
"Makanannya terlihat sangat sederhana tetapi ini sangat enak, aku hampir berniat nambah, tapi sepertinya perutku tidak akan muat lagi" sambil memukul mukul perutnya yang kali ini muali terasa bengah.
"Sayang ada apa?" Tanya Aim ketika melihat Kinan hanya memainkan nasi di piringnya.
Menaruh sendok lalu terdengar menghela bingung, "Mas, kamu pulang ya, jangan membuat mereka marah" ucap Kinan lirih. Nada Arman saat berbicara dengan Aim tadi masih mengganggu otak Kinan.
"Pilihannya kamu tau 'kan?"
Kinan mengangguk lemah.
Pilihan yang Aim maksud adalah pulang dan meninggalkan Kinan.
"Sampai malam ini berakhir aku tidak akan pulang dengan alasan apapun."
"Tapi orang tuamu terdengar murka, bagai mana jika dia membenci mu?"
"Seharusnya tidak akan ada orang tua yang membenci anaknya" kilah Aim.
"Tapi kamu membangkang Mas,"
"Tidak! aku hanya sedang menentukan pilihanku apa aku salah?"
"Tapi orang tua mu?"
"Besok pagi aku akan datang menemui mereka, dan kamu harus datang bersama ku ok"
"Tapi Mas?" Kinan hendak menolak namun tatapan memohon dari Aim langsung membuat Kinan luluh.
"Mereka tidak akan terkejut dengan kehadiran kamu, mereka harus belajar menghormati keputusan ku"
Kinan menghela bingung harus bagai mana menghadapi esok yang sangat berat.
Malam hari kemudian Kinan terus memikirkan bagai mana menghadapi esok. Memikirkan pakaian apa yang pantas, dan meralat tutur yang akan ia ucapkan.
Permintaan Aim membuat Kinan tidak bisa tidur nyenyak.
Keesokan harinya.
Aim dan Kinan telah bersiap untuk menemui keluarganya.
Kinan dengan segala kekhawatirannya berdiri menatap bayangannya di cermin.
Berjuta spekulasi berputar putar di otak Kinan.
"Kamu cemas sayang?" Memeluk Kinan yang sedang merenung di depan cermin.
"Aku gugup Mas, apa sebaiknya kali ini aku tidak usah ikut?."
"Sayang," membalikkan tubuh Kinan, menatap mata Kinan untuk memberi semangat dan keyakinan, "Kamu jangan takut, aku akan terus ada di samping kamu"
"Bagai mana jika aku tidak diterima di keluarga mu Mas?" Tanya Kinan, Kinan merasa kurang percaya diri untuk menghadapi orang sepenting Arman dan keluarganya. Kinan khawatir nasibnya nanti bakal seperti Kisah cinta didalam cerita rakyat yang mengisahkan kisah pilu cinta tak sampai terhalang kasta.
"Kita hanya perlu mencoba, berhasil atau tidak, tidak akan merubah apapun dari ku. Aku akan tetap untuk kamu sayang" memeluk Kinan dengan hangat, lalu mengecup kening dengan mesra, "Kamu sangat cantik hari ini sayang," pujinya, "Jangan cemas ya, cantiknya ilang loh" godanya kemudian, mengusap gemas pipi Kinan yang terlihat tegang.
"Kita berangkat sekarang ya" ajak Aim, Kinan mengangguk berat. Namun kemudian menggandeng tangan Aim dan berjalan beriringan.
Aim terus mengucapkan berbagai puji pujian, hidupnya saat ini benar benar sangat membuatnya bahagia.
Selepas membukakan pintu mobil untuk Kinan, Aim gegas masuk, tidak ingin membuat Kinan menunggu lebih lama.
Mobil pun melesat meninggalkan parkiran, sekitar satu jam kemudian telah memasuki pekarangan keluarga besar Arman.
Aim terlebih dahulu turun, membukakan pintu untuk Kinan, menggandengnya masuk kedalam rumah.
Meski sempat memundur karena ragu, berkat keyakinan Aim Kinan akhirnya masuk sambil berusaha menenangkan fikirannya yang mulai berkacau.
"Assalamu'alaikum" setelah memindai keberadaan penghuni rumah Aim memberi salam. Di dalam rumah terlihat Arman sedang duduk di kursi ruang tamu, terlihat ada beberapa orang duduk bersamanya.
Saat mendengar suara Aim, Arman langsung menoleh dengan wajah senang, namun air muka itu tiba tiba lenyap ketika melihat Kinan bersamanya.
