
Kinan kembali menghentikan ucapan Aim, "Bos tenang! aku baik baik saja" Kinan tersenyum meyakinkan Aim dan Aim tidak berkata lagi, "Asal Bos memperlakukan aku seperti karyawan biasa aku akan baik baik saja, ok"
Aim hendak menjelaskan tapi sulit mengatakan tujuannya (Tujuan bersikap berlebihan).
"Oh ia Kenapa Bos datang kemari? Sudah malam apa tidak sebaiknya kembali?" Tanya Kinan masih dengan tangan menahan pintu.
"Aku lupa memberikan ini" Aim merogoh saku, mengeluarkan obat lalu memberikannya kepada Kinan, "Minum setiap pagi sebelum makan. Habiskan," tangan Aim mengambang menunggu Kinan menerima obat darinya.
Kinan memerhati obat ditangan Aim.
Berbagai pertanyaan pun menggunung dibenak Kinan, setelah pemeriksaan demi pemeriksaan yang telah dilakukan dan sekarang masih perlu mengonsumsi obat
Kinan tidak tau apa penyakit yang dialaminya saat ini dan separah apa? Kenapa begitu banyak yang dilakukan, bukankah sampai saat ini Kinan tidak merasakan nyeri apapun.
"Obat apa ini Bos?" Kinan enggan menerimanya, Kinan sungguh bingung.
"Ini hanya obat maag Nan,"
Kinan menerimanya, dan sempat memerhati obat yang sedikit pun tidak mirip dengan obat maag yang sering ia konsumsi.
"Kenapa kandungannya sedikit berbeda?" Tanya Kinan setelah membaca kandungan dalam obat tersebut.
"Oh itu, mungkin karena kita membelinya ditempat yang berbeda. Nan, kamu tidak bisa terus terusan mengonsumsi obat itu, kamu harus menghentikan ketergantungan, dan obat ini sedikit bisa membantu" Aim berkata sembarangan saja karena memang Surya juga tidak memberinya penjelasan apapun mengenai obat tersebut.
Kinan mengangguk mengerti.
Sebelumnya..
Saat hendak membelikan obat untuk Kinan Aim sempat bertanya dahulu kepada Surya.
"Ya," Panggil Aim, Surya menoleh, "Kebetulan kamu masih disini" Aim segera mensejajarkan langkahnya dengan Surya.
"Apa lagi?" Surya terlihat masih gonok pada sahabatnya itu.
"Kamu bisa saranin obat maag yang baik? Sebagai Dokter pasti kamu banyak tau hal semacam ini,"
"Antasid, penisilin, mungkin bisa membantu" -Surya.
Aim mengangguk memahami, "Apa obat ini aman untuk Kinan?"
"Ya, jika dikonsumsi sesuai aturan Dokter pasti aman lah," -Surya.
Aim mengangguk lagi, "Kalau begitu aku pergi sekarang juga" Aim bergegas menunju mobilnya.
Surya ingat Kinan sedang berada difase awal kehamilan, sakit maag yang Aim maksud bisa saja reaksi dari kehamilannya.
"Im" panggil Surya, Aim segera berhenti lalu berbalik.
Surya terlihat menulis, menyobek kertas tulisannya lalu memberikannya kepada Aim.
"Kamu beli ini saja, aku yakin obat ini lebih cocok untuk Kinan, satu butir tiap pagi sebelum sarapan, kalau sudah habis kamu harus membelikannya lagi, ingat! minum dengan teratur" Aim menerima lalu membacanya, tanpa fikir panjang lagi Aim bergegas meninggalkan Surya, Surya pun menambah langkahnya tak ingin membuat Dokter psikolog menunggunya (didalam mobil) lebih lama lagi.
..
"Ooh.." Kinan menganggu'kan kepalanya seakan mengerti.
"Terima kasih," -Kinan.
"Dan ini belanjaan mu" Aim memberikan tas yang sejak tadi dijinjingnya.
"Terima kasih" -Kinan, "Tidak ada apa apa lagi'kan Bos?. Bukan ingin mengusir tapi ini sudah malam, tidak baik terus berada disini takut jadi gunjingan tetangga" Kinan meringis khawatir saat Aim masih berdiri didepannya.
Sebenarnya sejak tadi Kinan sudah merasa risih.
"Boleh duduk sebentar Nan?"
Aim terlihat meringis kesakitan kakinya tampak gemetar saat menopang tubuhnya beberapa detik kemudian Aim duduk ambruk,
"Bos, Bos, Bos" Kinan dibuat panik, segera menghampiri Aim, membantu Aim membenahi dirinya, bersandar dan merebahkan kakinya yang keram.
