Oh My Boss.

Oh My Boss.
154



Kabar itu segera Aim sampaikan kepada Kinan, Namun Kinan merasa ragu untuk datang, merasa tidak pantas untuk bergabung dengan orang orang penting dan berkedudukan tinggi.


Di tempat yang berbeda.


Arman mondar mandir penuh emosi,


"Ternyata mereka bermain curang dibelakang kita!" Pekik Arman.


Rania melihat wajah kecewa dan tangis di pipi Shina.


"Mereka telah menjalin hubungan cukup lama, mungkin itu juga menjadi alasan kenapa selama ini Aim tidak pernah mau menyentuhku" suara Shina terdengar kecewa di akhir menangis tergugu. Tangis palsu yang ia rencanakan untuk menghasut keluarga Aim.


Shina melakukan ini setelah mendengar percakapan antara Aim dengan ayahnya.


Shina sudah tau kalau sang ayah mengetahui dirinya masih menjalin hubungan dengan Anton, dan sanga ayah sepenuhnya telah menyalahkannya menjadi penyebab atas kehancuran pernikahannya dengan Aim, namun Shina tidak terima dengan tuduhan itu, Shina tak terima kemarahan sanga Ayah, untuk itu Shina ingin membalas dengan mengadu domba kan Aim dengan keluarganya.


"Aku tak akan tinggal diam Im. Jika aku hancur maka kau dan Kinan pun harus ikut hancur bersama ku," Shina mengancam didalam hati.


Shina terus bersandiwara memanfaatkan simpati keluarga Aim.


Shina memanfaatkan ketidak se tujuan Arman pada pernikahan Aim dengan Kinan.


Rania mengusap lembut kepala Shina dengan sedih, air mata Rania pun ikut menitis di saat Shina menceritakan semuanya.


Shina juga menambahkan kalau "selama ini dirinya sudah lama bersabar dan kali ini berpisah pun aku sudah pasrah", kata Shina dalam pengakuannya.


Namun Arman jelas membantah keinginan Shina tersebut, Arman menegaskan akan merebut Aim kembali dari Kinan, dan akan merubah Aim seperti dahulu, mengembalikannya kembali ke pelukan Shina seperti seharusnya.


"Perempuan itu tidak berhak hidup berdampingan dengan putraku, hubungan mereka sangat tidak pantas!" Pekik Arman penuh emosi,."Dia fikir dia siapa? Dia berharap masuk kedalam keluarga ku dengan cara yang sangat tidak pantas!. Seharusnya sejak awal dia mengatakan berapa nominal yang dia inginkan, aku akan memberikan berapapun yang dia minta. Tapi jangan menghancurkan keluarga ku"


"Sayang, kamu yang sabar ya. Kamu jangan menyerah, Mama dan papa akan terus mendukung kamu" Rania mencoba menenangkan.


"Tapi Mah, melihat perempuan itu, aku sangat tidak berdaya, aku merasakan dunia ku hancur, aku bahkan tidak sanggup untuk meneruskan hidup dengan kondisi ku sekarang. Tetapi mereka berdua tidak akan pernah merasa bersalah kepadaku, Bahkan sekarang Aim mulai berani menampakkan wajah istri barunya di hadapan dunia, dia sedang menegaskan bahwa aku tidak lagi di anggap olehnya" Shina kembali menangis tergugu.


"Nak, kamu jangan khawatir! jika itu yang akan Aim lakukan, maka Mama janji, Mama yang akan berdiri paling depan untuk menetang mereka, kalau boleh Mama akan meneriaki perempuan itu di hadapan banyak orang"


"Mah, Mama tidak perlu melakukan itu, Mama juga pasti tau apa yang akan terjadi selanjutnya kalau Aim mengetahui kalau Shina memberitahukan ini kepada kalian. Shina tau Aim akan sangat murka.,"


"Nak lalu apa yang harus Mama lakukan untuk kamu?"


"Tidak ada Mah, lagi pula sekarang Shina udah tenang, gadis itu memang sangat cantik, Tidak salah kalau Aim menyukainya. Tapi Aim masih suamiku dia tidak seharusnya melakukan ini kepadaku" Adu Shina


"Nak, berhentilah mengalah kamu juga harus bahagia" pinta Rani Lirih.


"Kebajagiaan ku adalah ketika orang Aim menemukan sosok yang ia inginkan"