Oh My Boss.

Oh My Boss.
144



"Kenapa aku baru tau kalau Ayah memiliki saham di perusahaan LK, kenapa ayah menyembunyikan ini?.Apa alasannya?" Keluh Kinan dengan pikiran bertanya tanya, Kinan terlihat gundah gulana tentang saham LK dan status dirinya, Kinan juga tengah mengingat ingat kapan namanya menjadi Kinan.


"Sssss.." Kinan mencoba menggulit ingatannya lima tahun 20 tahun yang lalu, "Kenapa namaku menjadi Kinan?"


"Sebenarnya malam itu ayah menyuruh Mas untuk mencari tau tentang Amira dan kamu, ayah menyuruh untuk mencocokkan poto masa kecil kalian berdua. Karena memang yang bisa ayah ingat hanya itu, setelah Om Hari meninggal ayah jadi jarang mengunjungi kalian. Kata ayah, paling sering mengunjungi kalian adalah setahun sekali bahkan sampai tiga sampai lima tahun sekali, semakin kesini ayah mulai lupa dengan rupa kalian. Hingga akhirnya kalian telah tumbuh dewasa, namun satu yang ayah ingat adalah nama anak Om Hari adalah Amira" jelas Aim tanpa beralih dari kemudi.


Kinan berdecak sambil memegang kepalanya yang terasa pening tak bisa berhenti terus memikirkan tentang dirinya dan nama yang tiba tiba di ganti saat itu, Kinan tidak tau dan parahnya Kinan tidak bisa membuktikan apa apa.


"Kita harus pergi ke kantor sipil, aku yakin akan ada sesuatu yang kita dapat di sana" Aim coba memberikan solusi.


"Semoga saja, kalau tidak aku pasti tidak akan bisa berhenti memikirkan ini. Aku tak terima di tuduh sebagai anak hasil hubungan gelap ayah" Kinan kembali teringat akan ucapan Mina saat menghinanya.


.


Di tempat yang berbeda.


Mina melempar tas penuh emosi ke atas tempat tidur berteriak marah seperti orang kesurupan.


"Kenapa dia harus datang dan mengacaukan semuanya?! Dua puluh tahun aku bersabar, semuanya sia sia" berteriak frustasi, "Baiklah Kinan, kau harus melihat siapa yang sedang kau hadapi ini?!"


..


Kembali kepada Kinan.


Aim yang resah melihat Kinan yang tak berhenti memikirkan tentang dirinya, Kinan lebih banyak diam dan merenung seperti kebingungan, akhirnya Aim memutuskan untuk membawa Kinan ke taman hiburan.


Aim tak bisa membiarkan Kinan stres memikirkan masalahnya.


"Mas, kenapa kita berhenti?" Tanya Kinan dengan suara malas, menoleh ke arah Aim yang matanya terarah ke taman hiburan yang ramai.


Kinan akhirnya mengikuti arah mata Aim tertuju.


Air muka yang mendung pun berubah riang, Kinan tertawa senang dengan antusias turun tanpa di pinta.


"Sayang pelan pelan," suruh Aim dengan wajah khawatir, tangannya di seret oleh Kinan yang terlanjur kesenengan itu.


Tiba tiba saat melihat gerbolan orang dan keramaian taman hiburan Kinan berhenti dan berbalik kepada Aim,


"Kamu pake ini aja ya Mas" mengasongkan selembar masker kepadanya.


"Kenapa harus pake ini?" Aim mengernyit sebelum menerima masker yang di berikan Kinan.


"Mas, please deh. Jangan mengundang perhatian banyak orang, kamu begini akan membuat taman menjadi heboh" desis Kinan merasa kesal sendiri pada ketenaran yang di miliki Aim.


"Apa aku seterkenal itu?" goda Aim, Aim paham dengan maksud Kinan.


Kini mengambilnya dengan suka rela.


"Ia, aku jadi tidak bebas pergi ke mana pun" mengerucut kesal.


"Baiklah, demi istri tercinta ku. Aku harus sadar diri, dan tak boleh jadi beban buatnya" gerutu Aim setengah manja, memakai masker seperti yang di minta Kinan.


"Bukan begitu mas" Kinan coba menjelaskan.


