
Dirga bahkan sempat menepis belaian Hanna di rambutnya saat melihat Kinan tampak tidak peduli dan bahkan malah lebih asyik dengan handphonenya.
"Oo ia. Tampaknya sudah sangat malam, apa kalian tidak ingin melanjutkan kemesraan kalian di rumah saja?. Bermesraan di sini terlalu ramai, orang orang bisa berfikir kalian hanya dibuat buat saja." Mencebik di akhir, mencoba mengingatkan yang mereka lakukan menjijikan.
Hanna dengan sombongnya, maju beberapa langkah ke hadapan Kinan, memamerkan perut buncitnya yang tinggal beberapa minggu lagi akan keluar,.
"Aku sangat mencintai Dirga Nan. Maaf jika hal ini sempat membuat mu tidak nyaman, tetapi sebagai perempuan kamu juga harus belajar merelakan, aku tau kok dalam hati kecil kamu itu iri kan sama aku?. Aku tau kamu masih menginginkan Dirga 'kan? Tidak perlu mengusir untuk menyembunyikan kecemburuan kamu!. Maaf aku dan Dia terbiasa bermesraan di mana saja."
Sangat congak dan menjijikan untuk Kinan, padahal setelah hari itu Kinan selalu berharap kepada tuhan untuk tidak dipertemukan lagi dengan dua orang ini dalam situasi apapun, namun sekarang mereka malah datang untuk memanas-manasi.
Semua berawal dari kecemburuan Dirga saat melihat Kinan berjalan dengan ceria dengan seorang lelaki.
"Han, maaf! Aku rasa otak kamu terlalu sempit, atau memang otak kamu ini sangat kecil, saking kecilnya rasa cemburu mu pun tidak mampu di tampungnya"
"Jaga mulut mu perempuan bodohh!" Hanna mendorong dengan angkuh.
Kinan dengan cepat menimpali "Lebih baik jadi perempuan bodoh dari pada menjadi perempuan munafik yang melupakan orang lain demi hasrat gila yang dimilikinya"
"Kau semakin lancang!" Hanna semakin di pojok kan oleh ucapan Kinan yang memang begitu kenyataanya, tak terima.
"Ooh ia, ada yang perlu kau ketahui Han. Kamu (menunjuk Hanna) tidak perlu cemburu berlebihan kepadaku.
Atau, aku tau, jangan jangan kamu tidak percaya kepada suami rebutan kamu? pasti bukan 'kan?.
Tapi biar begitu satu hal yang harus kamu tau tentang aku. Aku (menunjuk diri) tidak pernah mau menukar apapun demi lelaki yang curang di belakang aku. Sesuatu yang sudah aku lepas, tidak akan ku pungut kembali, lagi pula kamu tidak perlu kesal kepadaku karena bukan aku yang datang padanya, tapi dia (Menunjuk Dirga) yang datang kepadaku, sebaiknya jaga suami rebutan kamu, dan pakek juga otak mu juga."
Kinan mendelik jijik, "Aku tidak tertarik oleh apapun yang kalian lakukan, jadi berhenti membual dihadapan ku" terus menekan kan ucapan ucapannya di hadapan Hanna.
"Sayang," Hanna kembali kepada Dirga dan bergelayut manja di tangannya,, "Lihatlah Dia, dia begitu lancang kepadaku, apa kamu akan terus membiarkannya"
Namun kali ini Dirga tak memberikan pembelaan, Dirga bungkam merasakan hatinya yang dibuat perih oleh sikap Kinan yang ternyata telah berubah 360°.
Bahkan yang saat ini Dirga lihat bukanlah Kinan dulu yang sempat dimilikinya, kali ini dia terlihat lebih ceria berseri, pakaiannya pun tampak sangat bagus dan bermerek, padahal awalnya Dirga hendak membujuk Kinan untuk kembali kepadanya.
"Kenapa kamu diam aja sih Dir" kesal Hanna saat Dirga tak mengindahkan rengekannya.
Marah dengan sikap Dirga, akhirnya Hanna kembali mendatangi Kinan untuk memberinya pelajaran, Hanna kalap karena telah di buta kan oleh rasa cemburu, meskipun sekarang Dirga adalah miliknya namun bagi Hanna Kinan tetap menjadi saingan.
"Kau pergi dari sini! Dasar penipu!" Mendorong Kinan dengan benci.
