Oh My Boss.

Oh My Boss.
58



"Kalau gitu aku tarik kembali ucapan ku Mor" -Aim


"Kamu bilang merek putus, putus kenapa?. Bukankah hampir menikah?" Aim semakin penasaran akan cerita tentang Kinan.


Aim menunjukan wajah pura pura tidak tau terhadap gagalnya pernikahan Kinan, demi informasi Amor.


"Sahabat yang amat dipercayainya ternyata sudah bermain gila dibelakang dia hingga mengandung anak mantan calon suami Kinan, Dirga"


"Aku kira penghianat itu cuma ada di wajah Shina ternyata terdapat di wajah lain yang lebih mengerikan" ucap Aim hampir tidak terdengar oleh Amor.


Amor menoleh, "Wajah Shi.. Shi.. siapa?" sorot matanya meminta Aim untuk mengulangi kata katanya.


"Ooh itu, bukan siapa siapa. Lanjutkan...!" Imbuh Aim mengalihkan pembicaraan.


Amor mengangguk sejenak menunduk diam.


"Sekarang Kinan pasti shock saat mengetahui dirinya hamil," diakhir Amor terdengar mengeluh prihatin "Terlebih kehamilan ini terjadi saat dia sudah membiarkan Dirga menikahi perempuan lain"


"Apa anak itu punya Dirga? Apa Kinan memberi tahu siapa ayah dari anak yang dikandungnya?" Tanya Aim.


Aim berupaya menggali informasi mengenai siapa ayah dari anak yang Kinan kandung.


Aim ingin langsung mengakui anak itu miliknya, tapi Aim ingin waspada barangkali Kinan memiliki hubungan lain yang tidak diketahui olehnya.


Tapi Amor menggeleng, artinya dia tidak tahu mengenai siapa ayah dari anak yang Kinan kandung itu. selain telah putus dari Dirga, akhir akhir ini Amor tidak melihat Kinan berhubungan dengan siapapun.


"Dirga atau bukannya ayah dari anak yang Kinan kandung, sekarang pun sudah terlambat mengakui bukan?"


Mendengar perkataan itu keyakinan dihati Aim kembali hilang.


"Melihat dari keadaan ini apa yang akan kita lakukan untuk Kinan Mor?" Aim menoleh.


"Aku tidak tau. Kinan sekarang menghindari kita, situasinya semakin sulit. Sekarang aku hanya berharap Kinan akan baik baik saja"


Aim mengangguk.


"Apa kamu sedang mengkhawatirkannya Mor?" Tanya Aim.


Pertanyaaan yang dibuat mewakili dirinya.


"Ya. Aku sangat khawatir, tapi mendekatinya sekarang takut malah semakin menjauhkannya" Amor mengecek handphonenya melihat barangkali Kinan sudah membalas pesannya.


"Kamu benar Mor, sekarang kita tidak bisa berbuat apa apa. Oo ia berapa lama kamu kenal dia?" -Aim kembali menyesap botol ditangannya.


"Setahun ini" -Amor.


"Apa selama ini sikap dia..." Aim tak jadi bertanya. "Menurutmu, apa Kinan akan melakukan hal diluar dugaan?, apa selama setahun ini dia pernah menunjukkan sikap atau perilaku membahayakan?"


Aim hanya ingin memastikan Kinan tidak akan berbuat nekat.


Amor kembali menggeleng.


"Aku hanya berharap Kinan bisa mengontrol emosinya"


Tapi meski begitu Amor belum bisa bernafas lega, pasalnya Kinan terlihat sangat terpukul.


"Bagai mana apa pesannya sudah dibalas?"


Amor menggeleng..


Karena tidak bisa berhenti khawatir, Amor lantas melakukan panggilan terhadap no milik Kinan. Panggilan tersambung Amor berdoa Kinan akan mengangkatnya. Tapi... Seiring panggilan yang terhubung tas kecil milik Amor ikut berdering, Amor tergesa membukanya. Amor akhirnya ingat, tadi ia menaruh handphone Kinan di dalam tasnya.


"Sekarang kita benar tidak bisa berbuat apa apa" ucap Amor sambil menunjukan handphone Kinan kehadapan Aim.


Aim menengkup wajah. Mengusapnya sedikit kasar.


"Lalu sekarang kita harus bagai mana?" Tanya Aim.


Aim berdiri berjalan kesana kemari dengan resah.


Yang Aim perlukan hanya kabar Kinan.


"Apa mungkin Kinan pulang?" Amor mendongak.


Aim terlihat berfikir, "Kita cek saja"


"Tapi bagai mana kalau Kinan menolak kedatangan kita"


"Kita hanya perlu memastikan, jangan mengganggunya" usul Aim


Amor setuju.


