
Suasana hening sesaat.
Mereka hanya saling melirik penuh ketidak percayaan, bagai mana mungkin sebuah pengakuan keluar dari mulut Bos mereka kepada bawahan yang bekerja sebagai karyawan biasa.
Kinan menatap Aim dengan keterkejutan dan penuh tanya.
"Apa kalian puas?"
Tak ada yang berani berkata kata.
Aim menoleh kepada Kinan yang masih menatapnya bingung, "Sekarang pun aku akan menikahi Kinan"
Semua orang semakin tersentak, bingung harus bagai mana menanggapinya, harus percaya atau tidak.
"Apa kalian sudah bisa berhenti mengolok olok Kinan?"
Memindai sekeliling, menatap semua karyawan yang telah melemparkan perkataan buruk kepada Kinan, kali ini mereka menunduk takut.
"Dan membuat Kinan tertekan?"
"Bos, Bos berkata begini tidak akan menghentikan ucapan buruk semua orang kepadaku. Bisakah berhenti bercanda, ini sungguh tidak akan ada gunanya" ucap Kinan dengan mata berkaca kaca.
"Kenapa Nan? Kamu kira aku becanda?" Aim menatap dengan penuh keseriusan.
Kinan menggeleng.
"Akan aku buktikan kalau aku serius," Aim lalu menarik tangan Kinan, "Mor kamu ikut kita!" Sekilas menoleh, melayangkan tatapan tidak ingin dibantah kepada Amora.p
Tanpa fikir panjang, Amor lantas mengikuti kemana Aim akan membawa Kinan.
Amira dan orang orang menatap kepergian mereka bertiga, saling berfikir apa yang akan dilakukan Aim terhadap Kinan.
Benarkah Aim akan menikahi Kinan?. Terdengar seperti ucapan kosong.
Sebelum masuk kedalam mobil, Aim sempat terdengar menghubungi Guna.
Katanya,
"Gun tolong siapkan beberapa saksi, kita bertemu di KUA"
Kinan dan Amora mengernyit dalam dalam.
"Masuklah Nan" Aim bantu membuka pintu mobil.
Sebenarnya Kinan sangat bingung dan ingin mempertanyakan maksud ucapan Aim barusan, namun sekarang Kinan masih menganggap perkataan itu bukan untuk dirinya.
Selama perjalanan ke KUA suasana yang ada hanya hening, mereka bergelut dengan fikiran dan pertanyaan mereka masing masing. Kinan maupun Amora hanya sesekali menoleh penuh pertanyaan dan keragu-raguan.
Pertanyaan dan keragu-raguan itu hilang saat Aim memarkirkan mobilnya dihalaman KUA.
Aim terlebih dahulu keluar, mendatangi Guna yang kebetulan saling mengekor.
Guna dan satu mobil lain dibelakang.
Aim dan Guna terlihat berbincang.
Seperti yang Aim minta, Guna membawa beberapa orang terhitung sepuluh orang lelaki bersama Guna.
"Nan,"
Amor masih belum paham dengan situasi yang akan terjadi.
Kinan menggeleng. Dia tau Amor akan bertanya apa yang akan dilakukannya ditempat ini. Namun, Kinan sendiri benar benar tidak tau.
"Aku rasa Aim benar benar akan menikahi mu" ucap Amor, meski tak yakin.
Kinan kembali menggeleng, "Aku tidak yakin Mor, tapi..." Kinan tak terus berkata. Menoleh ketempat Aim berdiri dan berbincang dengan beberapa orang disana.
"Kita disini ngapain?"
Amor dan Kinan saling menatap.
"Apa mungkin jadi saksi?" Amora mengernyit.
"Saksi apaan?"
Belum juga Amor menjawab pertanyaan Kinan, Aim keburu masuk dan menghentikan percakapan mereka.
"Kamu siap 'kan Nan?"
Ucap Aim, membuat Amor langsung menatap Kinan.
