
Flash back ke beberapa jam yang lalu.
"Im. Jelaskan siapa perempuan yang sedang bersama mu. Ayah tidak pernah ingin mendengar perempuan itu menjadi siapapun untuk mu"
Arman dalam sebuah pesan singkat.
Aim termenggu kaku saat membaca pesan tersebut.
Dengan perasaan antara bakal menerima atau tidak Aim pun membalas, "Ini adalah istri Aim. Kinan, dia adalah istri Aim sekarang."
"Apa kamu sudah gila Im?(Geram dan tak terima) Kau menikah tanpa izin dari ku?. Kamu juga tau kalau menantu di keluarga ini hanya akan ada Shina. Siapapun yang kamu bawa setelah dia, ayah mau pun ibu tidak akan pernah mengakuinya. Tapi kini semua terserah padamu. Tapi, satu yang harus kamu ingat! Jangan melakukan hal bodoh dengan mengakui dia di mana pun, kau jaga perempuan itu baik baik, simpan rapi rapi seperti kau menyembunyikan simpanan mu" balas Arman.
"Ayah, Kinan sekarang adalah menantu Ayah, dia berhak ayah sayangi, dia juga berhak ayah akui sebagai menantu Ayah.
Tetapi kalau Ayah tidak mau mengakui Kinan, Aim pun tak akan menyerah. Izinkan Aim terus berusaha membuat Ayah bisa mengakuinya, dia perempuan baik, dia sederhana, dan yang paling penting Aim mencintai dia. Terlepas dari Shina, Aim kini menyerah tak ingin terus berlarut dalam rumah tangga yang tak sehat. Beri Aim kebebasan untuk menemukan kebahagiaan Aim sendiri, dan kini Aim telah bertemu kebahagiaan itu, maka Ayah jangan menghalanginya lagi" _Aim.
"Berusahalah membuat Ayah yakin, sampai kamu sadar, bahwa dia (Kinan) tidak akan menjadi siapa siapa di dalam keluarga ini" _Arman.
"Aim akan terus berusaha, sampai Ayah melihat siapa Kinan sebenarnya. Tapi ingat, jangan salahkan Aim jika suatu saat Ayah menyesal telah mengatakan ini kepada Aim." _Aim.
"Im. Perhatikan baik baik, perempuan itu sampai kapan pun tak akan Ayah akui sebagai menantu Ayah, meski kau bersujud di kaki ayah sekalipun Ayah tidak akan mengakuinya, camkan ini Im" _Arman.
"Baik, kalimat ini akan Aim perhatikan selamanya. Namun Ayah juga perlu tau, Aim tidak berharap orang lain mengakui pernikahan Aim, cukup tuhan yang mengakuinya. Aim rasa itu lebih dari cukup. Jika Ayah dan dunia tidak mau mengakuinya Aim pun tidak akan keberatan. Aim akan tetap menjaga pernikahan ini, menjaga Kinan dan keluarga Aim dengan baik." _Aim.
"Ceraikan dia sekarang juga!" Berisi kemarahan yang kuat.
"Ayah ingin Aim mempermainkan pernikahan?. Ayah, pernikahan tidak seperti benang, yang bisa ayah putuskan begitu saja. Pernikahan juga bukan benang yang bisa ayah gunakan untuk mengikat kain (Dua keluarga). Pernikahan Aim telah dilakukan di atas nama Tuhan, dan Aim menginginkan pernikahan ini untuk selamanya." _Aim.
"Ceraikan dia, pernikahan ini hanya sebuah aib, jadi tolong lepaskan dia sebelum akan lebih banyak orang tau dengan pernikahan yang hanya akan pempermalukan keluarga kita ini. Atau,..(Mengancam) ingat Im Ayah bisa melakukan apa saja untuk memisahkan kalian berdua, dan Ayah bisa pastikan bukan kau CEO penerus Ayah!" _Arman.
"Aib atau bukan, hanya bagai mana cara kita memandang pernikahan ini. Ayah juga tau bukan, bahwa baik buruknya yang kita terima sekarang tergantung apa yang ada didalam fikiran kita sebelumnya.. Aim tidak keberatan dengan penilaian orang lain selama itu tidak merugikan kami, sebagai seseorang yang memiliki pasangan harusnya ayah juga tau akan hal ini. Mengenai CEO, harusnya Ayah tau juga kalau Aim bukan manusia yang tergila gila dengan kedudukan" _Aim.
"Im,. Jangan pernah mencoba menggurui Ayah, cepat ceraikan dia dan pulang!" _Arman.
"Aim tidak akan pulang Yah," _Aim.
