
"Baru kamu loh Nan Karyawan yang begitu tidak hormat sama atasan, udah pegang pegang sembarangan ngebalur balsem sembarangan, dan sekarang ekspresi wajah kamu ini loh, kalau di kantor udah aku pecat kamu ini Nan"
Kinan langsung takut.
"Saya minta maaf Bos" Kinan merengkuh dan menundukkan kepala.
"Dan minta maafnya nggak ikhlas" imbuh Aim.
Kinan mencerca dalam batin, "Ini orang maunya bagai mana sih? Apa perlu aku jitak sampe botak, ngeselin banget, udah bikin kegaduhan di hidup aku, bawa masalah dan seenaknya pula. Hidup Bos emang bebas" Diakhiri dengan gelengan kesal.
Handphone kembali memunculkan notifikasi pesan grup, Kinan menolehnya sekilas, itu adalah grup edan yang sedang mengatainya pelakor, penjilat, perempuan suka mencari perhatian dan sebaginya.
Kinan belum berhenti menggerutu "Bukannya bilang terima kasih malah bilang tidak hormat, hadeeehh, nggak Bos nggak karyawannya semua bikin sesek"
Kejadian di kantor tadi masih jadi perbincangan hangat di media grup chat.
"Saya minta maaf yang sedalam dalamnya Bos," Ucap Kinan lebih santun.
"Nah, cara minta maaf yang seperti ini yang Bos suka"
.
"Kamu yang menginginkan ini Nan, kamu mau aku mensejajarkan kamu dengan karyawan lain. Baik, akan aku kabulkan. Mulai sekarang hingga kedepannya aku dan kamu kita adalah atasan dan karyawan" batin Aim berkata-kata.
"Nan, handphone kamu dari tadi bunyi apa kamu tidak mau liat?" Tanya Aim penasaran, tapi Kinan tidak peduli ia malah nyelonong keluar untuk mencuci tangannya.
Saat Kinan diluar Aim menyempatkan diri untuk melihat. Sungguh penasaran kira kira apa saja aktivitas perempuan ini, fikirnya.
Yang pertama Aim buka adalah aplikasi chat, tidak ada chat yang berjalan hanya ada notif grup masuk saling bergantian.
Aim terfokus pada pembahasan didalam grup itu 'Bos, dan penjilat' adalah kalimat yang sering mereka tulis. Tampaknya mereka sangat menyenangi pembahasan ini.
Aim mengernyit penuh tanya 'Bos' yang mereka maksud itu siapa?.
Setelah ditelusuri lebih jauh ternyata yang mereka maksudkan adalah dirinya dan Kinan, mereka semua mengira Kinan sengaja mendekati dan mencari perhatian Bosnya.
"Oh pantas saja Kinan tiba tiba berubah ternyata ini penyebabnya"
Aim pun sadar ternyata sikap yang dia tunjukkan kepada Kinan telah membuat kesalah pahaman, bukan hanya Kinan tapi semua orang yang ada di sekeliling Kinan, maka pantas jika Kinan merasa risih.
"Bos" Kinan tiba tiba muncul dipintu nembuat Aim mengerejap kaget.
"Kamu ngagetin aja Nan" handphone Kinan dikbalikannya seperti semula.
"Ngapain?" Selidik Kinan.
"Akh nggak cuma lagi nyari baju Nan, kamu ada baju yang udah nggak kepake nggak?"
Kinan berjalan perlahan sambil menatap Aim penuh fikir, "Kok ada orang nyari baju buka handphone bukan buka lemari, emang sih jaman sekarang segala online tapi baju aku nggak ada disana orang aneh" Kinan berkata dalam hati.
"Buat apa?" -Kinan
"Buat ganti" -Aim
"Lah emang baju Bos kenapa?"-Kinan
Aim mengendus bajunya dan meringis, "Sedikit mengandung aroma ikan Nan" setelah mencium bajunya Aim tiba tiba ingin muntah.
Kinan lalu beranjak mencari pakaian, pilihannya jatuh pada baju baru yang belum sekalipun ia pakai. Kinan sangat menyayangi baju tersebut tapi enggak mungkin juga kalau Aim diberi baju bekas pakai kepada Aim.
Kinan menyerahkan bajunya dengan berat.
"Kamu nggak rela ya?" Tanya Aim saat dia dan Kinan saling tarik menarik baju, "Udah, kamu tenang aja Nan" ucap Aim sambil melepas satu persatu kancing kemejanya didepan Kinan.