Seperti menandai jawaban dari pertanyaan mereka berdua.
Kinan kaku saat mendengar perkataan itu, "Si .. siap untuk apa?"
Sebenarnya Kinan sudah memiliki jawaban dari pertanyaannya sendiri, namun Kinan masih merasa tidak yakin.
"Kamu akan tau saat masuk nanti. Kita keluar sekarang, orang orang telah menunggu kita"
Aim terlebih dahulu keluar, membukakan pintu untuk Kinan.
Kinan dan Amora pun keluar, setelah saling menatap penuh tanya.
Sebagai penuntun Aim berjalan didepan, dibelakangnya ada Kinan dan Guna juga Amora serta saksi yang ia minta.
Berkali kali Kinan menatap Guna, ada hal yang ingin ia tanyakan mengenai tempat yang ia datangi ini.
Saat telah memasuki ruang Aula, seorang lelaki menyambut dengan melemparkan pertanyaan.
"Mana yang akan dinikahkan?"
Kinan dan Amora kembali saling melirik.
"Kami," ucap Aim sambil menarik Kinan yang berdiri dibelakangnya.
Seketika Kinan membeku, melotot tidak percaya.
"Bos, ini tidak lucu. Lelucon mu berlebihan, sebelumnya aku tidak pernah mendengar ada orang yang berani mempermainkan pernikahan kecuali kamu" kata Kinan setengah berbisik.
"Apa aku terlihat sedang bermain main Nan?" Aim menoleh dengan tatapan serius, "Aku benar benar akan menikahi mu Nan"
Aim berbalik, menggenggam jemari Kinan penuh keyakinan, sorot mata yang kental dengan keseriusan, Aim berkata "Maukah kamu menikah dengan ku Nan?"
Seperti sebuah Mimpi, antara sadar dan tidak, Kinan mendengar kalimat itu terucap dari mulut lelaki yang selama ini Kinan kagumi namun ia segani juga.
Kinan tidak pernah menduga ini akan terjadi tanpa rencana.
Kinan lalu menarik Aim ketempat yang lenggang.
"Bos apa apaan ini?" -Kinan.
"Apa lagi yang ingin kamu dengar Nan? aku akan menikahi kamu sekarang juga, apa itu kurang jelas?" -Aim.
"Lelucon," Kinan menggeleng dan meremas rambutnya sembarang.
"Kamu terus mengatakan ini lelucon, apa aku pernah mengatakan ini kesemua perempuan? begitu lelucon Nan. Aku ingin menikahi kamu, aku ingin menjaga kamu, dan menjaga anak yang kamu kandung, apa ini terdengar seperti lelucon?" -Aim.
"Ya," potong Kinan sedikit meninggikan suaranya.
Aim diam.
"Lelucon seorang lelaki yang sudah menikahi perempuan lain (Shina), dan sekarang dia mengatakan akan menikahi perempuan berbeda (Kinan) disaat dia (Shina) masih bersetatus istri sahnya, apa ini tidak terdengar seperti lelucon? kau sudah menikah, kau pria beristri. Aku dan anankku membutuhkan sosok lelaki yang bisa aku andalkan, tapi tidak berarti aku harus merebut suami orang lain, aku tidak mau menikah denganmu Bos" -Kinan.
"Kalau aku berpisah (Berserai) berarti kamu mau menikah denganku?" -Aim.
"Bodoh," Kinan berkata sambil menoleh kesisi lain, tidak sanggup menatap mata Aim.
"Kau tak bisa melakukan segala hal hanya karena kamu ingin melakukannya, apalagi menikah dan bercerai"
"Kamu harus menjawabnya Nan," -Aim.
Kinan tidak menjawab.
"Diam mu aku anggap jawaban"
Kinan tidak berucap, Kinan dibuat marah dengan tindakan yang Aim ambil.