"Ayah, bagai mana bisa Seorang manusia bernama Ayah dapat memutuskan tali darah hanya dengan satu kalimat cukup sampai disini, sementara darah Ayah mengalir di tubuh Aim. Apapun yang akan ayah lakukan, Aim akan tetap menghormati Ayah, Ayah tetap orang tua yang Aim sayangi. Namun, Aim juga berhak mendapatkan kebahagiaan Aim sendiri, setuju atau tidak Aim akan meneruskan pernikahan ini. Jika dalam tiga hari Aim tidak pulang, bukan berarti Aim telah memutuskan hubungan, begitu pula sebaliknya, walau pun dalam dua tiga hari ini Aim memutuskan pulang, bukan berarti Aim setuju untuk mengakhiri pernikahan. Kinan sekarang adalah dunia kedua untuk Aim, mohon maaf jika Aim egois mengenai ini." _Aim.
"Im sebelum ini kau tak pernah membangkang, tapi sekarang? Apa karena perempuan itu? Apa dia mengelabui mu, Im?" _Arman.
"Tidak Ayah, Kinan tidak pernah merubah apapun. Aim tetaplah Aim yang dulu. Hanya saja, sekarang Aim ingin memperjuangkan kebahagiaan Aim, Aim manusia normal yang menginginkan kebahagiaan dan ketentraman dalam berpasangan, saat Shina tidak pernah bisa memberikan apa yang Aim inginkan, maka Aim pun berhak menemukan perempuan yang suka rela hatinya menemani, mencintai Aim dan melayani Aim dengan baik,"_Aim.
"Persetan dengan cinta mu Im. Sampai kapan pun Ayah tidak akan menerima perempuan itu, pulang dan jelaskan semuanya." _Arman.
Flashback off.
"Amira!!" Bentak Aim menggema. Amira terkejut sampai sampai terperanjat.
"Kenapa Im,? Kenapa kau membentak ku? Apa karena ucapan benar?. O ia, aku dengar keluarga mu tidak akan menerima perempuan lain selain Shina ya?" Tersenyum puas, "Kasian" mata penuh cela terarah kepada Kinan.
Sementara Kinan hanya bisa diam dan mencerna percakapan Aim dan Amira. Tampaknya yang Amira ucapkan memang benar, Kinan patut merasa khawatir akan hal ini. Namun ucapa Amira juga tidak bisa dijadikan patokan pasalnya hati manusia mudah goyah.
Meski orang tua Aim akan benar benar tidak menyukainya, Kinan akan terus berusaha meyakinkan kedua orang tua Aim, bahwa dirinya sangat mencintai Aim.
Apapun yang akan terjadi nantinya, Kinan hanya berharap dirinya dan Aim kuat meluluhkan hati kedua orang tua Aim.
"Kinan tidak memerlukan pengakuan dari siapapun, dia hanya harus mendapatkan suami yang benar benar rela mati untuknya, rela berkorban apapun demi dia. Hubungan ku, meski dunia membantahnya, aku tidak perduli. Kinan tidak akan kekurangan cinta dan kasih sayang, karena aku akan melimpahinya cinta dan kasih sayang sampai dia merasa dunia dan yang lainnya tidak berarti lagi"
"Ckkkk" Amira mendelik, "Ucapkan apapun yang ingin kau katakan Im, tapi jangan lupa, saat kalian keluar rumah nanti seluruh mata akan menguliti kalian hidup hidup karena mereka tak menyukai hubungan kalian berdua. Dan kau Kinan, kau tidak perlu merasa bangga atas dirimu karena kau tak ubahnya perempuan simpanan yang semakin banyak orang tau semakin terancam posisimu"
Aim bersiap membalas ucapan Amira, Aim sangat khawatir Kinan akan dibuat sedih oleh perkataan Amira, namun tanpa Aim duga Kinan terlebih dahulu angkat bicara.
"Kenapa aku tak boleh bangga? Aku patut bangga karena mendapatkan suami baik, tampan, perhatian dan menjadi pelindung yang baik. Lelaki yang banyak digilai perempuan, lelaki yang tidak memperdulikan apa pun selain Aku, bagai mana apa aku masih tidak berhak bangga?. Disaat perempuan lain rela mempertaruhkan harga diri mereka demi dia tapi dia malah mempertaruhkan hidupnya untukku, apa aku tidak berhak bangga?. Oo ia Mir, apa suamimu bisa seperti suamiku?. Aku rasa jauh sebelum dia memutuskan menikah dengan ku dia telah tau konsekuensi menikahi perempuan rendahan seperti aku, dia tau Dunia akan menentang pernikahannya, tapi dia sangat luar biasa, dia tidak pernah takut akan akibat apapun yang akan ia terima. Dan aku bangga dengan semua ini" Kinan.
Dan Aim tercengang akan ucapan Kinan ini, Aim tidak pernah berfikir Kinan akan seberani ini dalam membalas ucapan Amira.
Amira jadi gelagapan, kesal, juga geram karena hasutannya tidak berhasil mengusik Kinan.