Oh My Boss.

Oh My Boss.
112



Jam istirahat


Kinan dan Amor memutuskan untuk mencari makan berdua, di luar.


Lagi lagi Dress Magoy Amba ini memikat perhatian banyak orang, orang orang yang melihat langsung berkasak-kusuk tentangnya.


Kinan merasa risih saat menoleh kesekeliling yang tampak sedang membicarakannya.


"Mor, menurutmu apa orang orang juga tau tentang Magoy Amba ini?, Aku perhatikan mereka sedang memerhatikan pakaian ku"


"Ya, tentu saja, siapa yang tidak tau Magoy Amba ini, sejak rancangan baju ini di luncurkan dua tahun lalu, mereka mulai merasa penasaran tentang bagai mana dan siapa yang akan memakai baju yang diberi nama 'Magoy Amba' ini. Bagi orang orang yang mengetahui Magoy Amba, dress ini persis dengan sepatu kaca Cinderella"


"Tunggu, maksud kamu baju ini sengaja di rancang untuk menemukan kekasihnya?"


"Ia, baju ini dirancang untuk menemukan cinta sang perancang yang katanya sempat hilang" tambah Amor lagi.


"Ah?" Kinan mengernyit tak paham sedikit pun.


Sekilas Kisah tentang Magoy Amba.


San Fransisco pertengahan 2020.


"Im" sapa seorang ibu yang kala itu sedang menjenguk anaknya yang berkuliah di Universitas terkenal di San Fransisco.


"Apa yang kau buat Nak?" Tanyanya, ketika melihat Aim tampak fokus dengan buku dan pensil gambar yang ada di tangannya.


"Ah, Mama" menutup buku saat Sang Mama mencoba mendekati untuk melihat apa yang dirancang putranya.


" Hanya sebuah dress," Aim tampak enggan menunjukkannya kepada sang Mama.


"Dress?" Tapi Sang Mama tetap penasaran dan ingin melihatnya, sehingga Aim pun tak bisa menolak keinginan Mama Rania ini.


Rania meniliknya cukup lama, "Magoy Amba" sebut Rania, "Dress ini kamu beri nama Magoy Amba, apa maksudnya?" Tanyanya penasaran, apa ada sesuatu yang spesial dibalik dress ini? Coba katakan! Mama ingin dengar" Rania terkekeh penasaran, "Apakah Magoy Amba ini merupakan nama seorang perempuan?" Selidiknya.


"Magoy Amba adalah sebuah lukisan perempuan yang sekali saja aku temui, dia perempuan kuat, dia terlihat lemah tetapi kekuatan besar tersembunyi dibalik wajah manisnya. Kulihat dia menangis kemudian tersenyum kecil diakhir pertemuan. Senyum itulah yang membuat Aim sampai saat ini tidak bisa melupakannya, dalam pertemuan singkat itu kami berdua berjanji untuk saling bertemu lagi. Aim akan mencarinya dan memberikan baju ini sebagai hadiah pertemuan kami, Aim ingin menamai dress ini dengan nama dia, Namun sayangnya waktu itu Aim lupa menanyai siapa nama gadis itu. Dan aku berikan saja nama 'Magoy Amba' Nama yang tidak akan perempuan mana pun miliki, sehingga orang lain tidak akan keliru mengenali dress yang ku buat khusus untuknya."


Mendengar penjelasan itu Mama Rania langsung diam, tampaknya Rania tidak menyetujui keinginan Aim tersebut.


"Kamu harus melupakan dia Nak, dan mengganti nama rancangan dress yang kamu buat ini,"


Aim pun terkejut mendengar perkataan Rania ini, Rania terdengar melarang dirinya untuk menemui gadis impiannya.


"Kenapa Mah?" Aim mendongak dengan wajah tidak pasti, rasa kecewa tercipta di wajahnya.


"Satu bulan lagi kami akan menikahkan kamu dengan anak sahabat kami, dia adalah Shina"


Disini terjadilah percekcokan antara Aim dengan Rania.


"Apa?" Aim terkejut sehingga tidak sengaja meneriaki Rania.


"Dan kami pastikan kamu tidak akan bisa menolak pernikahan ini" kata Rania pasti dan tak ingin di bantah.


"Mah, ini tidak adil, Aim tidak ingin menikahinya," tolak Aim dengan putus asa.


