Oh My Boss.

Oh My Boss.
94



Dirga membanting ke udara meluahkan kekesalnnya, "Baiklah, apa yang ibu mau sekarang?"


"Cari Amira sampai ketemu" titah Mina dengan nada memaksa.


"Ibu pergi, tapi maaf Aku tidak bisa mengikuti ibu lagi," melihat kepergelangan tangannya, beranjak keluar dari mobil "Aku akan pulang, dan silahkan ibu cari Amira sendiri" setelah keluar Dirga terdengar menghubungi seseorang, meminta agar menjemputnya dari tempat tersebut.


"Kau sudah gila Dir? Kau benar benar tak punya otak?" Pekik Mina dengan kepala yang muncul di jendela mobil, Mina tak terima ketika Dirga berniat meninggalkan dan membiarkannya mencari Amira sendirian.


Dirga hanya menoleh tipis menunjukkan wajah keberatan dan telah lelah untuk mengikuti kemauan Mina.


"Yang aku cari ini istrimu Dir, apa kau benar benar tidak memperdulikannya? Kalau terjadi sesuatu sama dia gimana?" Mina kembali memekik, "Amira marah dan pergi, semua itu karena kau! Kau selalu bersikap seperti ini, kau memang tak pernah memperdulikan Amira!"


"Bu, berhenti menyalahkan orang lain. Amira pergi itu bukan kerena aku. Dia pergi untuk mengikuti egonya sendiri. Aku lelah, sekarang terserah ibu, mau cari Amira sendiri atau pulang bersamaku" -Dirga.


"Bagai mana aku bisa pulang saat Amira tidak jelas keberadaannya, bagai mana jika dia terlunta-lunta dia kedinginan atau ada orang yang mengganggunya," -Mina


" Tapi Amira bukan anak kecil lagi, dia perempuan dewasa, Dirga yakin Amira bisa menjaga dirinya sendiri" -Dirga.


Ditengah itu sebuah mobil mendekat kearah Dirga, menurunkan kaca lalu menyapanya, dia adalah teman yang di panggil oleh Dirga sebelumnya.


Saat hampir masuk kedalam mobil Hanna menelpon, meminta Dirga pulang untuk menemaninya.


Tentu Dirga meng-iakan. Hal tersebut sontak membuat Mina semakin naik darah.


"Kau!" Menarik baju Dirga, "Kau pulang ...


"Apakah bagimu perempuan itu begitu penting? Kau bahkan memutuskan pulang hanya karena perempuan itu memintanya, dan kau mengabaikan Amira yang jelas jelas menghilang karena kamu, karena kau Dirga!. Apa kau benar benar tak peduli lagi? Kalau begitu biar aku sendiri yang mencari Amira dan saat dia kembali aku bersumpah tidak akan mengantarkan dia ke rumah mu lagi"


"Terserah, lagi pula sejak awal aku tidak pernah meminta Amira diantarkan ke rumah ku. Semua itu atas kemauan ibu bukan?" Dirga.


"Ya, Aku memang yang mengantarkan Amira, tapi bukan berarti kau bisa memperlakukan dia semau mu, dia juga istri mu Dir, kau harus memperlakukan dia sebagai mana kau memperlakukan istrimu yang lainnya".


"Aku memperlakukan Amira sebagai mana aku memperlakukan Hanna, tapi Amira tak pernah bersyukur dia terus bertingkah menuntut ini dan itu, dia tak pernah mengerti bahwa, tidak semua orang bisa menjadi seperti apa yang dia mau, Amira juga harus belajar menghormati orang lain."


"Tapi kau suaminya, harusnya kau lebih mengerti dia"


"Ya, aku memang suaminya, tapi aku bukan budak yang patuh ditunjuk ini dan itu, sebagai suami aku juga mau dia menghormati ku sepantasnya. Aku pamit Bu" Dirga kemudian masuk kedalam mobil meninggalkan Mina yang emosinya masih berapi api.


"Dirga, Dirga, tunggu" Mina memukul mukul kaca mobil.


Dirga kemudian menurunkan kacanya.


"Kalau Ibu mau mencari Amira, carilah dan temukan dia. Kalau dia pulang aku akan menerima dia, dan jika tidak pun aku tak akan mencarinya." Perkataan itu terlontar dengan dingin, sesaat setelahnya Dirga mengisyaratkan kepada temannya untuk segera mengemudikan mobil.


Mobil pun melaju meninggalkan Mina yang berteriak memanggil Dirga dan melontarkan sumpah serapah.


....


Dimalam yang sendu dua manusia yang dikatakan sejoli ini sedang berbaring berhimpitan di atas kursi yang menghadap ke layar tv besar di ruang kamar tersebut.


Aim yang berbaring dibelakang tubuh Kinan memberikan dekapan hangat dan sesekali menimbulkan kecupan kecupan lembut di kepala Kinan, laki laki ini benar benar tergila gila oleh istri cantiknya.


Sementara Kinan asik menonton film dan membiarkan Aim melakukan apapun kepadanya, semakin dibiarkan Aim malah semakin menggila tapi Kinan senang menerimanya.