"Ekh mau apa?" Kinan terkejut
"Sebagai gantinya," Aim melepas bajunya membuat Kinan semakin terkejut dan spontan menutup matanya.
"Apanya yang mesum?!"Aim ikut berteriak karena Kinan meneriakinya.
"Kenapa buka bajunya harus disini sih?" imbuh Kinan.
"Kalau bukan di sini lalu dimana dong?" Aim memindai sekeliling, tidak ada skat apalagi ruang lain ditempat ini.
"Ia tapi nggak harus buka baju didepan aku juga 'kan?"
"Aku tau, fikiran kamu mulai nggak sehat ya Nan" melempar Kinan dengan kemeja yang baru dilepas dari tubuhnya, "Baju itu bisa kamu jual dan uangnya kamu belikan lagi, dengan menjual ini kamu bisa dapat berlusin lusin baju seperti ini"
"Sombong" cecah Kinan dalam hati, "Situ bebas beli lalu buang baju baju mahal, bermerek yang bisa terbuat dari satin, songket dari sutra bahkan dari emas sekalipun, situ'kan orang kaya, lah ia orang seperti aku mana mampu, dapet baju obralan juga udah sukur banget, tapi nggak harus sombong gitu juga kali" mendelik.
Kinan yang duduk membelakangi Aim mendengar kerasak keresek.
"Ini baju baru ya?" Aim sedang membuka baju baru yang diberikan Kinan, tapi dari suaranya ia terdengar keberatan, "Belum cuci?"
"Belum" jawab Kinan tanpa membalikkan badannya.
"Kalau gitu aku minta yang lain," baju yang belum keluar dari plastiknya itu Aim lemparkan ke ujung kakinya atau tepat kebelakang Kinan.
"Ada apa dengan bajunya" Kinan mendelik malas.
"Kotor, kamu belum tau'kan itu baju udah dicuci atau belum? Cepat beri aku baju yang baru"
Heeehhhh...
Kinan benar benar gondok dibuatnya, Aim memang bosnya dan tapi sudah sangat keterlaluan, apa ini balasan atas permintaanya tadi?.
Kinan masih belum beranjak untuk mencari baju yang Aim minta.
"Nan aku kedinginan loh" ucap Aim sambil menggosokan telapak tangannya.
Kinan mau tak mau akhirnya harus beranjak mencari baju yang cocok dengan Aim, sesuai dengan yang diinginkannya.
Kinan berulang kali mengukurkan baju yang dibawanya dengan tubuh Aim, telah berulangkali membandingkan tapi masih belum ada yang pas karena memang lebar dan tinggi tubuhnya dengan Aim sangat berbeda.
"Sampai kapan kamu mau bolak balik lemari dan tempat tidur Nan? Apa tidak lelah?" Tanya Aim saat melihat Kinan mondar mandir layaknya setrikaan.
"Aku masih nyari yang pas Bos" ini baju ke 10 yang dia punya, tapi ukurannya masih tidak seperti yang dia inginkan, selalu kekecilan.
"Apa sudah ada?" -Aim,
Kinan menggeleng tak tau harus bagai mana lagi.
Aim menatap Kinan dan menyelidik pakaian yang di pakainya.
"Sepertinya yang kamu pakai cukup besar, sepertinya bakalan pas ditubuhku.," Aim menunjuk "Lepas sekarang!"
Spontan Kinan mendekap tubuhnya, memberi perlindungan.
Kinan masih mendekap tubuhnya," Mesum, apa yang mau kau lakukan?" siaga.
Perilaku Kinan membuat Aim tak bisa menahan diri untuk tidak tertawa, "Haha. Apa lagi yang kamu fikirkan Nan? apa kamu tidak dengar apa yang aku bilang tadi? aku minta baju yang kamu pakai bukan sedang menyuruh kamu telanjang didepan aku, kan kamu bisa bukanya di kamar mandi, gimana sih?" Aim masih tertawa, "Eror kamu ya Nan?"
"Tapi Bos, ini.." Kinan merasa tidak nyaman kalau harus memberikan baju yang dipakainya kepada Aim.
"Sudah, jangan banyak bantah! bukankah sama atasan harus nurut? cepat lakukan" lagi lagi Kinan mendelik.
Yang eror situ bukan aku.
Batinnya kesal.
Tanpa mengatakan apa apa lagi, Kinan segera mengambil pakaian ganti dan keluar mencari tempat untuk mengganti pakaiannya.