"Kami memang dekat sejak kecil, tapi bukan berarti kami bisa menikah, aku tidak mencintai dia Mah, Mana mungkin aku menikahi perempuan yang tidak aku cintai. Aku mau menemui gadis yang aku temui waktu itu, dan aku tidak bisa menikahi Shina" Bantah Aim bersikeras.


"Bukankah Mama sudah bilang bahwa kamu tidak bisa menolak?. Lagi pula kami sudah sepakat dan undangan pun sudah kami sebar" Rania bersikukuh.


"Tapi kenapa Mama tidak berbicara dengan Aim terlebih dahulu? Aim tidak mau menikahi Shina, Aim menginginkan perempuan lain!"


"Tidak Im, Magoy Amba ini" Rania mengambil kertas rancangan baju yang dibuat Aim untuk ia persembahkan kepada kekasihnya, merobek kertas tersebut menjadi dua.


Melihat perlakuan Rania Aim diam bungkam penuh kecewa, wajah pun berubah jadi dingin.


"Kamu tidak boleh meneruskan dress ini, ganti dengan gaun pengantin!" Pekik Rania.


Aim tak lagi berbicara, berdiri kaku menatap Rania dengan tatapan kosong, sebuah kalimat penuh kekecewaan keluar mewakili hati Aim, "Mama keluar, Aim ingin sendiri" sambil menatap nanar kertas yang terlanjur koyak.


Disini Rania pun merasa bersalah. Rania hendak meminta maaf tetapi Aim tak menghiraukan, Aim pergi ke ruang baca dan mengunci dirinya dari dalam.


Tak memperdulikan Rania yang berteriak teriak minta maaf.


Didalam ruangan Aim duduk terdiam, meremas kepalanya penuh sesal, kecewa marah dan segala hal yang tak bisa ia ungkapkan.


Setelah hari itu berlalu, Aim kira semuanya sudah usai dan Rania mau mendengarkannya.


Nyatanya saat Aim pergi berkuliah, Guna yang saat itu satu universitas dengan Aim memberitahukan bahwa orang tuanya telah menarik Aim keluar dari universitas.


"Im, Loe jadi bener mau pulang sekarang?" Tanya Guna dengan wajah memelas.


Aim yang sedang berjalan menuju kelas berhenti sejenak, menoleh Guna dengan keterkejutan, "Maksud loe?"


"Loe mau nikah 'kan?. Gue mau ngucapin selamat ya buat loe"


"Gun" Aim mendorong Guna karena kesal dengan ucapannya, Aim kesal ketika orang lain mengungkit tentang pernikahannya, "Loe ngomong apa? Siapa yang mau menikah?"


"Tante Rani di ruang rektor Im," kata Guna, Aim menggeleng tidak percaya Mama Rania benar benar melakukan ini padanya.


Aim spontan berlari menuju ruang rektor, dan benar saja Rania sedang berada di sana. Aim berusaha menghentikan namun semua terlambat.


Didalam apartemen Aim duduk pilu sambil memegang kertas Magoy Amba yang telah dirobek Rania.


"Haruskah aku menyerah untuk mendapatkan kamu?" lirih Aim.


Dua minggu kemudian, Aim telah kembali ke Indonesia, waktu itu Aim sempat menemui Shina.


"Aku fikir kamu akan menolak pernikahan ini Shin, bukankah kita sudah berjanji untuk sama sama menolak?" ucap Aim dengan nada dingin, "Tapi apa yang terjadi sekarang?"


"Im, aku ingin menolak tapi orang tua mu dan orang tua ku mendesak ku, kamu fikir bagai mana cara aku mengelak?" Jelas Shina mengelak.


"Kenapa kamu tidak katakan kalau kita tidak saling mencintai, kita tidak mungkin menikah tanpa perasaan Shin!?" teriak Aim, "Kamu tau 'kan kalau aku tidak mencintai kamu!?. Aku ingin menikahi perempuan lain".


"Kamu fikir aku cinta sama kamu!? kamu fikir aku punya perasaan!? mereka yang bersikeras, dan aku tidak bisa menolak!" Shina tak kalah berteriak, "Tidak bisakah kamu memikirkan perasaan ku, Im" tanya Shina dengan mata berkaca kaca.