Kinan sempat tertatih kebelakang, dan hampir di buat roboh oleh dorongan Hanna yang tiba tiba.
"Sayang" dengan sigap Aim menangkap Kinan dan menahannya di dalam pelukan, "Kamu tidak apa apa?" Tanya Aim, sesaat memastikan keadaan Kinan,
Kinan menggeleng, "Tidak ada Mas. Terima kasih,"
"Apa yang kau lakukan?" Teriak Aim kemudian, "Kau!" Aim tiba tiba menunjuk saat teringat siapa yang saat ini berdiri dan baru saja merundung Kinan, Aim ingat betul rupa ini, dia adalah perempuan yang waktu itu dilihatnya di panggung pernikahan, yang seharusnya milik Kinan.
Hanna merenung saat Aim menunjuknya, "Kau mengenalku?" Tanya Hanna penuh percaya diri.
"Ya, kau adalah penghianat yang sampai mati pun aku tidak akan melupakannya" jawab Aim dengan lugas.
"Maksudmu?" Hanna mengernyit seolah tidak mengerti.
Lalu Aim menunjuk perut Hanna, menatap Dirga dan Hanna secara bergantian "Ini adalah hasil pengkhiaanatan mu 'kan?"
Hanna melotot tak terima dikatain demikian,
"Mulut mu kotor sekali, perlu aku cuci untuk sedikit membersihkannya?" Seloroh Dirga tak terima.
"Mas udah ya, kita pulang sekarang" ajak Kinan, Kinan sangat geram namun tidak baik meluahkan kemarahan, apalagi di tempat umum seperti ini, pasti akan memancing kehebohan.
"Tunggu sayang, aku ingin dia meminta maaf dulu sama kamu, sikapnya tadi aku tidak akan memaafkan Dia!" -Aim.
"Mas udah nggak apa apa, mending kita pulang ya, tidak baik terus di sini," Kinan coba membujuk dengan baik.
"Kinan, jadi dia suami kamu?" Menatap rendah ke arah Aim saat berbicara dengan Kinan.
"Ya aku suaminya, memangnya kenapa?. Tidak ada niat merebut lagi 'kan?," Aim tertawa kecil, "Untungnya aku bukan pengkhianat, jadi maaf kalau kau merasa kesulitan" -Aim.
Hanna mencebik, "Kau terlalu percaya Diri, lagi pula siapa yang mau dengan lelaki sepertimu, miskin jelek apa yang bisa kau banggakan, tapi memang cocok dengan perempuan seperti dia!" Hanna menunjuk dengan besar kepala.
Aim tertawa kecil lalu menggeleng, "Memangnya ada yang suami mu banggakan?. Apa kau yakin dia lebih baik dari pada aku? Melihat dia yang seperti ini, aku ikut bersyukur karena Kinan tidak kelaparan karena menikah dengan mu" kalimat di tujukan kepada Dirga.
"Tutup mulutmu!" Dirga maju beberapa langkah untuk menantang, congak saat menunjukkan betapa hebat dirinya.
"Aku, Dirga. Lelaki tampan, kaya, berkedudukan tinggi, punya perusahaan sendiri, pewaris tunggal, apa yang kurang?. Bahkan Untuk memberi makan dia setahun pun, aku cukup bangun dan duduk tanpa harus bekerja, aku sangat kaya. Tarik kembali kalimat lapar yang kau ucapkan!, Jangankan dia seorang, kau dengan keluarga dan warga sekampung mu pun aku sanggup menghidupi mereka, mereka tidak akan kelaparan!" Dirga memamerkan dirinya.
"Ooh jadi kau orang kaya? punya perusahaan mu sendiri?. Baguslah., Bergerak di bidang apa?" Tanya Aim kemudian.
"Perusahan ku begitu banyak, aku jelaskan pun kau mana mengerti, perusahanaan ku setiap harinya mendapatkan banyak sekali uang, dia (Menunjuk Kinan) dia tau seberapa kaya aku di kota ini, oo ia. Apa kah suami teman (kepada Kinan) mau ikut bekerja dengan ku? Aku pastikan kau akan mendapat gaji besar dan bisa membeli hoode baru untuk menutupi kepalamu"
"Sombong sekali lelaki ini." Batin Aim bergumamm.
"Tidak perlu, lagi pula aku tidak suka jadi karyawan" balas Aim.
Dirga dan Hanna tertawa geli saat Aim berkata seperti itu, tetawa ngakak mencemooh.