Oh My Boss.

Oh My Boss.
125



Aim masuk kedalam kamar dengan wajah kusut, membuka lemari baju dan mengganti pakaian dengan kesal.


"Perasaan udah pagi kenapa kuntilanak masih berkeliaran? Apa begini hantu di jaman moderen?" Dengus Aim di saat mengganti pakaiannya.


Kinan muncul dari balik pintu bergaya ciluk ba, seperti seorang ibu kepada anak balitanya.


Kinan sempat terheran dengan mimik wajah Aim yang terlihat masam, Kinan langsung mengira Aim kesal terhadapnya. Sampai saat ini Kinan belum mengetahui ada seseorang bertamu ke apartemen.


"Kamu marah?" Tanya Kinan sambil menggelayut manja memeluk Aim.


"Tidak sayang" bantah Aim, sambil mengikat dasi di lehernya.


"Sini aku bantu" Kinan meraih dasi di leher dan bantu mengikatnya, Aim pun mulai tersenyum kembali.


"Gitu dong, senyum jangan tunjukkan wajah (Kusut) itu di hadapan ku, aku ngeri melihatnya" cela Kinan, namun tetap menunjukkan wajah manis.


"Kemari lah" meraih Kinan dan mendekapnya erat, "Aku sedang kesal. Lain kali kita harus menabur kemenyan di sekitar apartemen"


"Lah?" Kinan mendongak keheranan, "Biar apa?. Apa kamu bertemu hantu di dalam rumah? Di bagian mana? Apa kita perlu mengundang kakek sakti untuk mengusirnya?" Kinan bertanya dengan riuh membuat Aim terkikik lucu.


"Apa? dia bertubuh besar, hitam, muka jelek? Berambut kusut? Baju putih? Mana yang kau lihat Mas?" Kinan bertanya dengan penasaran membuat Aim kembali tertawa.


"Kau penasaran? Pergi lihat sendiri. Muka dia saaaaangat sangaat buruk." Kinan merinding mendengarnya.


"Lihat? Dimana?" Takut tetapi penasaran.


"Di ruang tamu. Tapi sayang tidak boleh melihatnya, tetap di sini aku yang akan mengatasi dia" larang Aim sambil menuntun Kinan duduk di tempat tidur.


"Tetaplah di sini ok" pinta Aim. Ia kemudian beranjak ke ruang tamu, tetapi Kinan cukup penasaran dengan dengan hantu yang Aim maksud ini, pasalnya tidak akan ada hantu berkeliaran dan menapakkan diri se netral itu.


Kinan kemudian diam diam mengikuti Aim. Kinan melihat Aim duduk berhadapan dengan seorang perempuan, tetapi suasana mereka sangat dingin, berdesir hawa hawa kematian pada tatapan keduanya.


"Untuk apa kau datang ke kamari?" Tanya Aim dingin, keberatan.


"Aku ini istrimu, kau tidak punya alasan untuk bertanya seperti itu kepadaku" jawab Shina dengan wajah murka.


Aim tertawa samar, seakan yang di katakan Shina adalah sebuah lawakan.,


"Sejak kapan kau mau mengakui aku sebagai suami mu?. Oh, apa obat sehat mu sudah habis? Sehingga kau tampak gila seperti ini?" Aim terus tertawa penuh cemooh.


"Dalam keluarga mu aku masih istri sah mu Im" tekan Shina.


Degg...


Jantung Kinan seperti di remas mendengar kalimat (Istri) itu di sebut, Kinan gugup posisinya akan tersaingi oleh Shina.


Tetapi dengan yakin Aim menjawab, "Benar, tetapi itu hanya bagi keluargaku dan tidak dengan ku" Kinan merasa lega dibuatnya, "Setahun lebih waktu yang kita lalui, apa kau pernah menganggap ku suami? Sadarlah Sin, dan ingat bahwa kamu pernah mengtakan bahwa pernikahan kita adalah pernikahan terkutuk yang sampai mati pun tidak pernah kau inginkan."


"Itu semua karena kamu tidak pernah mau berjuang" bantah Shina.


"Aku?" Menunjuk diri kemudian tersenyum sinis, Aim saat itu juga bergegas menuju ruang pribadinya untuk mengambil beberapa kertas yang dia punya.


Lalu melemparkannya kehadapan Shina, "Berhenti bersandiwara!. Kau fikir aku tidak tau hal keji yang selama ini kau lakukan kepadaku!?" Aim berkata setengah berteriak.


Shina membacanya dengan teliti, Shina terbelalak dan baru menyadari betapa berbahayanya obat yang setiap malam ia berikan kepada Aim.