"Ia sayang ia, aku ngerti kok" potong Aim, "Baiklah apa kita sudah boleh pergi?" Merapihkan rambut dan masker hitam yang menutupi setengah wajahnya.


"Kenapa?" Aim tertawa kecil, "Apa begini aku masih terlihat tampan?" Tanya Aim manja, melingkarkan tangannya di pinggang Kinan yang saat ini sedang merapihkan poninya.


"Kamu tau nggak sih Mas, kalau aku ini suka tiba tiba cemburu sendiri saat melihat wajah tampan kamu"


Perkataan itu spontan mengundang tawa kecil di bibir Aim, "Lah kenapa sayang?" Tanya Aim tidak paham.


"Aku selalu merasakan saingan cinta mu di mana mana, aku sering khawatir suatu saat kamu akan menemukan perempuan lain yang lebih sempurna dari aku," menatap mata Aim sebentar, mengirim arus tak ingin kehilangan dari matanya.


"Sayang" menarik Kinan kedalam pelukan, "Kamu tidak usah khawatir ya. Aku yang akan menjaga hatiku, aku janji tidak akan ada Kinan kedua didalam hati ku, hanya kamu yang pertama dan kamu satu satunya" Aim berkata dengan penuh keyakinan.


Kinan menghela kecil, "Aku harap hati kamu tidak akan goyah Mas"


"Tidak akan sayang, tidak akan. Kamu adalah kebahagiaan, kamu adalah dunia ku, aku tidak mungkin akan melepaskan kamu dan menggantinya dengan yang lain. Kamu percaya aku 'kan?"


"Aku percaya kok"


Pelukan keduanya pun semakin erat.


"Tunggu," Kinan seketika menjauhkan tubuh Aim sambil tertawa canggung, ketika merasa telah menjadi perhatian banyak orang.


"Kenapa sayang?" tanya Aim merasa sedikit heran.


"Kita berpelukan di tempat ini, sangat memalukan" mendorong tubuh Aim pelan, dan mengusap kasar wajahnya, merasa malu sendiri.


"Kenapa harus malu? Apa aku terluhat tidak pantas bermesraan dengan perempuan cantik sepertimu?" timpal Aim sambil menoleh ke sekitar, memang tampak banyak orang memperhatikan mereka berdua, mereka berkasak-kusuk yang tidak bisa Aim pahami.


"Nggak, aku malu karena belum terbiasa saja" jawab Kinan. Aim mengangguk perlahan, "Kita pergi sekarang?" tanya Aim kemudian.


"Ya. Tapi Mas, baju kamu"


"Apa lagi sayang?"


"Stelan seperti ini" Kinan menunjuk stelan jas dan kemeja rapi yang di pakai Aim, "Terlalu aneh" protes Kinan.


"Sayang, emang ada yang salah dengan pakaian aku?"


"Kamu buka dasi kamu, dan jas kamu juga lepas, ganti dengan sweater ya mas. Kebetulan aku membawa sweater kamu pake ya Mas ya," Mohon Kinan dengan sangat.


Tidak paham dengan tujuan permintaan Kinan, namun pada akhirnya tanpa penolakan apapun Aim segera menuruti keinginan Kinan, dan Kini Aim telah keluar dari dalam mobil dengan mengenakkan Sweater milik Kinan yang terlihat sedikit kurang bahan di badannya.


"Apa kamu puas?" tanya Aim dengan raut kesal.


"Siip" Kinan mengacungkan satu jempolnya, "Sekarang tidak akan ada yang menduga kalau yang berjalan di antara mereka ( menunjuk gerombolan orang yang memenuhi area) adalah orang paling terkenal di negri ini"


Aim memanyun menunjukkan raut manja dan kesalnya, "Untung kamu cantik kalau tidak, mana mau aku nurutin permintaan kamu"


Ucapan Aim mendapat cubitan spontan dari tangan Kinan, hingga Aim merintih kecil.


Setelah merasa pakaian Aim patas untuk masuk kedalam area, Kinan segera mengajak Aim mencoba berbagai macan permainan yang tersedia di sana.


Permainan memancing kodok, melempar kaleng, melempar bola basket, menunjuk angka, melempar karet ke botol dan lain sebagainya.


Kinan dan Aim tampak sangat menikmati setiap permainan, bahkan mereka bisa tertawa dengan bebas seperti tanpa beban