Aim tertawa samar, "Aku tidak pernah berjalan sejauh tadi, wajar jika kakiku keram, kamu tidak usah khawatir semuanya baik baik saja"
Kinan akhirnya bingung harus melakukan apa.
"Bos, jangan teriak" Mendengar jeritann Aim Kinan dibuat gelisah tak karuan.
"Apa Bos benar benar tidak pernah berjalan sejauh itu?" Tanya Kinan merasa bersalah, Aim pum menggeleng.
"Aku minta maaf, aku harusnya tidak membiarkan Bos melakukan itu, aku minta maaf aku minta maaf"
"Sudah tidak apa apa"
"Bos harusnya tidak melakukan ini, Bos pasti udah tau'kan kalau perjalanannya jauh"
Aim mengangguk, "Ia aku memang tau, untuk itu aku tidak bisa membiarkanmu berjalan sendirian, terlalu berbahaya, aku tidak bisa melihat kamu berjalan sementara kamu menolak untuk memakai mobil, dan aku tau aku tidak pernah berjalan sejauh itu tapi karena kamu bersikeras akhirnya mau tak mau aku juga ikut berjalan"
"Bos, kenapa harus lakuin ini?" Kinan merasa bersalah.
"Kinan, kapan kamu akan ngerti kekhawatiran aku," gumam Aim dalam hatinya.
"Akhir akhir ini sering terdengar kasus penjahat perempuan, terlebih diwaktu malam, dan aku sebagai lelaki yang dilahirkan dari seorang perempuan diajarkan untuk melindungi perempuan dalam hal apapun. Dan kamu Nan, kamu juga perempuan aku sedang mencoba menjadi pelindung walau pun satu dari begitu banyak perempuan di dunia ini" -Aim.
"Jika ada seribu lelaki sepertimu (pelindung perempuan), maka tidak akan ada kekerasan dan penganiayaan terhadap perempuan?" -Kinan.
Lagi lagi Aim mengangguk, "Aku senang kamu ngerti Nan" -Aim.
"Apa masih sakit?" Kinan meraba bagian kaki Aim yang keram, kebetulan Aim juga sudah mengulurkan tangan untuk menyentuh bagian yang sakit, tidak sengaja Kinan malah menyentuh tangan Aim.
"Oh, Maaf bos" Kinan menampakkan semu bersalah diwajahnya. Sesegera mungkin menarik kembali tangannya.
"Tidak apa apa Nan, kepada Bos mu sendiri kamu tidak perlu sesegan itu" Aim kembali meringis membuat Kinan kembali menurunkan tangannya ke kaki Aim.
"Sepertinya ini akan sedikit lama"
Aim mengurut urut kakinya pelan.
"Apa perlu aku panggilkan Dokter?" tanya Kinan antusias sambil memijit pelan kaki Aim.
"Tidak usah Nan, ini tidak terlalu parah. Istirahat sebentar pasti bisa membaik," -Aim.
"Tapi..."
Kinan merasakan dingin menyeruak dan mulai menusuk kulit.
Melihat Kinan mengusap tangannya yang menggigil Aim segera meminta Kinan masuk kedalam rumah, tapi Kinan merasa tidak enak meninggalkan Aim sendirian.
"Bos, kenapa tidak panggil Guna?. Suruh dia menjemput kemari"
Kinan sungguh mengkhawtirkan Aim.
Aim merogoh handphone dari saku celananya.
"Boleh minta tolong?" Aim menyerahkan handphone yang kehabisan daya kepada Kinan.
Kinan segera masuk untuk mengisi daya tetapi tak ada kabel yang cocok dengan handphone bermerek milik Aim.
Kinan pun kembali.
"Maaf Bos, sepertinya tidak sama"
"Kalau begitu kamu masuk lah saja, disini dingin nanti kamu masuk angin" -Aim.
"Tapi Bos bagai mana? apa ada seseorang yang akan segera menjemput?" -Kinan.
Aim menggeleng, "Karena handphone telah habis baterai aku jadi tidak bisa menghubungi siapapun" Aim kemudian mencoba bangkit tapi kakinya benar benar sulit digerakkan, "Aku jalan aja Nan," Sekilas menoleh pergelanga "Semoga saja masih ada taxi" Aim terus berusaha berdiri, akhirnya setelah beberapa kali ambruk Aim berhasil menegakkan kakinya itu pun dengan bantuan Kinan.
Aim mulai melangkah tapi tangan tak bisa lepas dari bahu Kinan.
Sempat mencoba lepas tapi kaki yang tak sanggup melangkah malah membuatnya jatuh kepelukan Kinan.
Kinan pun dibuat bingung antara harus menahan atau membiarkan Aim pergi.