"Satu hal lagi yang harus kamu ketahui Shin, aku telah mengurus surat cerai kita berdua"


"Apa?" Shina tampak sangat terkejut, Shina menggeleng tak terima.


"Kau bebas memilih lelaki mana pun yang kau mau"


"Untuk itu kau memamerkan perempuan lain dengan Magoy Amba Mu Im?" Shina bertanya dengan mata berkaca kaca, disaat bersamaan Shina melihat bercak merah di leher Aim, Shina sungguh tersakiti, "Siapa dia Im?" Selidik Shina dengan hati hancur.


Suara seperti anak kucing tergencet, Kinan merintih kesakitan sambil mengusap'i sikutnya yang membentur handle pintu.


Aim menoleh ke sumber suara, "Sayang" Aim tampak terkejut saat melihat Kinan berdiri di sana, dengan kemungkinan bisa mendengar percakapan 70%.


Aim bergegas mendatangi Kinan, "Apa yang terjadi, mana yang sakit?" Tanyanya berturut-turut.


"Tidak begitu parah, hanya sedikit terkejut" jelas Kinan.


Shina pun ikut berdiri dengan terburu-buru lalu mendatangi Kinan dengan raut wajah tidak senang.


"Berhati hatilah lain kali" titah Aim lembut.


"Ooh, jadi dia nyonya mu sekarang Im?." menilik dengan rendah, "Tampaknya selera mu menurun Im" tersenyum cemooh., "Aku juga melihat dia cukup tidak sopan, aku datang bertamu tapi dia hanya tinggal di dalam kamar (Mencela)"


"Kalau begitu," Kinan kembali menilik Shina dari atas hingga bawah, teringat dengan perkataan Aim tentang hantu didalam apartemennya, menatap Aim kemudian, "Aku siapkan tea untuk mu" Kinan bersiap ke dapur tetapi Aim menahannya.


"Aku bantu kamu oke," menggenggam tangan Kinan, bukan hendak pamer kemesraan tetapi Aim tidak ingin Kinan diperintah oleh siapapun.


"Kalau begitu kita pergi sama sama" ajak Kinan, Aim langsung mengangguk setuju.


Mereka berdua pergi meninggalkan Shina yang berdiri di bakar api kemarahan, tak lama kemudian Shina pun menyusul Kinan dan Aim.


"Apa kita perlu menambahkan garam?" tanya Aim ketika mengaduk tea yang hendak ia suguhkan kepada Shina.


"Mm kamu menjahili orang lain, suatu saat akan ada yang menjahili mu juga" Kinan memperingatkan. Kinan memberikan cangkir gula untuk Aim tambahkan kedalam tea, Aim menerimanya sambil tertawa.


"Kamu melarang ku tapi kamu sendiri yang memberikannya," menunjuk cup garam yang baru di asongkan Kinan.


Kinan terkikik sambil meminta maaf, menukar kembali cup dengan yang seharusnya, "Aku tidak ada niat"


"Sepertinya kamu dendam padanya" gurau Aim.


Kinan melotot tak terima, "Tidak Mas, aku tidak mengenal istrimu, bagai mana aku bisa dendam?"


"Mantan istri" ralat Aim penuh tekanan., "Perempuan di sampingku lah istriku, aku tidak mengizinkan perempuan lain memakai nama (Istri) itu untukku"


"Mm tersentuhnya aku" goda Kinan sambil menyenggol Aim, Aim membelalak.


"Sayang," sebut Aim sambil menatap Kinan penuh maksud.


"Ya," Kinan menoleh panggilan dengan datar.


"Kau mulai nakal ya,"


"Nakal bagai mana?" tanya Kinan tak paham. Kinan fokus dengan buah yang sedang di cucinya.


Aim mendekat dan mulai menghimpit Kinan.


"Kau tadi menyenggol bokongku, apa itu sebuah ajakan?" tanya Aim penuh semangat.


Spontan Kinan menoleh Aim yang memeluknya erat.


"Dasar mesum" delik Kinan.


"Mau tau siapa yang paling mesum?" Kinan diam tak meng ia kan, "Dia yang dengan ganas mengigit leherku hingga memerah seperti ini," menunjuk bekasnya, wajah Kinan memerah malu saat Aim menunjukkan sisa kenakalannya, "Lihatlah! dia begitu bersemangat" goda Aim.


Kinan terlanjur malu, lantas mengusir Aim "Mas pergilah! jangan mengganggu pekerjaan ku"


Tetapi Aim belum ingin berhenti menggoda Kinan, "Aku harus memamerkan ini kepada rekan kerjaku (kesenengan)"


"Mas!"