bukan lah perempuan yang akan dengan mudah di tutup mulutnya.


Bahkan mulut Lia tidak akan terkendali meski di sumpal dengan uang sekali pun.


Aim dan Kinan sama sama mengatur nafas, sambil memikirkan cara yang bisa membuat Lia pergi.


Sama sama berdoa dalam hati, ketika langkah Lia terus berjalan pelan.


"Kak Lia?.Apa ada dokumen lain yang perlu aku bantu melihatnya lagi?" Tanya Kinan dengan nada tegang.


Keringat dingin bercucuran.


"Tunggu setelah ini, aku akan menunjukkan beberapa dokumen yang memang wajib kau cermati!" Lia tidak berkilah, bersikukuh untuk menyeprot kecoa yang Kinan sebutkan itu.


"Nan, minggirlah dulu!" Perintah Lia sambil menarik kursi Kinan untuk menjauhkannya dari meja tempat ia menghalangi Aim.


"Tapi Kak!" Cegah Kinan. Karena panik Kinan tidak sengaja berteriak sehingga Lie merasa heran dengan tingkah Kinan ini.


"Kamu kenapa sih?. Atau... Ada sesuatu yang kamu sembunyikan dibawah kolong meja kerjamu?" Selidik Lia, memantik penuh selidik.


"Tidak," suara buncah karena bingung.


"Aduuuuhhh,," tiba tiba Kinan mengaduh kayaknya orang kesakitan, berharap menarik simpati Lia.


Hal itu cukup berhasil.


"Ada apa Nan?" Tanya Lia, menoleh kearah Kinan yang sedang memegangi perutnya.


"Sebenarnya aku... Mau pipis. Tapi tidak berani pergi sendiri, bisakah Kak Lia membantu ku?" ajak Kinan dengan memasang wajahelas.


Untungnya Lia setuju untuk menemani Kinan ke kamar mandi, dan Kinan merasa lega akhirnya.


Namun tiba tiba.. saat Kinan dan Lia hendak pergi ke kamar mandi.


Tiba tiba Guna datang menghentikan langkah Kinan dan Lia, Guna datang untuk menanyakan Aim.


"Nan, Aim mana?" tanya Guna. sepertinya saat bertanya demikian Guna tidak menyadari keberadaan Lia.


Kinan meringis samabil berisyarat (Menunjuk Lia dengan ekor matanya)


"Mata kamu kenapa?" Guna malah bertanya.


"KelilipaN?" tanya Guna kemudian.


Loadingnya Guna, ia mah tidak mengerti dengan isyarat yang di lontarkan Kinan.