Aim dan Amor pun bergegas kedalam mobil, lalu tanpa pikir panjang lagi melaju menuju kediaman Kinan.


Ditaman yang sama..


Kinan duduk dibawah kucuran air mancur yang tidak terlalu deras.


Sejak tadi Kinan tak henti hentinya menangis.


Kalau saja Aim dan Amor sedikit saja mau berbalik atau berkeliling sebentar mereka berdua pasti bisa menemukan Kinan dengan cepat.


Bukan menangisi janin yang sedang tumbuh dirahimnya.


Tapi tangis bingung harus bagai mana menghadapi dunia dengan kehamilannya ini. Sementara semua orang tau dirinya belum menikah dan bersuami.


Karena pada kesalahan setara Dunia cenderung melindas bukan menopang.


Yang lebih mengerikan Kinan tidak tau siapa ayah dari anak yang ia kandung saat ini.


Saat ini Kinan bahkan sudah membayangkan saat nanti anaknya lahir tanpa seorang ayah.


...


Amor dan Aim telah memasuki pekarangan kos kosan.. setelah mematikan mobil, Aim dan Amor bergegas mendatangi kamar Kinan.


Dengan tidak menimbulkan suara sekecil apapun Aim dan Amor mengintip dari celah gorden yang sedikit terbuka.


Diakhir mereka berdua terlibat saling menatap karena ternyata Kinan tidak ada didalam kos kosan itu.


"Kira kira Kinan kemana?" Tanya Aim.


Aim dan Amor memindai kesekeliling.


"Bu" Amor mendatangi seorang ibu yang sedang mengangkat jemuran, tetangga Kinan.


"Ya, ada yang bisa di bantu?" Tanya Ibu itu.


Sang ibu melihat kekhawatiran yang terpancar dari wajah Amor.


"Apa ibu melihat perempuan yang tinggal dikamar itu?" Amor menunjuk kamar Kinan.


"Oo tadi pagi dia pergi bekerja, dan sampe sekarang belum kelihatan balik" jelasnya.


"Ibu yakin?"


"Iya neng, dari tadi ibu duduk di teras dan belum melihat neng Kinan datang"


"Oo gitu ya, ya udah kalau gitu terima kasih, maaf mengganggu waktunya"


"Tidak apa apa Neng."


Amor lalu kembali ke dekat Aim


"Bagai mana?" Tanya Aim.


Amor menggeleng..


"Apa masih ada tempat yang biasa Kinan datangi?" tanya Aim.


Amor sejenak berfikir.


"Mungkin satu tempat.."


"Tuntun aku kesana" pinta Aim, Amor mengangguk setuju.


Aim dan Amor kembali masuk kedalam mobil..


Dengan arahan dari Amor Aim melaju untuk mencari Kinan. Diperjalanan sesekali meneliti barangkali Kinan ada ditempat yang mereka lewati.


Malam kemudian.


Kinan berjalan lesu dengan baju yang basah kuyup. Air mata dipipinya masih mengalir, Kinan menyesal dirinya hamil saat dia dan Dirga telah putus, meski seribu persen kinan yakin janin itu bukanlah anak Dirga.


"Disini?"


Aim memberhentikan mobilnya dibawah JPO sesuai arahan Amor.


"Kita naik"


Aim mengikuti titah Amor, menapaki anak tangga dengan lincah.


Amor mengedar ke sekeliling, suasana sudah hampir gelap. Satu persatu perempuan yang berdiri di area JPO Amor datangi dengan harapan salah satu diantara mereka adalah Kinan.


Tak jauh berbeda dari yang Amor lakukan Aim pun meneliti pengguna JPO dengan penuh harap, Aim terus berlari mencari Kinan mengecek satu persatu perempuan yang berjalan diatas JPO berulang kali Aim berharap salah satu dari mereka itu Kinan, tapi kenyataannya tetap bukan.


Aim terus berlari, berlari mencari belahan jiwa yang tidak bisa ia akui dengan tegas.


Amor dan Aim bertemu di titik tengah JPO, tidak ada yang bisa menemukan Kinan disini.


"Kinaaaaaaannn" Aim meneriakkan suaranya.


Berulang kali berteriak, Aim tetap tidak mendapatkan sahutan. Kinan mungkin tidak disini.


Lelah berlarian Aim merengkuhkan kakinya bersandar diJpo mengatur nafasnya yang memburu.


"Kita cari kemana lagi?" Aim menoleh kearah Amor yang kala itu juga sedang duduk istirahat.


"Setau ku ini tempat terakhir yang sering Kinan datangi saat merasa tertekan" Amor kemudian berdiri. Memandang lurus ke hilir mudiknya kendaraan kota yang saling tergesa memburu waktu.


"Kemana kamu Kinan" gumam Aim. Menyandarkan kepalanya di tiang JPO dengan putus asa.