"Aku katakan kalau sekarang aku bukan suami dia (Shina) lagi"
Kinan seketika menatap Aim dengan sejuta perasaan yang tidak bisa ia ungkapkan dengan jelas, kesal, marah, tidak percaya membuih dikepalanya.
"Maukah kamu menikah dengan ku Nan?" Aim kembali menggenggam tangan Kinan.
Kinan melepaskan genggaman Aim dengan kasar "Aku tidak bisa" melengos pergi meninggalkan Aim.
"Nan, Kinan" panggil Aim. Kinan tak menggubris .
Aim terpaku, hanya bisa menatap kepergian Kinan dengan tatapan kosong dan hampa.
Aim payah dalam mengungkapkan keinginannya hidup bersama Kinan.
"Tunggu"
Guna muncul dari balik tiang.
Kinan menghentikan langkahnya.
"Aku akan menjelaskan sesuatu. Barangkali setelah mendengar ini kamu bisa berubah fikiran" -Guna.
Kinan menoleh, Guna telah berdiri dibelakangnya.
"Apa yang ingin kamu katakan?" -Kinan.
Guna mengajak Kinan berbicara ditempat hening, sebelum itu meminta izin kepada Aim agar menyerahkan urusan ini kepadanya lewat isyarat mata.
"Apa yang ingin kamu jelaskan?" -Kinan.
"Aku, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan kepadamu," -Guna.
"Apa kamu ingin memperjelas status Shina?" Kinan langsung angkat bicara.
Guna mengangguk kecil.
Kinan tertawa samar "Kamu tidak perlu mengatakan apapun, semuanya sudah jelas, lagipula semua orang tau kalau Aim adalah suami Shina, kabar itu menyebar luas" -Kinan.
"Kamu benar, tapi ada satu hal yang tidak banyak orang tau" -Guna.
"Tentang apa?" -Kinan.
"Tentang status Aim dan Shina".
Kinan mengerutkan dahinya, penasaran.
"Apa yang tidak orang ketahui dengan hubungan mereka?" Tanya Kinan semakin penasaran.
Guna lalu menyerahkan handphonenya kepada Kinan,
"Setelah melihat ini, aku harap kamu akan mengerti dan berubah fikiran, Kinan. Apalagi yang kamu tunggu? Lagi pula aku tau selama ini kamu diam diam menyukai Bos ku"
"So' tau kamu"
"Bacalah dengan teliti, dan cepat tentukkan keputusan kamu, yang perlu kamu ingat adalah anak yang kamu kandung, dia memerlukan seorang Ayah yang bisa menanggung hidupnya kedepan" -Guna.
Kinan menilik beberapa hal yang Guna tunjukkan.
Sambil itu Guna menceritakan tentang biduk rumah tangga Aim bersama Shina.
Mengatakan bahwa, "Selama ini mereka tidak pernah hidup seatap, karena pemikiran keduanya selalu bertentangan, selain itu Aim tidak bisa mengampuni Shina yang masih memiliki hubungan dengan lelaki lain.
Selama ini Shina selalu berusaha lepas dari pernikahannya dengan Aim. Shina menantang Aim dengan membawa lelaki lain kedalam rumahnya.
Akhir akhir ini mereka sering terlihat bersama dan tiga hari ini Shina sedang menikmati liburan bersama seorang lelaki yang Shina cintai, Shina tidak pernah memikirkan perasaan Aim. Dahulu, setiap malam saat Aim kembali kekediaman Shina, dia akan mencampurkan sesuatu pada minuman atau makanan yang Aim konsumsi, sesuatu yang bisa membuat Aim tidak bisa merasakan hasratnya sendiri" -Guna.
Kinan tampak terkejut.
"Dari mana kau tau itu?" -Kinan.
"Tulisan yang kau lihat sekarang adalah hasil yang kita dapat dari susu yang diberikan Shina kepada Aim. Aim diam diam membawanya ke lab"