"Mas bisa hentikan?" Menoleh sesaat pada suaminya. Begitu Kinan menoleh saat itu juga Aim langsung melahap bibir istrinya, "Semakin berani saja kamu Mas" rengek Kinan setelah mendorong pelan tubuh Aim.


"Makanya, berhentilah menggodaku"


"Siapa yang menggoda mu Mas, apa dimata mu aku ini perempuan yang pecicilan, apa dimata mu aku seorang penggoda? Dari tadi aku berbaring dengan tenang, bukankah kamu yang terus menggoda ya?"


Tak perduli dengan omelan istrinya, Aim malah semakin menjadi, membelai lembut seluruh lekuk tubuh Kinan dan menyesap aroma tubuhnya.


"Kamu berbaring dengan tenang, biar aku yang bekerja" Bisik Aim di tengkuk Kinan. Bisikan itu berhasil membuat Kinan meremang.


"Berhenti menggodaku Mas. Atau kau ingin melihat aku jatuh dari kursi ini?"


"Kalau begitu kita pindah ya, aku ingin bebas menyentuh kamu" lagi lagi Aim mengatakan itu dengan bisikan lembut.


"Baiklah, itu berarti kamu mengijinkan aku melakukannya disini?" Tanya Aim dengan senyum gemasnya.


"Berhentilah mengatakan itu, kalau tidak pasti akan terjadi sesuatu padamu" ancam Kinan.


"Terjadi sesuatu?" Aim tersenyum miring, "Lakukanlah sekarang, aku akan menikmatinya, aku akan sangat menikmatinya" Atusias Aim.


"Ih apaan sih?"


"Apaan, apaan. Dihadapanku kamu nggak usah malau malu, aku senang saat kamu agresif, dan aku senang saat kamu semakin berani, aku suami mu, lakukan apa yang ingin kamu lakukan jika kamu tidak puas aku bisa belajar kok"


Rupanya Aim diam diam sedang mengungkit kejadian yang terjdi 30 menit yang lalu antara dirinya dan Kinan, hal itu membuat Kinan malu sendiri.


Kinan kembali menoleh, menepuk pelan bibir Aim dengan tawa kecilnya, "Lancang sekali bibir mu ini Mas."


"Kenapa?" Aim menyentuh pipi Kinan yang berona merah muda, "Apa kamu malu?"


Kinan menangkup pipinya untuk menutupi rona wajah yang timbul karena rasa malu ini.


"Apa cuma aku yang tau hal ini?" Goda Aim. Kinan semakin menenggelamkan wajah ditangannya.


Kinan merasa sangat malu saat Aim mengungkit keagresifan yang timbul dengan sendirinya ketika melakukan hubungan itu.


Kejadian panas itu terjadi begitu saja mengalir walau tanpa arahan, beberapa bagian yang Aim sentuh mendorong Kinan untuk melakukan lebih, Kinan menginginkan dirinya untuk mendapatkan kenikmatan yang besar. Ketika Aim memberi celah disitulah Kinan mulai mendominasi semakin Aim memberi jalan semakin Kinan kelimpungan dan tak bisa membiarkan adegan itu terjadi biasa saja.


"Aku minta maaf mas" akhirnya kalimat itulah yang timbul, Kinan sungguh malu ketika tidak bisa mengendalikan dirinya.


"Aku akan memaafkan kamu disaat kamu mengulanginya, aku ingin adegan ini kamu lakukan setiap kali kita berhubungan apa kamu siap?" -Aim.


Kinan semakin merasa canggung dengan permintaan tersebut


"Berhentilah mengatakan itu atau tidak kulit wajahku akan meleleh karena kamu Mas"


Aim mengecup sekilas, "Baiklah, aku berhenti, tapi kamu tidak boleh berhenti, apapun yang ingin kamu lakukan kamu harus melakukannya, tak perlu berfikir banyak karena aku menyukainya"


"Mas," Desis Kinan malu dan manja.


Sementara Aim hanya tertawa gemas dan kini berhenti merangsaki tubuh Kinan, kali ini hanya mendekap tubuhnya dengan erat.


"Oo ia sayang, mulai sekarang aku yang akan menyiapkan baju untuk kamu ya."


"Baju?. Baju apa? Apa pakaianku selama ini kurang menarik?"


"Bukan, bukan begitu. Lagi pula bukan baju itu"


"Lalu?"


"A aku memesan baju spesial untuk kamu, dan salah satunya akan diantar malam ini?"


Kinan menoleh dengan wajah penasaran.


"Baju apaan sih Mas?. Jangan aneh aneh ya, atau aku tidak akan memakainya"


"Tidak sayang, bajunya tidak aneh. Tapi kamu harus berjanji untuk memakainya ya"


Menganut dari ucapan Aim, Kinan merasa baju yang dipesan Aim ini baju yang cukup janggal, bukan seperti baju pada umumnya.


"Mas, kamu jangan aneh aneh ya"


"Tidak sayang, tidak. Percaya oke"


Kinan menatap Aim sambil mengernyit penuh selidik.


"Kenapa, kamu tidak percaya?" Ucap Aim sambil tertawa kecil.