Oh My Boss.

Oh My Boss.
124



"Gerakannya bagai mana?. Apa dia mulai menendang?" Soal Aim. Mengusap lagi perut Kinan.


Kinan terkikik, "Tidak Mas"


"Lalu?"


"Di sini" menunjuk perutnya, "Baru ada detak jantung, kamu bisa merasakannya seperti ketukan kecil" mengetuk-etukan jarinya di lengan Aim dengan pelan dan teratur, "Aku haru bisa merasakan gerakan bayi kita seperti ini"


"Sangat pelan?" Tanya Aim dengan nada khawatir, "Apakah seperti ini baik baik saja?"


"Dia masih lemah Mas, masih kecil, gerakannya pun masih sangat pelan, dan aku rasa semuanya baik baik saja" Kinan coba melemahkan kekhawatiran Aim.


Namun Aim masih tidak yakin dengan penjelasan Kinan tersebut.


"Ada apa lagi?" Tanya Kinan, saat melihat kerutan tak percaya di wajah Aim, "Kamu tidak percaya?. Hari ini aku memiliki jadwal dengan Dokter kandungan, kalau kamu tidak yakin dengan penjelasan ku kamu bisa ikut dan dengarkan penjelasan dia. Bagai mana?"


Aim mengangguk spontan, "Yakin tidak yakin, aku tetap harus ikut dengan kamu. Karena itu kewajiban aku, pokoknya setiap kali kamu cek kandungan, kamu harus memberi tahu aku" mencolek pucuk hidung Kinan.


"Baiklah" mengangguk malas.


"Ihh, jawaban kamu ini loh, nggak ikhlas banget" protes Aim.


"Kalau begitu baik Kapten" bersikap seperti Seorang Letnan ketika mendapat titah dari atasannya nya (Bersikap hormat).


Memberi sikap hormat cukup menggemaskan membuat Aim terkikik, "Apa apaan sih?" Masih dengan terkikik.


"Siap menerima perintah" dengan nada tegas, dan sikap hormat.


Aim mendelik jahil, "Baiklah, aku perintahkan kau kembali ke tempat tidur!" Sambil memberikan tatapan penuh gai**h.


"Ah?" Kinan terkejut atas perintah itu, menilik sekitar yang terlihat sudah sangat cerah (Bukan saat nya untuk kembali ke tempat tidur) Kinan mencium kenakalan dalam perintah ini, Kinan lantas lari menghindari Aim, "Tidaaaak" tertawa sambil bergegas lari.


"Hei, kau tidak bisa menolak perintah suami mu!" ikut berlari mengejar Kinan. Hingga mereka berkejar-kejaranan seperti anak kecil di selingi tawa bahagia dari keduanya, "Kembali kau!" Teriak Aim kemudian.


"Kejar aku kalau bisa," kata Kinan berikutnya.


Mereka terus berlarian, hingga akhirnya Aim mendapatkan Kinan.


"Mau lari kemana lagi kau istri nakal?" Mencekal Kinan dan hampir menggendongnya ke tempat tidur, tetapi, Tangan jahil Kinan menarik handuk yang melilit di pinggang Aim. Hingga meluncur dan terbuka auratnya.


Kinan berteriak, pura pura terkejut. Menutupi mata dengan kedua tangannya, "Apa itu?" Tanya Kinan, sambil terkikik kemudian berlari.


"Kembali kau istri nakal!" Teriak Aim sambil membenahi handuk yang sempat Kinan lucurkan tadi.


"Suami ku mesum, suami mesum(mengata-ngatai)"


"Awas, kau tidak akan bisa kabur lagi!" Berlari lagi untuk mengejar Kinan.


Memeluk Kinan dari belakang dan menguncinya, "Mau lari kemana lagi kau nakal?"


"Aduh Mas, perut ku sakit" rintih Kinan, Aim terkejut dan segera memeriksanya,.


"Sakit di bagian mana?. Apa di sini?" Aim berjongkok dan mengusapnya dengan panik, "Kita ke Rs sekarang" ajak Aim sambil terus mengusap perut Kinan, "Lain kali kamu jangan berlarian. Aku melarang mu"


Aim mendongak ketika mendengar kiki kan istrinya.


"Kau membihongi ku?" Tanya Aim, dengan muka kesal.


"Tidak! Aku hanya.. senang melihatmu seperti ini"


Aim langsung berdiri dan memeluk Kinan, "Lain kali jangan lakukan ini ya! aku tidak mau." Lirih Aim berbisik di telinga Kinan sambil mengusap kepalanya, "Jangan membuat lelucon dengan kondisi perutmu, aku sungguh panik ketika mendengarnya" imbuh Aim.


"Aku minta maaf Mas, aku tidak tau" balas Kinan.


"Aku maafkan asal lain kali jangan di ulangi"


"Baik"


"Tapi kau harus menebus kesalahan mu" tunjuk Aim pada bibirnya, "Atau aku tidak akan memaafkan mu"


Tanpa bantahan apapun Kinan menurutinya.


"Kamu tau janin ini bukan anak mu Mas, tapi kau sungguh menjadikan dia seperti Pangeran. Kau sungguh mempesona, kau menjadikan kami segalanya dalam hidupmu, terima kasih tuhan atas lelaki yang kau kirimkan kepadaku" berkata dalam batin sambil menatap penuh kasih dan kekaguman.


Kinan kemudian berbisik, "Dan, lain kali perbaiki handuk mu (Menggoda)"


Aim lantas melihat handuknya, tidak ada masalah. Aim sadar Kinan telah mengecohnya, hendak menghukum kembali Kinan malah sudah pergi.


"Kinan" panggil Aim dengan nada kesal dan manja, Aim berniat mengikutinya ke dalam kamar namun tiba tiba sebuah suara memanggil.


"Im" suara itu membuat Aim terkejut.


Samar samar ekor mata Aim melihat seseorang berdiri di belakang pintu, Aim ragu ragu untuk memperjelasnya. Satu nama telah terangkum di fikiran Aim.


"Kenapa Im?, Kau tampak terkejut" ucapnya.


Seseorang yang di fikirkan Aim adalah Shina, dan itu benar.


Aim terkejut bukan kepalang.


"Dari mana kau tau pin kamarku?" Tanya Aim dengan wajah dan suara dingin.


Shina tak memperdulikan pertanyaan Aim, berjalan datar menuju kursi, meletakkan tasnya kemudian duduk dengan angkuh.


Ternyata Shina mendapatkan pin itu dari Rania yang memintanya dari Guna langsung,


"Berpakaian lah yang benar Im, aku muak melihat tubuhmu"


"Aku tak sudi tubuhku dibuat murah dengan tatapan mu" penuh tekanan.


Aim melengos ke kamar sementara Shina membuang muka.


"Apa yang akan perempuan gila itu lakukan di sini?" mendesis emosi.