Kinan langsung dibuat gugup dengan rona wajah Arman yang tiba tiba berubah drastis.
"Kau pulang juga Im" sambut Arman, mendelik tak suka terhadap Kinan.
"Perkenalkan ini Ayah ku" kata Aim.
Kinan mengulurkan tangannya dengan ragu untuk berkenalan, "Halo Om," sapa Kinan ramah.
"Ayah perkenalkan dia istriku, Kinan"
Dengan berat hati Arman menerima tangan Kinan, memegang dengan ujung jarinya.
"Aim!," tiba tiba suara perempuan melontar dari belakang mereka, terdengar sangat senang.
Hentakan kaki terdengar tidak sabar untuk cepat sampai ke dekat Aim, namun saat semakin dekat suara kaki itu melemah, "Kau!" Tunjuk Rania kepada Kinan. Air muka Rania pun sama sama berubah.
Di waktu ini Kinan merasa putus asa, dan takut, terlebih ketika melihat raut muka kedua orang tua Aim yang tiba tiba berubah drastis, sepertinya tak menginginkan dirinya.
Mereka begitu terkejut saat melihat Kinan datang bersama Aim.
"Kau membawa perempuan ini pulang Im?" Tanya Rania, yang langsung menusuk hati Kinan.
"Mah, perkenalkan ini Kinan istri Aim" merangkul Kinan dan mengusap bahunya.
Kinan merasakan usapan lembut itu untuk menguatkan dirinya, dan agar dirinya tenang.
Rania menilik Kinan dari atas hingga ke bawah dengan tatapan rendah.
"Mama sangat merindukan kamu sayang"
Rania tidak memperdulikan Kinan atau pun ucapan Aim saat memperkenalkan Kinan kepadanya.
Rania merangkul Aim dengan rasa rindu yang besar, namun mengacuhkan Kinan yang berdiri di samping Aim.
"Kebetulan kamu pulang Nak. Pagi ini mama kedatangan tamu, sini" menarik Aim menjauh dari Kinan, Rania memang sengaja melakukan itu kepada Kinan.
"Mah, tunggu dulu" cegah Aim, melepaskan cengkraman Rania di tangannya.
"Apa lagi Im?" Tanya Rania, seolah mengerti dengan maksud Aim untuk memeperkenalkannya kepada Kinan, hal ini Rania sangat malas untuk melakukannya.
Padahal sebelumnya Rania telah berusaha menganggap Kinan tidak ada.
Rania melayangkan tatapan malas kepada Kinan.
"Tapi ada seseorang yang penting untuk mama perkenalkan kepada mu Im" ucap Rania dingin penuh maksud.
"Kalau begitu, Mama pergilah melayani tamu Mama, kebetulan Aim sedang terburu buru mau ke kantor. Aim pamit," perkataan Aim terdengar sederhana namun Rania paham betul, ada makna mendalam dari ucapan tersebut.
Akhirnya, terpaksa Rania menoleh Kinan, Kinan gegas mengulurkan tangannya disertai senyum ramah, "Halo tante"
"Dia Kinan Mah, sekarang dia istri Aim"
Rania terlihat terkejut dengan pengakuan tersebut, walau sebenarnya Rania sendiri harusnya tidak terkejut dengan hal ini karena dia sendiri sudah tau kalau Aim telah menikahi perempuan lain, walau Rania sendiri tidak tau alasannya apa.
"Lain kali datanglah sendiri, Im" delik Rania dengan suara dingin, tak ada raut senang di wajah Rania saat menatap Kinan.
Aim tersenyum kecil, "Kalau bukan karena Kinan bersedia menemani Aim, hari ini Aim tidak mungkin datang berkunjung Mah"
Rania semakin mendelik tak suka.
Arman berjalan ke dekat mereka, seperti Rania Arman pun tampak kurang suka dengan kehadiran Kinan.
"Apa perempuan ini jelas asal usulnya Im?" bisik Arman ke telinga Aim, namun tatapannya tidak berhenti menyidik Kinan.
"Oh, mohon maaf!" Aim menarik Kinan pelan, menarik untuk mendekatkannya, "Aim lupa memperkenalkan Kinan secara rinci. Perkenalkan dia adalah Kinan binti Harimaja, dia adalah putri Harimaja, Yah"
Arman tetlihat terkejut tak percaya dengan pengakuan tersebut.
Begitu juga dengan Rania, "Harimaja?"